Puluhan Kasus Hantavirus Tercatat di Indonesia, Terbanyak di Pulau Jawa

Puluhan Kasus Hantavirus Tercatat di Indonesia, Terbanyak di Pulau Jawa

Jihan Navira - detikJatim
Minggu, 10 Mei 2026 08:40 WIB
Hantavirus: Risiko Dinilai Rendah, Pemantauan Dilakukan
Evakuasi penumpang MV Hondius di tengah wabah Hantavirus cFoto: DW News)
Surabaya -

Indonesia ternyata juga sudah mencatat kasus hantavirus dalam beberapa waktu terakhir. Kementerian Kesehatan RI mengungkap ada 23 kasus hantavirus tersebar di sembilan provinsi. Meski telah tercatat tiga kematian sejak tiga tahun terakhir, jenis virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius.

Sebelumnya, hantavirus mendapat sorotan global ketika menyerang kapal pesiar mewah MV Hondius. Akibat meninggalnya tiga penumpang, publik dunia waswas karena salah atu variannya, Andes virus diketahui bisa menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Meski begitu, jenis virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius. Lantas, apakah di antara puluhan kasus hantavirus di Indonesia juga dapat menyebar antarmanusia?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hantavirus Ternyata Sudah Terdeteksi di Indonesia

Hantavirus merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini tergolong penyakit zoonosis atau yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius menyebabkan beberapa penumpang terinfeksi, nama hantavirus kembali menjadi perhatian publik. Hingga 7 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya lima dari delapan suspek terkait kapal tersebut telah terkonfirmasi positif.

ADVERTISEMENT

Kasus kematian yang dialami tiga orang, pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga negara Jerman, melibatkan Andes virus atau jenis hantavirus yang dikenal memiliki kemampuan penularan antarmanusia meski tergolong sangat terbatas.

Jenis Hantavirus yang Ditemukan di Indonesia

Melansir detikHealth, Kementerian Kesehatan RI memastikan seluruh kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia sejauh ini berasal dari jenis Seoul virus, bukan Andes virus seperti yang ditemukan pada kasus kapal pesiar MV Hondius.

Hal ini penting diketahui karena karakteristik penularan kedua virus berbeda. Andes virus diketahui dapat menular antarmanusia dalam kontak sangat dekat, sedangkan Seoul virus di Indonesia sejauh ini belum ditemukan menyebar antar manusia.

Umumnya, penularan Seoul virus terjadi dari tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui:

  • Gigitan tikus,
  • Kontak dengan saliva,
  • Urine,
  • Feses,
  • Hingga inhalasi atau debu yang terkontaminasi.

Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus dalam Tiga Tahun

Kemenkes RI mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus dalam periode tiga tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, tiga pasien meninggal dunia, sementara 20 lainnya dinyatakan sembuh.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan tingkat kematian hantavirus memang cukup tinggi, tetapi tidak selalu disebabkan virus semata.

"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," ujar Aji Muhawarman, Kamis (7/5/2026).

Ia menyebut tingginya tingkat kematian tidak hanya disebabkan faktor tunggal, melainkan terdapat ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan.

Sebaran Kasus Hantavirus di Indonesia

Menurut data Kemenkes, kasus hantavirus di Indonesia tersebar di sembilan provinsi dengan Pulau Jawa yang masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak.

Berikut sebaran kasus hantavirus di Indonesia, DKI Jakarta dan DIY tercatat sebagai daeraah dengan kasus tertinggi.

  • Sumatera Barat: 1 kasus
  • Banten: 1 kasus
  • DKI Jakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Jawa Timur: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 6 kasus
  • Nusa Tenggara Timur: 1 kasus
  • Kalimantan Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus

Pada 2025, kasus Seoul virus paling banyak ditemukan dengan total 17 kasus. Sementara pada 2024 hanya tercatat satu kasus. Hingga 2026, terdapat tambahan lima kasus baru.

Meski Kemenkes belum menjelaskan detail penyebab tingginya kasus di Pulau Jawa, wilayah padat penduduk dan tingginya interaksi manusia dengan lingkungan perkotaan diduga ikut meningkatkan risiko paparan tikus pembawa virus.

Tikus sendiri dikenal mudah berkembang biak di area permukiman padat, saluran air, pasar, hingga lingkungan dengan sanitasi kurang baik. Karena itu, daerah perkotaan memiliki potensi paparan lebih tinggi dibanding wilayah lain.

Siapa yang Paling Berisiko Tertular Hantavirus?

Menurut Aji, terdapat beberapa kelompok pekerjaan dengan risiko lebih tinggi terpapar hantavirus karena sering ebrsentuhan langsung dengan tikus atau lingkungan terkontaminasi. Kelompok tersebut meliputi:

  • Petugas kebersihan,
  • Petani,
  • Pekerja konstruksi,
  • Pengendali hama,
  • Pembersih selokan,
  • Hingga pekerja laboratorium.

Paparan disebut bisa terjadi saat seseorang menyentuh area yang tercemar urine atau feses tikus, maupun saat menghirup debu yang telah terkontaminasi virus.

Apakah Hantavirus di Indonesia Bisa Menular Antarmanusia?

Kemenkes menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan antarmanusia untuk hantavirus di Indonesia.

"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," ujar Aji dilansir dari laman detikHealth.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa situasi di Indonesia berbeda dengan wabah yang terjadi pada kapal pesiar MV Hondius.

Meski kasus hantavirus di Indonesia sejauh ini masih tergolong terbatas, data Kemenkes menunjukkan virus ini bukan ancaman yang sepenuhnya baru di Tanah Air. Terlebih, sebagian besar penularan berkaitan dengan paparan tikus dan lingkungan yang terkontaminasi.

Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan tikus, dan memahami gejala awal hantavirus menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan. Di tengah ramainya kabar wabah hantavirus global, masyarakat juga diimbau tetap tenang dan mengandalkan informasi dari sumber resmi agar tidak mudah termakan kepanikan.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads