Viral Cerdas Cermat MPR, Senator Lia Istifhama Salut Keberanian Siswa

Viral Cerdas Cermat MPR, Senator Lia Istifhama Salut Keberanian Siswa

Aprilia Devi - detikJatim
Rabu, 13 Mei 2026 13:45 WIB
Senator Lia Istifhama.
Senator Lia Istifhama. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Polemik penilaian dalam final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral di media sosial. Insiden itu memicu kritik publik setelah dua jawaban peserta yang dinilai memiliki substansi sama justru mendapat keputusan berbeda dari dewan juri.

Sorotan publik mengarah pada pertanyaan terkait mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Pontianak yang lebih dulu menekan bel menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan Presiden. Namun jawaban itu dinyatakan salah dan peserta mendapat nilai minus.

Sebaliknya, saat pertanyaan dilempar ke regu lain dengan jawaban serupa, dewan juri justru memberikan nilai penuh. Keputusan itu langsung diprotes peserta karena merasa jawaban mereka sama.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Video perdebatan tersebut kemudian viral dan menuai beragam respons netizen. Anggota DPD RI Lia Istifhama turut menanggapi polemik tersebut. Senator asal Jawa Timur yang akrab disapa Ning Lia itu menilai respons publik menunjukkan masyarakat kini semakin kritis sekaligus humanis.

"Netizen kita sekarang lebih kritis dan juga lebih humanis. Ini modal sosial yang sangat baik, seharusnya kita memberikan apresiasi," ujar Lia, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, keberanian peserta mempertahankan jawaban yang diyakini benar menjadi bentuk integritas yang patut diapresiasi, terlebih dilakukan di forum besar.

"Jawaban mereka benar dan mereka berani menyampaikan. Itu hal yang jarang. Tapi justru disalahkan di forum besar. Saya salut dan memberikan apresiasi atas keberanian pada siswa-siswa tersebut," tegasnya.

Ia menilai publik saat ini tidak hanya bereaksi terhadap sebuah peristiwa, tetapi juga mulai mempertimbangkan aspek keadilan dan empati. Ia menyebut hal tersebut sebagai modal sosial penting dalam kehidupan demokrasi.

"Dalam konteks ini, sikap masyarakat seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk partisipasi aktif yang layak diapresiasi," kata Lia.

Polemik semakin ramai setelah pembawa acara, Shindy Lutfiana, menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial. Ia meminta maaf atas pernyataan yang dianggap kurang tepat saat merespons protes peserta dalam perlombaan tersebut.

Di sisi lain, Ning Lia juga menyoroti pentingnya menjaga integritas dalam proses penilaian, terutama dalam forum resmi yang membawa nama institusi negara.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar soal benar atau salah secara teknis, tetapi juga menyangkut integritas, keadilan, dan akuntabilitas.

"Jika aspek-aspek tersebut diabaikan, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil penilaian, melainkan kepercayaan publik," pungkasnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads