SPPG yang Bikin 200 Siswa Keracunan Juga Dikeluhkan Warga Sekitar

SPPG yang Bikin 200 Siswa Keracunan Juga Dikeluhkan Warga Sekitar

Esti Widiyana - detikJatim
Senin, 18 Mei 2026 14:30 WIB
SPPG Bubutan Surabaya yang sebabkan 200 siswa keracunan ternyata dikeluhkan juga oleh warga sekitarnya.
SPPG Bubutan Surabaya yang sebabkan 200 siswa keracunan ternyata dikeluhkan juga oleh warga sekitarnya. (Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Bubutan, Tembok Dukuh, Surabaya ternyata tidak hanya menyebabkan lebih dari 200 siswa dari 12 sekolah keracunan. Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lokasinya berada di Jalan Demak Madya itu ternyata juga dikeluhkan warga sekitar yang terganggu suara ompreng di malam hari.

Keluhan warga ini diunggah dalam kiriman video yang menunjukkan suasana malam di rumah warga yang berdekatan dengan SPPG tersebut. Suara ompreng MBG di malam hari yang membuat warga sekitar merasa terganggu itu pun viral di media sosial.

Salah satu warga yang tinggal di sekitar SPPG Bubutan, Tembok Dukuh yang enggan disebutkan namanya menceritakan bahwa di dapur itu karyawannya dibagi 3 sif kerja. Jam kerja pertama memasak sekitar pukul 21.00 WIB-22.00 WIB malam, dimulai dari proses pemotongan bahan-bahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lalu jam 12 malam mulai memasak dan menimbulkan polusi udara, karena ventilasi yang menghadap ke rumah warga. Padahal seharusnya ventilasi atau exhouse itu menghadap ke atas," ujar warga tersebut kepada detikJatim, Senin (18/5/2026).

"Lalu ada juga shift kedua dimulai jam 6 pagi hingga jam 10 pagi, yaitu shift pemorsian. Setelah itu MBG dikirim ke sekolah. Lalu muncul shift 3 dimulai jam 14.00-23.00 malam. Datang lah ompreng dan dimulai shift ompreng yang suaranya seperti dilempar-lempar, bisa sampai jam 00.30," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Warga itu mengeluhkan SPPG yang seolah tidak menghiraukan warga di sekitar lokasi pengolahan makanan tersebut. Terutama berkaitan dengan suara ompreng yang mengganggu jam istirahat warga.

"Sebagai pemilik sppg sepertinya tidak punya rasa kemanusiaan. Bayangkan di sini ada lansia, ada balita, ada bayi. Apakah tidak memikirkan hal tersebut omprengnya menganggu, warga juga butuh istirahat," tambahnya.

Warga itu sudah melapor ke RT dan kelurahan. Pihak RT bahkan sudah menyampaikan teguran kepada pengelola SPPG. Namun teguran itu dirasa warga tidak dihiraukan. Oleh pihak RT, warga bersangkutan disarankan sambat ke Kelurahan Tembok Dukuh. Tapi di sana laporannya hanya dicatat dan dijanjikan akan dihubungi.

"Sampai saat ini tidak dihubungi, bahkan pesan WhatsApp juga belum dijawab," katanya.

Karena sudah melaporkan ke kelurahan dan RT tidak mempan, akhirnya warga itu menyampaikan teguran secara langsung kepada pihak SPPG Bubutan Tembok Dukuh. Dia sampaikan teguran soal suara ompreng serta sejumlah kegiatan lain yang mengganggu yang dikeluhkan warga.

Aktivitas selain suara ompreng itu di antaranya ventilasi asap dari makanan yang menghadap ke rumah warga, lahan parkir yang tidak mumpuni karena menyewa rumah yang memiliki halaman tidak terlalu luas, dan tidak adanya etika baik dari sang pemilik kepada warga terdampak.

"Sempat mereka menyetel musik dangdut saat jam masak, langsung saya tegur keras! Sempat berhasil, musik dangdut berhenti. Namun suara karyawan berisik di malam hari juga terdengar. Saya juga sempat menegur parkiran yang berserakan di kanan kiri jalan kampung, tapi SPPG merasa sudah diizinkan oleh RT dan kelurahan," jelasnya.

Setelah tahu bahwa ternyata SPPG Bubutan Tembok Dukuh yang selalu dikeluhkan warga setempat ternyata juga menyebabkan ratusan siswa keracunan, sebagai warga ia pun berharap SPPG tersebut ditutup selamanya.

"Pasti saya sebagai warga yang terdampak ingin SPPG tersebut ditutup. Kalau bisa dipindahkan jangan membangun SPPG ditempat yang padat penduduk. Saya menemukan SPPG Tembok Dukuh 2 dibangun di pinggir jalan, dia menyewa gudang besar di pinggir jalan raya, sehingga tidak mengganggu warga," katanya.

SPPG Bubutan menurutnya sudah tidak layak untuk dijadikan tempat produksi menu MBG. Apalagi warga dikagetkan dengan kabar bahwa SPPG Bubutan Tembok Dukuh ternyata menangani 13 sekolah.

"Harapan saya semoga SPPG yang meracuni dan merugikan banyak warga di Surabaya ini segera ditutup dan diberikan sanksi yang sepantasnya," harapnya.




(auh/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads