Sosok Prof Dr Eighty Mardiyan Kurniawati, dr, SpOG SubSp.Urogin-RE menjadi salah satu inspirasi perempuan di momen Hari Kartini. Ia kini menjabat sebagai dekan perempuan pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair).
Perjalanan Prof Eighty menuju posisi tersebut tidaklah singkat. Kariernya dimulai sejak 2005 saat ia masih menjadi peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) semester 4 dan diminta menjadi dosen di Unair.
"Saya dipanggil Ketua Departemen, Prof Lila Dewata beserta Prof Djoko Waspodo dan dr Hari Paraton. Beliau meminta saya untuk menjadi staf dosen dan mengikuti tes PNS yang sedang dibuka. Salah satu kriterianya adalah karena IPK di atas 3 dan mempunyai prestasi," cerita Prof Eighty, Rabu (22/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat mahasiswa S1, dia tercatat sebagai Mahasiswa berprestasi Unair yang sedianya akan mewakili di forum nasional pada 1998. Tapi saat itu forum dibatalkan karena maraknya demo reformasi.
Ia juga aktif dalam penelitian ilmiah sejak mahasiswa, juara pimnas, aktif dalam dunia organisasi dan menjadi wartawan di Surabaya Post serta berlanjut di Jawa Pos pada 2000-2002. Sebagai mahasiswa, saat itu di tak bisa menolak. Akhirnya menjadi staf dosen sekaligus menjalani program PPDS Obstetri dan Ginekologi.
Menjadi dosen yang sekaligus dokter obgyn menjadi tantangan baginya. Setelah lulus tahun 2008, ia mulai praktik dan mengabdikan diri di Fakultas Kedokteran.
"Pagi sampai siang bersama mahasiswa dan PPDS. Sore hingga malam ganti bersama pasien dan ibu hamil," ujarnya.
Bukan hal yang mudah. Apalagi saat pasien mulai semakin banyak. Di sisi lain, peran sebagai pendamping suami dan ibu 3 orang putra, juga menuntut kehadirannya.
"Supaya tidak kehilangan momen, saat anak-anak masih kecil, saya sering mengajak mereka bertiga ke RS. Menemani saya menolong persalinan atau operasi. Meskipun kadang hanya menunggu di mobil atau di kantin. Ini sekaligus mengajarkan mereka bahwa dokter adalah tugas mulia. Kehadiran dan ilmunya ditunggu oleh pasien, " jelasnya.
Rutinitas itu berjalan selama bertahun-tahun. Kemudian perannya bertambah karena harus sekolah konsultan uroginekologi rekonstruksi di FK Universitas Indonesia/RSCM pada 2011-2013, dan menjadi mahasiswa program Doktor yang berhasil membuatnya menyandang gelar Doktor pada 2020.
Perjalanan dosennya menempuh dunia baru saat diminta menjadi Ketua Humas di FK Unair pada 2015-2020. Rekam jejak di dunia jurnalistik membuatnya menikmati tugas tersebut dan berlanjut sebagai Staf Khusus Dekanat pada masa COVID-19 pada 2020-2023.
Masa COVID-19 tidak memungkinkan Prof Eighty melakukan rutinitas seperti biasanya. Ada pembatasan praktik dan pendidikan. Tapi ini tak membuatnya kehilangan kreativitas.
"Saat COVID-19 ini justru banyak publikasi dan inovasi bersama tim. Termasuk membuat berbagai manekin pembelajaran untuk PPDS Obgin. Mulai manekin untuk robekan jalan rahim, bedah sesar hingga pengangkatan rahim yang dibuat bersama dr Riska Wahyuningtyas SpOG, dr Citra Aulia SpOG dan dr Dara SpOG," jelasnya.
Masa 'diam' di era Covid-19 ternyata memungkinkan Prof Eighty menyiapkan persyaratan pengajuan Guru Besar atau Profesor. Akhirnya tahun 2023 dikukuhkan sebagai Guru besar di bidang Uroginekologi Rekonstruksi, Stem Cell dan Gangguan Fungsi Seksual Perempuan.
Saat itu, Prof Eighty menjadi guru besar termuda di dunia Obgyn di Indonesia. Juga guru besar perempuan pertama di bidang Uroginekologi Rekonstruksi. Pidato pengukuhannya tentang Stem Cell atau Sel Punca di bidang Uroginekologi Rekonstruksi atau Gangguan Dasar Panggul. Ini sesuai dengan penelitian disertasinya saat S3 yang melakukan uji pemanfaatan sel punca untuk tata laksana fistula vesicovagina.
Pidato pengukuhan ini mendapat perhatian dan dampak luas. Karena kemudian banyak yang menyadari bahwa kesehatan perempuan bukan hanya tentang kehamilan dan melahirkan. Tapi juga pentingnya menjaga kesehatan dasar panggul agar tidak terjadi rahim turun, gangguan berkemih, gangguan buang air besar dan buang angin serta gangguan fungsi seksual.
Termasuk juga mengenali gejala awal, melakukan penanganan yang sesuai serta memanfaatkan kemajuan teknologi untuk penanganannya termasuk pemanfaatan sel punca.
Kini, menjadi pemimpin perempuan bukan sekadar kebanggaan. Tapi juga sebuah amanah yang harus dilakukan dengan tanggung jawab dan diselesaikan dengan baik.
Pada 2023, Prof Eighty mendapatkan tugas sebagai Wakil Dekan II di Fakultas Vokasi. Dia pun kaget karena harus mengemban jabatan struktural bukan di rumah sendiri. Tapi justru ini menjadi tantangan.
"Seorang pemimpin harus bisa beradaptasi di mana pun tempatnya," ujar ibu 3 anak ini.
Sejak 1 September 2025, ia menjadi pimpinan nomer satu di Fakultas Kedokteran Unair. Kembali ke rumah yang sudah membesarkannya.
Dalam proses pendidikan, ia ingin mewujudkan FK Unair sebagai Fakultas Kedokteran yang dapat menghasilkan dokter bintang tujuh. Yakni dokter sebagai penyedia layanan kesehatan, pengambil keputusan, komunikator, pemimpin masyarakat, manajer, pembelajar seumur hidup, dan peneliti, yang mempunyai nilai iman dan akhlak baik.
"Dalam ruang besar, konsep BRIGHT yang saya usung, diharapkan mampu mewujudkan visi dan misi Fakultas Kedokteran Unair serta mendukung Visi dan Misi Unair. Yaitu Menjadi Fakultas Kedokteran yang mandiri, inovatif, terkemuka di tingkat nasional dan internasional, pelopor pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran, entrepreneurship serta humaniora berdasarkan moral agama," pungkasnya.
(auh/hil)