Nama Yakuza Maneges belakangan ramai diperbincangkan publik setelah dideklarasikan di Kota Kediri. Meski menggunakan nama "Yakuza" yang identik dengan mafia Jepang, komunitas ini justru mengusung gerakan sosial dan spiritual untuk merangkul masyarakat marginal.
Di bawah pimpinan Gus Thuba, Yakuza Maneges hadir dengan semangat dakwah inklusif yang terinspirasi dari ajaran ulama kharismatik asal Kediri, Gus Miek.
Gus Thuba, tokoh muda yang dikenal dekat dengan spiritualitas dan kultur pesantren ini meresmikan komunitas Yakuza Maneges di Kediri, sebuah gerakan sosial-spiritual yang dibangun dengan landasan ideologi khas untuk merangkul masyarakat marginal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peresmian tersebut turut dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati yang memberikan sambutan hangat atas lahirnya komunitas itu.
Untuk memahami sosok Gus Thuba, ada figur yang paling berpengaruh dalam perjalanan spiritualnya, yakni KH Hamim Tohari Djazuli atau Gus Miek. Ia merupakan kakek Gus Thuba.
Gus Miek dikenal sebagai ulama karismatik asal Kediri yang hidup pada era 1940-an hingga wafat pada 5 Juni 1993. Putra KH Djazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, itu dikenal bukan sebagai kiai konvensional. Gus Miek justru dekat dengan kaum preman, seniman jalanan, hingga masyarakat marjinal.
Ia mendirikan Jamaah Al-Khidmah dan Jamuro (Jamaah Muji Rosul), gerakan zikir dan selawat yang menjangkau kalangan yang jauh dari masjid. Gus Miek percaya dakwah sejati adalah turun langsung ke jalanan.
"Gus Miek iku dakwah-ne ning pinggiran. Orang yang tidak bisa diajak ke masjid, ya didatangi di tempatnya."
Filosofi itulah yang kemudian menjadi roh komunitas Yakuza Maneges yang dibangun Gus Thuba.
Gus Thuba, yang memiliki nama lengkap Thuba Topo Broto Maneges, mengaku terinspirasi kuat dari teladan Gus Miek. Ia menjadikan pendekatan Gus Miek sebagai metodologi dakwah yang diterapkan langsung di lapangan.
Hubungan Gus Thuba dengan Gus Miek bersifat spiritual dan ideologis. Gus Thuba mewarisi cara pandang bahwa orang-orang yang dianggap "nakal", "preman", atau "terbuang" justru menjadi ladang dakwah yang sesungguhnya. Mereka bukan untuk dihakimi, melainkan dirangkul dan diberdayakan.
Ideologi Yakuza Maneges
Nama "Yakuza" memang kerap memantik kontroversi. Namun Gus Thuba menegaskan nama tersebut dipilih secara sadar dan memiliki makna tersendiri.
"Di bawah pimpinan saya, organisasi ini berdiri dengan semangat spiritual dan kemanusiaan yang kuat. Yakuza Maneges merupakan tempat bagi saudara-saudara kita yang sering kita sebut sebagai santri jalur kiri," jelas Gus Thuba dalam sambutannya, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan, istilah tersebut merujuk pada orang-orang yang pernah tersesat, berada di jalan yang keliru, atau pernah terjerumus dalam kesalahan, namun memiliki niat kuat untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar.
Dalam konsep Gus Thuba, Yakuza Maneges bukan mengadopsi gaya hidup kriminal Yakuza Jepang. Komunitas ini justru mengambil semangat perlawanan terhadap sistem yang meminggirkan rakyat kecil.
Kata "Maneges" dalam bahasa Jawa berarti jernih atau bening, menggambarkan jiwa yang tampak keras di luar namun jernih di dalam. Ideologi komunitas ini berdiri di atas tiga pilar, yakni inklusivitas, spiritualitas jalanan, dan solidaritas akar rumput.
Peresmian Yakuza Maneges berlangsung meriah dan penuh nuansa kultural. Dalam kesempatan itu, Vinanda menyambut positif kehadiran komunitas tersebut di Kota Kediri.
"Saya sangat mengapresiasi lahirnya komunitas Yakuza Maneges ini. Kediri adalah kota yang terbuka bagi siapa pun yang ingin berkontribusi positif bagi masyarakat. Komunitas ini membuktikan bahwa perubahan tidak selalu datang dari atas, ia bisa lahir dari bawah, dari jiwa-jiwa yang selama ini dianggap pinggiran. Kami dari Pemerintah Kota Kediri siap bersinergi, karena semangat Yakuza Maneges sejalan dengan visi kami membangun Kediri yang inklusif, guyub, dan berkeadaban," kata Wali Kota Vinanda Prameswati, Selasa (12/5/2026).
Vinanda juga menegaskan pemerintah kota akan mendukung komunitas yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
"Selama niatnya baik dan manfaatnya nyata untuk warga Kediri, kami hadir untuk mendukung. Bukan menghambat," imbuh Mba Wali.
Selain itu, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Edy Herwiyanto juga hadir dan memberikan apresiasi dalam deklarasi Yakuza Maneges.
Lahirnya Yakuza Maneges menjadi penanda bahwa dakwah dan gerakan sosial tidak harus tampil dalam format konvensional. Di bawah pimpinan Gus Thuba dengan semangat yang diwariskan Gus Miek, komunitas ini hadir sebagai jembatan antara masyarakat pinggiran dan nilai-nilai luhur kemanusiaan.
(auh/hil)