Komunitas Let's Walk mampu menyulap kegiatan berjalan kaki menjadi lebih menyenangkan. Peserta diajak menyusuri kota sambil mendengar kisah di balik bangunan tua, sejarah suatu kawasan, hingga cerita warga setempat.
Komunitas walking tour asal Surabaya ini didirikan pada Agustus 2022 oleh Bintang Rahadian Sukma. Di tengah merebaknya pandemi Covid-19 komunitas ini memulai kegiatannya dengan konsep virtual tour. Saat itu, perjalanan dilakukan secara daring menggunakan Google Street View, Google Earth, Zoom, hingga dokumentasi foto dan video.
"Orang-orang waktu itu nggak bisa ke mana-mana. Gathering pun akhirnya dilakukan online sambil virtual tour," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baru pada awal 2024, Let's Walk mulai rutin menggelar walking tour secara langsung. Rute reguler pertamanya diberi nama Juliana Boulevard, mengeksplor kawasan sekitar Jalan Kombes Pol M. Duryat yang dahulu dikenal sebagai Jalan Juliana Boulevard pada era kolonial Belanda. Konsep walking tour agar peserta lebih dekat dengan suasana kota dan cerita-cerita di dalamnya.
"Kita ada waktu berhenti lebih lama untuk mendengarkan, mengamati kemudian mendengarkan cerita-cerita dari warga selaku mereka yang memang warlok (warga lokal) ya. Jadi bisa mendapatkan POV berbeda," imbuh Bintang.
Dalam dua tahun terakhir, peminat Let's Walk disebut meningkat drastis. Grup WhatsApp komunitasnya kini berisi sekitar 600 anggota, sementara akun Instagram mereka telah menembus lebih dari 10 ribu pengikut.
Salah satu rute andalan mereka adalah eksplor Hotel Majapahit. Ada pula serial tur bertajuk KKS (Kisah Kasih di Sekolah) yang mengajak peserta menyusuri sekolah-sekolah lawas di Surabaya.
Tahun ini, mereka juga membuat serial KPK atau Keliling Pabrik. Setelah mengunjungi pabrik Siropen dan pabrik tahu di Dinoyo, dalam waktu dekat peserta akan diajak melihat pabrik kecap Cap Jeruk Pecel Tulen.
"Kalau walking tour lain biasanya cuma lewat luar gedung. Di Let's Walk kita bikin pembeda, peserta bisa masuk dan eksplor lebih dalam," jelasnya.
Tak hanya di Surabaya, Let's Walk juga rutin membuka rute luar kota setiap dua hingga tiga bulan sekali. Mulai dari Madiun, Bojonegoro, Malang, hingga Probolinggo.
Dokumentasi kegiatan komunitas Let's walk Foto: Istimewa) |
Di balik satu rute walking tour, ada proses riset panjang yang dilakukan tim Let's Walk. Mereka biasanya memulai dari observasi lokasi, survei jalan kaki, mencari literatur sejarah, hingga berbincang langsung dengan warga sekitar.
"Risetnya pertama kita cari yang gampang dulu sepenglihatan kita kalau lewat sana kira-kira ada apa saja. Kedua kita surveinya biasanya jalan kaki supaya bisa nemuin 'hidden gems'. Ketiga cari cerita sejarahnya dari literatur, dari sumber-sumber yang lain. Keempat yang paling terakhir kita tanya ke warga ada cerita tambahan apa di sana," kata Bintang.
Let's Walk memiliki lima kategori rute wisata, yakni regular tour, private tour, special tour, collaboration tour, dan exclusive tour.
Untuk regular tour yang rutin digelar saat akhir pekan, tarifnya sekitar Rp 50.000 per peserta dengan konsep walking tour berdurasi dua jam di area luar bangunan.
Sementara collaboration tour dipatok mulai di atas Rp 50.000-Rp 100.000 karena melibatkan pihak lain, seperti wisata perahu Kalimas atau tur gabungan dengan komunitas lain.
Kategori special tour biasanya mengajak peserta masuk ke gedung-gedung tertentu di Surabaya dengan kisaran harga maksimal Rp 100.000, tergantung akses dan konsep tur.
Sedangkan exclusive tour dibanderol di atas Rp 100.000 lantaran membutuhkan perizinan lebih rumit atau dilakukan di luar kota. Untuk private tour, tarif ditentukan berdasarkan jumlah peserta dalam satu rombongan.
Rute dan jadwal walking tour mereka diumumkan lewat akun Instagram resmi @letswalk.idn. Pemesanan tur juga dapat dilakukan melalui website yang tertera di tiap unggahan atau pada bio Instagram mereka.
Walaupun tren walking tour di Surabaya terus berkembang, Bintang menilai komunitas serupa masih belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota. Menurutnya, kolaborasi yang dilakukan sejauh ini umumnya masih sebatas promosi atau konten bersama.
Meski begitu, Let's Walk kerap dilibatkan dalam diskusi pengembangan rute wisata maupun eksplor sejarah kawasan karena dinilai mampu mengemas cerita kota menjadi pengalaman yang menarik bagi peserta.
Ke depan, Bintang berharap walking tour bisa berkembang menjadi agenda wisata berskala besar yang memadukan jalan kaki, sejarah, dan budaya dalam satu rangkaian acara.
"Kita punya mimpi bikin event, meskipun belum besar. Mungkin dalam satu minggu atau satu bulan itu kita bikin agenda walking tour yang skalanya besar," kata Bintang.
Sebagai langkah awal, Let's Walk akan menggelar free walking tour pada 31 Mei mendatang untuk merayakan capaian 10 ribu pengikut di Instagram. Konsep yang diusung masih dimatangkan, namun mengarah pada tema 10.000 langkah menyusuri kota bersama peserta.
(ihc/abq)
