Deretan toko barang antik di Jalan Patmosusastro, Surabaya, masih bertahan di tengah gempuran modernitas. Meski sempat terdampak kebakaran di kawasan tersebut beberapa tahun lalu, aktivitas jual beli barang lawas hingga kini tetap berjalan, meski tidak seramai dulu.
Di dalam toko, berbagai koleksi benda antik tertata padat. Di atas meja kaca, berjajar perangkat minum teh dari porselen putih bersih dengan aksen teal pada tutup tekonya, dikelilingi oleh guci-guci dan keramik berwarna krem dengan lukisan tangan motif bunga mawar biru dan oranye.
Bergeser sedikit, dapat ditemui pula miniatur becak mini dengan detail pedal lampu depan, hingga kursi penumpang dengan atap penutup. Ada pula radio hitam model lama dengan antena panjang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak jauh dari sana, terdapat pajangan figur seperti bangau dan sepasang patung yang menggambarkan penari tradisional perempuan dengan pakaian adat yang mendetail, lengkap dengan mahkota dan kain yang menjuntai.
Sementara itu di sudut lain, sebuah jam dinding raksasa menjadi pusat perhatian. Lingkaran jam tersebut dibalut bingkai kayu jati ukir yang gelap, membingkai lempeng hitam dengan ukiran kaligrafi Arab berwarna emas mengkilap yang masih berfungsi presisi.
Nuansa mekanik masa lalu juga terpampang nyata lewat deretan kamera saku analog merek Fujifilm mulai dari seri Cometa hingga ZO, dengan warna hitam dan krem yang dulu kerap diburu.
Melangkah lebih dalam, sebuah mesin serut es manual berbahan besi cor hijau tua berdiri kokoh dengan roda penggerak besar yang tampak eksentrik di antara koleksi patung gajah porselen biru tua.
Bahkan bagian langit-langit toko pun tak mau kalah menawan, menjadi tempat bergantungnya berbagai jenis lampu lawas, mulai dari strongkeng atau lampu petromaks besi yang menghitam. Benda ini berjasa pada tahun 1970-an dan bergantung pada minyak tanah.
Toko Barang Antik di Jalan Patmosusastro Surabaya Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim |
Aldy, salah satu pengelola toko yang telah sepuluh tahun berkecimpung di dunia ini, mengungkapkan bahwa bisnis tersebut merupakan perpaduan antara warisan keluarga dan kegemaran pribadi.
"Ini usaha turun-temurun, tapi dibilang hobi juga iya," ujar Aldy saat ditemui detikJatim, Sabtu (18/4/2026).
Koleksinya mencakup segala lini, termasuk mortir kecil dari kuningan yang mengkilap hingga bola dunia (globe) yang terperangkap dalam balok resin bening. Menurutnya, tidak ada satu jenis barang pun yang mendominasi etalasenya.
"Kalau jualan barang antik tidak ada yang dominan ya, soalnya tergantung konsumennya saja," tambahnya.
Untuk mendapatkan barang, Aldy mengaku aktif berburu ke berbagai daerah, baik melalui jaringan maupun informasi yang diperoleh.
"Barang-barang ini ada yang memang dijual ke toko, kadang cari-cari sendiri kalau ada informasi," jelasnya.
Harga barang yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp30 juta, tergantung jenis dan keunikan barang.
Terkait kebakaran yang pernah terjadi di kawasan Jalan Patmosusastro, Aldy menyebut toko barang antik relatif tidak terdampak langsung. Ia mengatakan kebakaran lebih banyak mengenai usaha lain di sekitar lokasi.
"Ya tetap toko ada dua kalau di sini. Yang kebakar kan ada bekled, abon, dan warung, bukan toko antik saja," kenangnya.
Meski tetap bertahan, Aldy mengakui minat pembeli terhadap barang antik saat ini mengalami penurunan.
"Untuk saat ini ada penurunan ya," terang Aldy.
Kendati demikian, tokonya tetap menjadi jujukan bagi konsumen yang tidak menentu, mulai dari kolektor kelas berat hingga anak muda yang mencari nilai estetika untuk mempercantik hunian.
(auh/hil)

