Kemarau Vs El Nino, Apa Bedanya? Ini Penjelasan BMKG

Kemarau Vs El Nino, Apa Bedanya? Ini Penjelasan BMKG

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Sabtu, 02 Mei 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Kekeringan Musim Kemarau
Ilustrasi Kekeringan Musim Kemarau. Foto: Chamika Jayasri/Unsplash
Surabaya -

Musim kemarau sering dianggap sama dengan El Nino karena keduanya identik dengan cuaca panas dan minim hujan. Padahal, menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau dan El Nino adalah dua fenomena berbeda yang kerap saling berkaitan, tetapi tidak bisa disamakan.

Kemarau merupakan siklus musim tahunan yang normal terjadi di Indonesia, sementara El Nino adalah anomali iklim global yang dapat memperparah kondisi kemarau menjadi jauh lebih kering. Yuk, bahas selengkaonya, detikers!

Apa Itu Musim Kemarau?

Berdasarkan penjelasan BMKG yang dikutip dari postingan Instagram resminya, musim kemarau adalah siklus iklim musiman yang terjadi secara rutin setiap tahun di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini muncul akibat angin monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia, sehingga curah hujan menurun secara signifikan. Secara umum, inilah karakteristik musim kemarau.

ADVERTISEMENT
  • Terjadi setiap tahun
  • Bersifat normal dan musiman
  • Dipengaruhi pola angin monsun
  • Menyebabkan penurunan curah hujan secara bertahap

Apa Itu El Nino?

Masih dikutip dari sumber yang sama, BMKG menjelaskan bahwa El Nino merupakan anomali iklim atau penyimpangan cuaca global yang terjadi secara periodik, umumnya setiap 3 hingga 7 tahun sekali.

El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur meningkat lebih panas dari normal. Kondisi ini mengganggu pola cuaca global termasuk mengurangi curah hujan di Indonesia.

Akibatnya, musim kemarau dapat menjadi lebih panjang, lebih panas, lebih kering, dan lebih berisiko memicu kekeringan ekstrem. Jadi, El Nino ini bukanlah musim, tetapi faktor yang dapat memperburuk musim kemarau.

Perbedaan Utama Kemarau dan El Nino

Sederhananya, perbedaan antara keduanya yang paling jelas ada di penyebab, sifat, dan frekuensi terjadinya. Kemarau adalah musim tahunan yang normal terjadi akibat pola monsun.

El Nino adalah anomali iklim global periodik yang dapat memperparah kemarau. Jika diibaratkan, kemarau adalah kondisi normal, sedangkan El Nino adalah semacam faktor penguat yang membuat musim kering terasa lebih ekstrem.

Simpelnya, kemarau adalah musim yang pasti datang setiap tahun. Sedangkan, El Nino adalah variabilitas tahunan yang dapat datang dan membuat kemarau menjadi lebih kering.

Dampak El Nino dan Kemarau

Saat El Nino terjadi bersamaan dengan musim kemarau, dampaknya bisa lebih serius bagi masyarakat. Sebab, sangat mungkin akan terjadi hal-hal berikut ini.

  • Berkurangnya sumber air bersih
  • Peningkatan polusi udara
  • Risiko kebakaran hutan dan lahan lebih tinggi
  • Penurunan produksi listrik tenaga air
  • Ancaman gagal panen akibat kekeringan

Meski begitu, fenomena ini juga membawa manfaat. Dikatakan bahwa produksi garam berkualitas tinggi akan meningkat. Proyek infrastruktur pun lebih minim gangguan hujan.

Kapan Puncak Kemarau dan El Nino 2026?

Dilansir dari detikHealth, BMKG memperkirakan El Nino mulai mempengaruhi Indonesia sejak April 2026, dan sudah terindikasi muncul dalam kategori lemah. Pada periode Mei sampai Oktober 2026, El Nino berada pada kategori lemah hingga sedang.

Lembaga internasional, World Meteorological Organization (WMO) juga menyampaikan hal yang serupa. Mereka memperkirakan El Nino akan kembali berkembang pada pertengahan 2026. WMO menyebut kondisi El Nino berpeluang muncul pada periode Mei hingga Juli, dengan indikasi awal menuju fase yang lebih kuat.

"Setelah periode netral di awal tahun, terdapat keyakinan tinggi akan munculnya El Nino yang kemudian dapat menguat," ujar Kepala Prediksi Iklim WMO, Wilfran Moufouma Okia.

Hal-hal yang Perlu Diketahui soal Kemarau 2026

Sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami kondisi kering lebih panjang, sehingga penting untuk memahami karakteristik, waktu puncak, hingga dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Dilansir dari detikNews, berikut hal-hal penting yang perlu diketahui terkait kemarau 2026.

  • Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3%), Mei (184 ZOM; 26,3%), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3%) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
  • Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju (325 ZOM; 46,5%) dan sama dengan normalnya (173 ZOM; 23,7%).
  • Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5%) diprediksi pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (429 ZOM; 61,4%) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026.
  • Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau maju (410 ZOM; 58,7%) dan sama dengan normalnya (142 ZOM; 20,3%).
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2%) diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya.

Tips Persiapan Hadapi Kemarau dan El Nino

Menghadapi musim kemarau yang berpotensi diperparah fenomena El Nino, masyarakat perlu melakukan berbagai langkah antisipasi sejak dini. Berikut sejumlah tips yang bisa dilakukan untuk menghadapi kemarau dan El Nino.

  • Gunakan air secara hemat dan bijak.
  • Tidak melakukan pembakaran sembarangan.
  • Pilih komoditas tanaman yang tahan kering dan usia tanam lebih pendek.
  • Mulai tampung air hujan dari sekarang.
  • Jaga kesehatan, cukupi kebutuhan air minum dan pakai masker.



(irb/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads