Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya menyebut keberadaan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan kota masih dalam kondisi aman dan belum mengganggu keseimbangan ekosistem. Hingga Senin (20/4), belum ditemukan lonjakan populasi seperti yang terjadi di Jakarta.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Surabaya, Muhammad Fikser mengatakan, pihaknya terus memantau kondisi perairan melalui laporan masyarakat, komunitas pencinta sungai, hingga informasi yang beredar di media sosial.
"Kalau sampai sekarang sih belum ada. Artinya kalau ada, biasanya kami tahu dari komunitas pecinta sungai atau laporan masyarakat," kata Fikser saat dikonfirmasi detikJatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, jika ditemukan indikasi populasi ikan sapu-sapu meningkat dan berpotensi mengganggu ekosistem, DLH akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk menentukan langkah penanganan.
"Biasanya kalau ada kejadian seperti itu, kami mengundang komunitas, pakar, dan pihak terkait untuk membahas tindakan apa yang harus kita lakukan," ujarnya.
Menurut FIkser, ikan sapu-sapu memang kerap ditemukan di sungai-sungai besar. Di Surabaya sendiri, ikan tersebut biasanya muncul di aliran Kali Brantas, Kali Surabaya, dan Kali Mas. Namun jumlahnya disebut tidak terlalu banyak.
"Ikan sapu-sapu biasanya ada di kali gede-gede ya, tapi tidak begitu banyak," katanya.
Karena itu, DLH Surabaya belum menyiapkan langkah pengendalian khusus. Sebab, keberadaan ikan sapu-sapu saat ini dinilai belum menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem perairan kota.
Fikser menegaskan, sejauh ini Surabaya belum pernah melakukan pengendalian khusus ikan sapu-sapu karena populasinya masih terjaga dan terkendali.
"Di Surabaya tidak pernah ada. Populasinya masih terjaga, masih terkendali," ujarnya.
Ia juga menyebut hingga kini belum ada hama atau spesies lain yang menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan di Surabaya.
Meski demikian, pihaknya mengimbau masyarakat segera melapor jika menemukan ledakan populasi ikan sapu-sapu di wilayah tertentu. Laporan tersebut dibutuhkan agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.
"Kalau ada populasi sapu-sapu yang meledak dan mengganggu ekosistem lain, silakan informasikan ke kami di titik mana. Nanti akan kami tindak lanjuti bersama para pakar dan pegiat lingkungan untuk menentukan tindakan apa yang kemudian kita ambil," pungkasnya.
(auh/hil)
