Siswa di 3 SD Kediri Keracunan MBG, Walkot Vinanda Perintahkan Investigasi

Siswa di 3 SD Kediri Keracunan MBG, Walkot Vinanda Perintahkan Investigasi

Andhika Dwi - detikJatim
Jumat, 24 Apr 2026 21:45 WIB
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati
Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati (Foto: Pemkot Kediri)
Kediri -

Sebanyak 73 siswa dari tiga sekolah dasar (SD) dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (22/4/2026). Tiga sekolah yang terdampak adalah SD Ketami 2, SD Ketami 1, dan SD Tempurejo 1.

Merespons kejadian tersebut, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati langsung turun tangan memimpin rapat darurat bersama Satgas MBG Kota Kediri pada Jumat (24/4/2026) guna menangani kasus ini secara serius.

Wali Kota merinci bahwa dari total 73 siswa yang terdampak, paling banyak berasal dari SD Ketami 2 dengan 53 Siswa, diikuti SD Ketami 1 sebanyak 11 siswa, dan SD Tempurejo 1 sebanyak 9 siswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejala yang dialami para siswa bervariasi mulai dari mual, muntah, pusing, diare, hingga demam ringan. Meski situasinya mengkhawatirkan, Vinanda memastikan tidak ada korban yang memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.

"Keluhan yang dialami siswa di antaranya mual, muntah, pusing, diare hingga demam ringan. Meski demikian, hingga kini tidak ada laporan siswa yang harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit," kata perempuan yang karib disapa Mbak Wali itu, Jumat (24/4/2026).

ADVERTISEMENT

Mbak Wali menuturkan insiden ini bermula dari laporan Kepala SD Ketami 2 kepada Dinas Kesehatan Kota Kediri pada hari Kamis (23/4/2026). Saat itu, petugas kesehatan langsung bergerak cepat mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium.

"Dari hasil sampel memang ditemukan bakteri e.coli. Secara teknis itu menunjukkan makanan sudah basi," ujar Mba Wali.

Adapun menu MBG yang disajikan pada hari itu terdiri dari roti bagel, ayam saus tiram, tahu orak-arik, sup kacang merah dan kentang, serta buah kelengkeng. Sampel yang diuji merupakan satu porsi makanan dari distribusi hari tersebut.

Satgas MBG bersama Badan Gizi Nasional (BGN) kemudian melakukan inspeksi mendalam ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tempurejo - dapur penyedia yang bertanggung jawab mendistribusikan makanan ke ketiga sekolah tersebut.

Koordinator Wilayah SPPG Kota Kediri, Armeityansyah, mengungkapkan bahwa investigasi awal menemukan sejumlah dugaan pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang cukup serius. Salah satu temuan utama menyangkut waktu memasak yang tidak sesuai ketentuan.

"Salah satunya waktu pemasakan. Harusnya dilakukan di jam 2, tapi tadi setelah dikonfirmasi ternyata lebih awal dari itu," kata pria yang akrab disapa Ian.

Selain soal waktu memasak, tahapan uji organoleptik - yakni pengecekan kualitas, rasa, aroma, dan kondisi fisik makanan sebelum didistribusikan - disebut tidak dijalankan secara menyeluruh sesuai prosedur yang berlaku.

"Ketika diantarkan di titik pengantaran itu ada organoleptik lagi. Ini baru ketika makanan jadi diuji organoleptik. Jadi selanjutnya ini ada yang kelewat," jelas Ian.

Atas serangkaian temuan pelanggaran tersebut, operasional SPPG Tempurejo resmi dihentikan sementara sambil menunggu keputusan resmi dari BGN Pusat. Namun demikian, Ian memastikan distribusi MBG kepada sekolah-sekolah penerima manfaat tidak akan terganggu karena pasokan akan dialihkan ke SPPG lain.

"Yang pasti ditutup sementara, selanjutnya menunggu surat dari BGN Pusat," pungkasnya.

Penyidikan dan investigasi lebih lanjut masih terus berlangsung. Satgas MBG Kota Kediri memastikan evaluasi menyeluruh akan segera dilakukan.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads