Situs Adan-Adan di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, mendadak viral di media sosial setelah narasinya dikaitkan dengan kemegahan Candi Borobudur. Meski kabar mengenai ukurannya yang disebut lebih besar telah diluruskan, situs ini tetap menyimpan sederet keunikan yang membuatnya istimewa di mata para arkeolog.
Salah satu alasan utama Situs Adan-Adan menjadi perhatian serius adalah latar belakang agamanya. Berbeda dengan mayoritas peninggalan purbakala di Jawa Timur yang didominasi corak Hindu, situs ini justru memiliki ciri Buddhis yang sangat kuat.
"Ciri Buddhisnya jelas. Dan di Jawa Timur, candi berlatar agama Buddha itu sangat jarang. Ini yang membuatnya istimewa," ujar Kabid Cagar Budaya dan Permuseuman Disbudpar Kabupaten Kediri, Eko Priatno, Sabtu (9/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika Candi Borobudur dikenal luas karena deretan relief ceritanya, Situs Adan-Adan menawarkan gaya arsitektur yang berbeda. Situs ini lebih mengedepankan sisi artistik dekoratif pada setiap sudut bangunannya.
"Kalau Borobudur penuh relief cerita, sedangkan di sini lebih dekoratif. Secara visual, ini memberikan karakter bangunan yang berbeda dan punya nilai seni tersendiri," jelas Eko.
Isu 'lebih besar dari Borobudur' tampaknya lahir dari luasnya kawasan situs. Eko menjelaskan, meski bangunan utama diperkirakan hanya berukuran 7x7 meter atau 8x8 meter, namun kompleks pendukungnya diduga membentang sangat luas melintasi Dusun Candi hingga wilayah Wonorejo.
"Bangunan utamanya mungkin tidak sebesar Borobudur, tapi kompleks pendukungnya diduga cukup luas dan terdiri dari banyak ruang," pungkasnya.
Keistimewaan lainnya adalah dugaan keterkaitan Situs Adan-Adan dengan Situs Tondowongso yang berjarak sekitar 3 kilometer. Jika penelitian berhasil membuktikan keduanya saling berhubungan, maka kawasan ini berpotensi menjadi salah satu pusat peradaban kuno terbesar yang pernah ada di Kediri.
arena sebagian besar area situs berada di lahan milik warga, Pemkab Kediri mengambil langkah unik dalam pelestariannya. Selain koordinasi terkait ekskavasi, pihak dinas juga memberdayakan pemilik lahan secara langsung.
"Kami mengambil salah satu keluarga pemilik tanah menjadi juru pelihara. Tugasnya menjaga keamanan, kebersihan, dan merawat situs, honornya dari kami," ungkap Eko.
Terkait proses penelitian yang sempat melambat akibat transisi lembaga penelitian ke BRIN serta kendala anggaran, Pemkab Kediri menegaskan komitmennya untuk terus melakukan eksplorasi.
"Yang pasti menjadi kewajiban bagi kita untuk terus melakukan eksplorasi terhadap potensi objek cagar budaya untuk membuka informasi masa lalu," tutupnya.
(ihc/dpe)
