Sebanyak 9 WNI anggota Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) yang tergabung dalam misi GSF 2.0 ditangkap Israel. Salah satunya yakni Herman Budianto Sudarsono, relawan kemanusiaan asal Ponorogo.
Adik Herman, Diah Puspasari (48) mengatakan keberangkatan Herman ke Palestina murni didasari alasan kemanusiaan. Herman disebut sudah beberapa kali terlibat dalam misi kemanusiaan ke wilayah konflik tersebut.
"Ini sudah dua atau tiga kali ke Palestina. Mereka berangkat karena ingin mengingatkan bahwa Palestina ini belum merdeka," kata Diah, Kamis (21/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga terakhir berkomunikasi dengan Herman sekitar 19 hingga 20 April 2026. Saat itu, keluarga belum mengetahui jika Herman ikut dalam rombongan pelayaran kemanusiaan dari Turki menuju Gaza.
"Dia cuma pamit di grup keluarga saja. Karena memang beliau sering ke luar negeri, jadi kami menganggap biasa," jelas Diah.
Menurut Diah, sebelum ditangkap tentara zionis, Herman sempat melakukan siaran langsung melalui Instagram. Diah menduga siaran langsung itu dilakukan sesaat sebelum kapal mereka diintersep tentara Israel.
"Iya sempat live di IG, tapi enggak ada suaranya. Kayaknya memang sengaja live, terus HP-nya dibuang ke laut untuk menghilangkan jejak," katanya.
Diah mengaku keluarga sangat khawatir dengan kondisi Herman dan relawan lainnya setelah beredar video dugaan penyiksaan terhadap para tawanan.
"Kita lihat video tadi saja sudah enggak kuat. Enggak bisa membayangkan seperti apa di sana. Harapan kita cuma semoga mereka kuat dan bisa pulang ke Indonesia dengan selamat," tutur Diah sambil menahan tangis.
Ia menyebut dalam kapal yang ditumpangi Herman terdapat sekitar delapan relawan asal Indonesia. Sebagian di antaranya berasal dari lembaga kemanusiaan.
"Satu kapal itu katanya ada delapan orang Indonesia," ujarnya.
Diah menceritakan sosok kakakya memang selama ini dikenal aktif berorganisasi sejak muda. Setelah lulus sekolah di Ponorogo, Herman merantau ke Jakarta dan membiayai kuliahnya sendiri hingga akhirnya menjadi jurnalis dan berkarier di media.
"Dari SMP, SMA memang aktivis. Dia orangnya baik, santun, dan memang vokal membela Palestina," ujar perempuan asal Jalan Cinde Wilis, Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Ponorogo itu.
Kini, Diah hanya bisa berdoa dan berharap Herman dan teman-temannya bisa segera dibebaskan dengan selamat oleh Israel. Ia juga mendesak pemerintah Indonesia untuk bertindak atas keselamatan warganya.
"Harapan kita doa dari semuanya, orang Indonesia ataupun teman-teman yang sudah mengetahui berita ini, mohon doanya untuk keselamatan kakak saya dan teman-temannya," ujar Diah.
"Kepada pemerintah untuk segera bertindak bagaimana membebaskan para tawanan dari Indonesia. Karena kita melihat di sana ternyata disiksa dan kita sudah enggak berdaya," katanya.
Dilansir detikNews, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengatakan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh tentara Israel bertambah dua orang. Dengan begitu, total ada sembilan WNI dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, yang diculik oleh pasukan Israel.
"Betul," kata Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kemlu RI, Heni Hamidah, saat dikonfirmasi, Rabu (20/5/2026). Heni menjawab soal 9 WNI diculik Israel.
Berikut 9 WNI yang diculik tentara Israel berdasarkan laporan GPCI:
1. Herman Budianto Sudarsono. (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
2. Ronggo Wirasanu. (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
3. Andi Angga Prasadewa - (GPCI - Rumah Zakat) Kapal Josef
4. Asad Aras Muhammad - (GPCI - Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
5. Hendro Prasetyo. (GPCI - SMART 171) Kapal Kasr-1
6. Bambang Noroyono. (REPUBLIKA) Kapal BoraLize
7. Thoudy Badai Rifan Billah (REPUBLIKA) Kapal Ozgurluk
8. Andre Prasetyo Nugroho - (Tempo) Kapal Ozgurluk
9. Rahendro herubowo (Tim Media GPCI dan iNews) Kapal Ozgurluk
(auh/abq)