Hasil uji laboratorium sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan ratusan siswa dan guru keracunan di Surabaya hingga kini belum diterima Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya. Padahal, hasil pemeriksaan tersebut semestinya sudah keluar pada awal pekan ini.
Sebanyak 210 siswa dan guru dilaporkan mengalami keracunan yang diduga berasal dari lauk daging krengsengan produksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bubutan Tembok Dukuh pada Senin (11/5/2026).
Kepala Dinkes Surabaya dr Billy Daniel Messakh mengatakan, pihaknya hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harusnya sudah keluar (hasil lab MBG yang sebabkan ratusan siswa keracunan). Kita belum dapat info," kata Billy kepada detikJatim, Kamis (21/5/2026).
Sebelumnya, usai kejadian keracunan massal tersebut, Dinkes Surabaya melakukan investigasi kesehatan lingkungan di dapur SPPG Bubutan Tembok Dukuh. Dari hasil pemeriksaan ditemukan sejumlah faktor risiko yang berpotensi memicu kontaminasi pangan.
"Hasil investigasi kesehatan lingkungan dan penelusuran proses pengolahan pangan menemukan beberapa faktor risiko yang berpotensi menyebabkan kontaminasi pangan," ujarnya saat hearing di DPRD Surabaya, Rabu (13/5).
Dalam rapat dengar pendapat tersebut, Billy menjelaskan proses pencairan (thawing) daging dilakukan pada suhu ruang selama sekitar dua jam menggunakan metode perendaman dan aliran air. Kondisi tersebut dinilai berisiko meningkatkan pertumbuhan bakteri.
Selain itu, ditemukan jeda waktu yang cukup panjang dalam proses pengolahan, mulai perebusan, pendinginan, pengirisan hingga pemasakan akhir daging. Dinkes juga mendapati bahan pangan matang masih disimpan bercampur dengan bahan pangan mentah dalam chiller.
Tak hanya itu, petugas menemukan keberadaan lalat di sejumlah area dapur produksi. Beberapa akses terbuka juga dinilai berpotensi menjadi jalur masuk vektor pembawa penyakit.
Menurut Billy, alat penangkap serangga (insect trap) yang tersedia belum bekerja optimal sehingga standar higiene dan sanitasi pangan dinilai belum terpenuhi.
"Proses itu 2 jam lamanya. Selama itu lingkungan lalat cukup banyak. Lalu trap insect tidak memenuhi standar, lalat bisa keluar masuk. Pintu masuk dapur juga mestinya ada penghalang juga tidak ada, mudah sekali insect masuk. Ada area yang kita tangkap juga kemarin jangan jangan tikus juga masuk lewat situ," jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan akan memberikan sanksi tegas apabila terbukti terdapat kelalaian dari pihak penyedia MBG yang menyebabkan ratusan siswa mengalami keracunan.
"Maka ketika ada keracunan, maka saya minta ada sanksi yang tegas kepada SPPG. Apakah SPPG ini ditutup? Apakah SPPG ini salah?," tegas Eri di Gedung Pemkot Surabaya, Senin (18/5).
(auh/hil)
