BPOM Terjunkan Tim ke SPPG di Jember Buntut 18 Siswa TK-PAUD Keracunan

BPOM Terjunkan Tim ke SPPG di Jember Buntut 18 Siswa TK-PAUD Keracunan

Yakub Mulyono - detikJatim
Kamis, 21 Mei 2026 22:20 WIB
Siswa TK-PAUD di Jember keracunan MBG saat mendapat perawatan medis
Siswa TK-PAUD di Jember keracunan MBG saat mendapat perawatan medis (Foto: Dok. Istimewa)
Jember -

Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jember bergerak cepat menelusuri dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sejumlah murid Taman Kanak-Kanak (TK) di Jember. Petugas telah mendatangi lokasi di Jalan Teratai, Kecamatan Kaliwates, yang merupakan penyedia makanan.

Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM Jember, Yusita Harminingsih, membenarkan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi makanan untuk para siswa.

"Petugas dari Balai POM di Kabupaten Jember hari ini sudah melakukan penelusuran ke SPPG terkait yang mengolah makanan bagi peserta terdampak," katanya, Kamis (21/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, BPOM masih menunggu hasil investigasi lanjutan untuk memastikan penyebab pasti para siswa mengalami gejala keracunan. Sementara untuk pengambilan sampel makanan, prosesnya akan diserahkan kepada pihak Dinas Kesehatan.

ADVERTISEMENT

"BPOM sendiri memilih fokus untuk menguliti prosedur pengolahan makanan di dapur MBG tersebut. Jadi, penelusuran difokuskan pada cara atau prosedur pengolahan makanan," ujarnya.

Yusita menjelaskan, bahwa potensi keracunan dalam program MBG memang bisa dipicu oleh banyak faktor. Pasalnya, program ini memproduksi makanan dalam skala besar dan harus didistribusikan ke banyak lokasi sekaligus.

"Ini proses yang kompleks, mulai dari pengolahan dalam jumlah besar, distribusi ke lokasi penerima, hingga jeda waktu antara pemasakan dan konsumsi yang berpotensi tidak sesuai SOP," paparnya.

Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa setiap dapur MBG atau SPPG wajib memegang teguh standar operasional prosedur (SOP) di setiap tahapan produksi. Hal ini krusial agar investigasi bisa dilakukan dengan cepat jika terjadi insiden darurat.

"Setiap proses harus memiliki SOP, sehingga jika terjadi kejadian seperti ini, bisa ditelusuri di tahap mana kesalahan terjadi," ungkapnya.

Berkaca dari rentetan kasus keracunan makanan yang pernah ditangani, Yusita menyebut biang keladi paling umum biasanya berasal dari kontaminasi mikrobiologi, khususnya bakteri. Bakteri ini bisa menyusup dari mana saja, mulai dari peralatan masak, kualitas air, bahan baku, hingga higienitas penjamah makanan.

"Kebanyakan kasus disebabkan oleh agen mikrobiologi, terutama bakteri," terangnya.

Sebagai langkah antisipasi baku, setiap dapur pengelola MBG sebenarnya diwajibkan mengamankan sampel makanan yang mereka produksi selama 2×24 jam. Sampel inilah yang nantinya akan diuji di laboratorium jika ada laporan keracunan.

"Pengujian dilakukan terhadap sampel makanan yang disimpan. Setiap SPPG wajib menyimpan sampel selama 2×24 jam," tandasnya.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads