Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, Asal-usul Ibadah Kurban di Idul Adha

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, Asal-usul Ibadah Kurban di Idul Adha

Allysa Salsabillah Dwi Gayatri - detikJatim
Selasa, 05 Mei 2026 19:00 WIB
Nabi Ibrahim dan Ismail, sejarah Idul Adha, sejarah kurban.
Nabi Ibrahim dan Ismail, sejarah Idul Adha, sejarah kurban. Foto: www.chabad.org
Surabaya -

Setiap tanggal 10 Dzulhijjah, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha, atau yang dikenal juga dengan Lebaran Haji. Idul Adha menjadi salah satu hari mulia bagi umat Islam dan identik dengan ibadah kurban.

Di balik perayaan tersebut, terdapat kisah penting yang menjadi dasar dari ibadah kurban, yakni peristiwa Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Islam AS. Lantas, bagaimana kisah lengkap yang kemudian menjadi asal mula perintah kurban dalam Idul Adha? Yuk, simak selengkapnya di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail

Asal-usul atau sejarah Idul Adha tidak dapat dilepaskan dari keteladanan Nabi Ibrahim AS. Dikisahkan, ia mendapat perintah dari Allah SWT untuk membawa serta meninggalkan istri dan putranya di sebuah tempat yang kering, tandus, jauh dari pemukiman, dan tidak ditumbuhi pepohonan sehingga sangat sepi tanpa penghuni.

Meski berada dalam kondisi yang sulit, Siti Hajar sebagai istri Nabi Ibrahim AS menerima ketetapan tersebut dengan ikhlas dan penuh tawakal. Hal ini juga sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT dalam QS Ibrahim ayat 37 sebagai berikut.

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu (Baitullah) yang dimuliakan. Ya Tuhan kami (sedemikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagai manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim: 37)

Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan ketika Nabi Ismail AS masih kecil dan kehausan hingga menangis, Siti Hajar kemudian berusaha mencari air dengan berlari antara Bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali (sai). Namun, usahanya belum membuahkan hasil.

Hingga akhirnya Allah SWT mengutus Malaikat Jibril dan memunculkan air zam-zam dari hentakan kaki Nabi Ismail AS. Air tersebut kemudian mengubah wilayah yang semula gersang menjadi kawasan dengan persediaan air melimpah. Kini, wilayah tersebut menjadi pusat perkembangan wilayah-wilayah sekitarnya dan dikenal dengan Kota Makkah.

Atas ketaatan dan keimanannya, Nabi Ibrahim AS mendapatkan gelar Al-Khalil (Kekasih Allah). Namun, para malaikat bertanya kepada Allah, 'Ya Tuhanku, mengapa engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu.

Padahal ia disibukkan dengan urusan kekayaan dan keluarganya? Allah berfirman, 'Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal baktinya'.

Selanjutnya, Allah memberi izin kepada para malaikat untuk menguji keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim. Dalam kitab 'Misykatul Anawa', Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok yang sangat kaya, memiliki ribuan hewan ternak, namun kekayaannya tidak membuat lalai dari perintah Allah.

Namun, suatu ketika ia mendapat ujian melalui mimpinya. Dalam mimpi tersebut, ia diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS yang sedang berusia 7 tahun.

Mimpi tersebut berulang hingga memahami bahwa itu merupakan benar perintah dari Allah SWT, lalu menyampaikannya kepada sang anak. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut.

قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu "maka pikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar". (QS As-saffat: 102)

Saat hendak melaksanakan perintah tersebut, setan berusaha menggoda Nabi Ibrahim AS agar membatalkannya. Namun, ia tetap teguh dan mengusir godaan tersebut dengan mengucap basmalah sambil melempar batu, yang kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji, yaitu jumrah.

Ketika keduanya telah berserah diri dan bersiap menjalankan perintah Allah SWT, Allah kemudian memerintahkan untuk menghentikan perbuatan itu saat pisau telah diayunkan ke leher Nabi Ismail.

Allah mencukupkan dengan menyembelih seekor kambing sebagai korban. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam QS As-Saffat ayat 107 sebagai berikut.

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya: Dan, kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Sejak peristiwa tersebut, umat Islam dianjurkan melaksanakan ibadah kurban pada 10 Dzulhijjah, dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing, sapi, kerbau, atau unta sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah SWT.

Makna Berkurban

Dilansir dari Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, kurban mengandung pelajaran tentang ketakwaan, keikhlasan, serta kepedulian terhadap sesama, yang diwujudkan melalui pembagian daging kepada mereka yang membutuhkan.

1. Bersedekah

Makna dari ibadah kurban pertama adalah belajar untuk bersedekah kepada yang membutuhkan. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis berikut, Rasulullah SAW bersabda:

أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ

Artinya: Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan berkah rezeki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu. (HR Bukhari No 1433 dan Muslim No 1029)

2. Bertakwa kepada Allah

Dengan menunaikan ibadah kurban, umat Islam belajar untuk bertakwa kepada Allah. Takwa merupakan sikap yang dilakukan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan dari Allah.

ا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسنِينَ

Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-Hajj: 37)

3. Belajar untuk Ikhlas

Selanjutnya, dengan berkurban berarti umat Islam belajar untuk ikhlas demi menggapai rida dari Allah SWT. Hal tersebut sebagaimana yang dijelaskan firman Allah sebagai berikut.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (QS Al Hajj: 37)

4. Belajar Berzikir

Menunaikan ibadah kurban sama dengan belajar untuk senantiasa berzikir. Hal ini karena ketika mengerjakan kurban wajib untuk melafalkan basmalah dan disunahkan untuk bertakbir saat menyembelih hewan kurban.

Adapun melantunkan takbir dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah menjadi perintah dari Allah. Allah SWT berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

Artinya: Dan, supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan. (QS Al Hajj: 28)

Demikian penjelasan mengenai kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dalam perayaan hari raya Idul Adha beserta maknanya. Semoga bermanfaat!




(ihc/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads