Jejak Sejarah Jembatan Cangar, Jalur Pintas Jepang hingga Watu Ondo

Jejak Sejarah Jembatan Cangar, Jalur Pintas Jepang hingga Watu Ondo

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Minggu, 19 Apr 2026 16:20 WIB
Rokok, bunga hingga sayur diletakkan berjejer di Jembatan Cangar.
Rokok, bunga hingga sayur diletakkan berjejer di Jembatan Cangar.(Foto: M Bagus Ibrahim/detikJatim)
Kota Batu -

Jembatan Cangar penghubung Kota Batu dan Kabupaten Mojokerto kini ramai diperbincangkan setelah menjadi lokasi bunuh diri seorang pemuda berinisial MMA. Jembatan kembar yang masuk wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo ini ternyata memiliki dua versi sejarah yang menarik.

Pemerhati Sejarah Agung Buana mengungkapkan, Jembatan Kembar Cangar ini awalnya dirancang bukan untuk jalan raya seperti saat ini. Dulu jalur ini digunakan sebagai jalan pintas yang dibuka pada masa pendudukan Jepang (1942-1945).

Menurut Agung, Jepang membuka jalur di tengah hutan ini untuk menghindari rute utama yang jauh memutar melewati Sidoarjo. Pada saat itu, jembatan masih berupa konstruksi sederhana yang hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dan gerobak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu dibangun karena jalur transportasi untuk jalan pintas orang-orang zaman Jepang. Kalau lewat jalur utama harus muter jauh lewat Sidoarjo. Jadi lewat hutan, dulu masih jalan setapak yang hanya bisa dilewati gerobak," ujar Agung kepada detikJatim, Minggu (19/4/2026).

ADVERTISEMENT

Tak hanya untuk mobilisasi pasukan, jalur ini ternyata berfungsi sebagai akses menuju area pemantauan di Gunung Arjuno serta berkaitan erat dengan sistem logistik perang. Hal itu diperkuat dengan keberadaan gua-gua yang ada di sekitar kawasan Cangar.

Gua-gua tersebut pada masa kependudukan Jepang dibangun menggunakan tenaga pribumi dengan dalih sebagai tempat perlindungan warga dari serangan udara. Namun, pada kenyataannya, gua itu dibuat untuk menyimpang perbekalan serta harta rampasan perang.

"Gua ini didesain untuk melindungi pergerakan pasukan dan menyimpan perbekalan perang. Bahkan, konon digunakan untuk menyimpan harta pampasan perang seperti perhiasan," ungkap Agung.

Jembatan kayu peninggalan Jepang tersebut akhirnya mulai dibangun secara permanen pada sekitar tahun 1970 hingga 1980-an. Tujuannya adalah untuk membuka akses kawasan dan menyediakan jalan alternatif dari arah Kota Batu menuju Kabupaten Mojokerto.

Terpisah, Kepala Desa Sumberbrantas Saniman menceritakan versi sejarah tersendiri berdasarkan ingatan kolektif warga setempat. Menurutnya, sebelum ada jembatan besi yang kokokh, tidak pernah ada jembatan kayu di lokaai tersebut karena kondisi geografisnya yang berupa jurang dalam.

"Enggak ada jembatan kayu di sana. Itu batu kok, jurang kok. Jembatan kayu kalau banjir seperti itu kan ya enggak ada," terangnya.

Saniman menjelaskan bahwa warga Kota Batu zaman dulu jika ingin menuju Pacet harus turun-naik jurang melalui jalur yang disebut 'Watu Ondo'. Nama ini merujuk pada formasi batuan alami di tebing yang menyerupai anak tangga.

"Dulu itu kalau orang sini ke Pacet itu jalan kaki, ya jurang itu yang dilalui. Makanya itu terkenal dengan Watu Ondo karena batunya itu seperti tangga," jelasnya.

Jalur terabas atau potong kompas ini terletak di bawah jembatan pertama dari arah Sumberbrantas, melintasi sungai yang kini dikenal sebagai Sungai Watu Ondo. Terkait pembangunan jalan aspal modern, Saniman mencatat bahwa proses pembukaan jalan besar baru dimulai sekitar tahun 1988.

Jalur Watu Ondo sendiri diperkirakan masih aktif digunakan warga sebagai akses utama hingga tahun 1980-an sebelum jembatan permanen rampung dibangun.

Meski memiliki dua versi sejarah, kedua narasumber sepakat bahwa jalur ini adalah urat nadi yang vital. Saniman menekankan bahwa bagi warga Sumberbrantas, jembatan ini adalah jalur ekonomi untuk menjual hasil tani ke arah Batu maupun Mojokerto.

Namun, pengendara diminta tetap waspada. Medan Cangar yang memiliki tanjakan dan turunan curam, serta kondisi aspal yang lembap dan sering tertutup kabut, tetap menjadi tantangan fisik bagi siapa saja yang melintas.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads