Marcel Radhival atau tersohor dengan julukan Pesulap Merah membongkar dugaan praktik pesugihan di Keraton Gunung Kawi, Kabupaten Malang. Pesulap Merah dibuat syok saat juru kunci menyebut nama politisi hingga artis diklaim pernah melakukan ritual disana.
Melalui akun media sosialnya, Marcel sendiri menyampaikan bahwa kedatangan ke Keraton Gunung Kawi demi menjawab rasa penasaran netizen terkait dugaan adanya praktik pesugihan dan penggunaan tumbal di lokasi sakral tersebut.
Menanggapi permintaan tersebut, Marcel langsung menemui juru kunci (kuncen) setempat untuk menggali informasi secara langsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di luar dugaan, sang juru kunci menyambut pertanyaan Marcel dengan sangat terbuka dan berani menyebutkan nama-nama besar tanpa sensor atau inisial.
Dari hasil obrolan tersebut, Marcel mendapati bahwa tempat itu bukanlah sarang jin seperti yang ditakuti banyak orang, melainkan tempat ritual kepercayaan kejawen.
"Banyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya. Setelah saya ngobrol-ngobrol sama kuncen juru kunci, dan luar biasanya juru kunci ini ngomong tidak pakai inisial-inisial ketika ditanya, dia ceplas-ceplos saja sebut nama," ujar Marcel menceritakan awal penelusurannya itu.
Berdasarkan penuturan juru kunci kepada Marcel, ritual di Keraton Gunung Kawi sebenarnya diwajibkan membawa bunga serta dupa.
Tujuannya adalah sebagai sarana untuk menyampaikan segala permohonan dan hajat kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan kepada makhluk gaib.
Menariknya, sang juru kunci membeberkan deretan tokoh ternama yang pernah menginjakkan kaki di sana untuk melakukan acara dan ritual. Mulai dari artis legendaris masa lalu hingga figur modern pernah menyambangi tempat ini.
"Banyak, mulai dari artis dan penyanyi jaman dulu, Ice Trisnawati, Edi Sud, sampai Pance Pondaag yang pertama kali kesini. Untuk selanjutnya, yang biasa di stasiun TV itu juga banyak, seperti Sarwendah," ungkap sang juru kunci saat diwawancarai Marcel.
Tidak hanya dari kalangan selebritas, pesona Keraton Gunung Kawi rupanya juga menarik perhatian tokoh politik besar di Indonesia sebelum mereka menduduki jabatan tertinggi negara.
Juru kunci mengungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga pernah datang ke lokasi tersebut jauh sebelum ia memimpin Indonesia.
"Kalau sebelum jadi presiden iya, Pak Jokowi sebelum jadi presiden masih akan mencalonkan Wali Kota Solo. Pak Jokowi sendiri datang, waktu itu kan dia masih pengusaha meubel," tutur juru kunci blak-blakan.
Marcel awalnya mengira pernyataan gamblang dari sang juru kunci hanya spontanitas saat bersamanya.
Namun setelah melakukan penelusuran lebih lanjut, ia menemukan fakta bahwa kuncen tersebut memang konsisten menyebutkan nama-nama tokoh yang sama kepada kreator konten lain yang datang sebelumnya.
"Setelah saya upload (video eksplore Keraton Gunung Kawi), ternyata kuncen berbicara seperti itu bukan kali ini saja. Nama-nama yang disebutkan, di video teman saya yang juga meminta wawancara kuncen, juga menyebutkan nama-nama yang sama. Jadi sudah disebutkan jauh-jauh hari sama si kuncen ini," jelas Marcel.
Dengan begitu, Marcel pun semakin meragukan kebenaran deretan nama yang diungkap oleh juru kunci.
Bahkan, dia mencurigai penyebutan nama-nama pesohor itu memang disengaja, untuk menarik perhatian.
Bagi Marcel, kedatangannya ke Gunung Kawi murni karena memenuhi permintaan netizen sekaligus didorong rasa penasaran mengenai siapa saja tokoh publik yang memercayai hal-hal tradisional tersebut.
Ia menegaskan bahwa apa yang terjadi di Keraton Gunung Kawi bukanlah ritual pemujaan setan, melainkan bagian dari tradisi kejawen.
Meski menghormati budaya tersebut sebagai bagian dari keragaman, Marcel yang merupakan seorang muslim mengingatkan pengikutnya untuk tetap berpegang teguh pada syariat agama masing-masing dalam mencari kelancaran rezeki.
"Karena sebenarnya itu bukan ritual jin-jin, bukan, tapi itu ritual kepercayaan Kejawen. Kalau kita yang muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu, karena itu merupakan kepercayaan kejawen," tandasnya.
(irb/hil)