Ini Dua Pasien Skizofrenia yang Jalani Psychosurgery Pertama di Indonesia

Ini Dua Pasien Skizofrenia yang Jalani Psychosurgery Pertama di Indonesia

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 23 Apr 2026 17:40 WIB
RSUD dr Soetomo Lakukan Psychosurgery Pertama di Indonesia
RSUD dr Soetomo Lakukan Psychosurgery Pertama di Indonesia. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Operasi Stereotactic Capsulotomy, prosedur psychosurgery pertama di Indonesia dilaksanakan di RSUD dr Soetomo (RSDS). Operasi yang menjadi bagian dari layanan kesehatan jiwa ini diterapkan pertama kali terhadap 2 orang pasien penderita Skizofrenia asal Malang.

Direktur Utama RSUD dr Soetomo, Prof Dr dr Cita Rosita SpKK(K) mengatakan prosedur ini pertama kali diterapkan pada 2 orang pasien bersaudara asal Malang yang sama-sama didiagnosis mengalami skizofrenia paranoid resisten terapi. Pasien pertama laki-laki berusia 30 tahun, sementara pasien kedua perempuan berusia 27 tahun.

Tim medis menyampaikan, kedua pasien sebelumnya telah menjalani berbagai terapi standar, namun belum menunjukkan perbaikan signifikan, terutama terkait gejala agresivitas dan halusinasi yang dominan. Kondisi itu menjadi dasar pertimbangan dilakukannya Stereotactic Capsulotomy sebagai langkah lanjutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Layanan kesehatan jiwa dengan metode operasi Stereotactic Capsulotomy ini dilakukan di Ruang Operasi Graha-STOC pada Rabu (22/4/2026). Tindakan ini terlaksana berkat kerja sama lintas negara di bidang pendidikan, pelayanan dan penelitian dengan West China Hospital, Sichuan University, Chengdu, China.

ADVERTISEMENT

Sebelum operasi dilakukan, Prof Cita bersama jajaran direksi dan tim multidisiplin psychosurgery bertemu tim bedah saraf dari West China Hospital. Kolaborasi internasional ini dinilai menjadi langkah strategis dalam pengembangan layanan kesehatan berbasis teknologi tinggi di Indonesia.

"Kami menyambut baik kerja sama dengan West China Hospital sebagai salah satu pusat layanan kesehatan terkemuka dunia. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, meningkatkan kompetensi tenaga medis, serta mempercepat transfer teknologi dalam bidang bedah saraf dan kesehatan jiwa. Kerjasama ini akan membuka peluang peningkatan mutu layanan kesehatan bertaraf Internasional di Jawa Timur sesuai dengan arahan Ibu Gubernur," urainya, Kamis (23/4/2026).

Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), dr Azimatul Karimah SpKJ (K) menjelaskan bahwa tindakan ini menjadi salah satu opsi terapi lanjutan bagi pasien dengan kondisi resisten.

"Pasien dengan skizofrenia paranoid resisten terapi seringkali mengalami hambatan dalam pengendalian gejala, meskipun telah mendapatkan pengobatan optimal. Melalui tindakan Stereotactic Capsulotomy ini, kami berharap dapat membantu mengurangi gejala dominan seperti agresivitas dan halusinasi, sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat," jelasnya.

dr Azimatul menekankan pemilihan tindakan ini telah melalui asesmen ketat dan melibatkan berbagai disiplin ilmu.

"Pendekatan multidisiplin sangat penting untuk memastikan bahwa tindakan yang diberikan benar-benar sesuai indikasi dan dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi," tegasnya.

Pelaksanaan tindakan psychosurgery adalah komitmen RSDS menghadirkan layanan kesehatan inovatif berbasis multidisiplin. Langkah ini disebut sebagai langkah maju dalam pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia.

Tindakan operasi dilaksanakan secara multidisiplin dengan melibatkan tim bedah saraf, psikiatri, anestesi, hingga psikologi klinis. Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci untuk memastikan keamanan prosedur sekaligus memaksimalkan hasil terapi bagi pasien.

Stereotactic Capsulotomy merupakan prosedur bedah saraf presisi yang menargetkan area tertentu pada otak yang berperan dalam regulasi emosi dan perilaku. Melalui teknik ini diharapkan terjadi perbaikan pada gejala utama pasien, khususnya perilaku agresif serta halusinasi yang selama ini sulit dikendalikan dengan terapi konvensional.

Keberhasilan tindakan ini menjadi langkah awal RSUD dr Soetomo mengembangkan layanan kesehatan jiwa berbasis teknologi dan pendekatan multidisiplin di Indonesia. Ke depan, inovasi ini diharapkan menjadi alternatif terapi bagi pasien dengan kondisi serupa yang tidak merespons pengobatan standar.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads