Ratusan Warga Korban Lapindo Salat Idul Adha di Tepi Tanggul Lumpur

Ratusan Warga Korban Lapindo Salat Idul Adha di Tepi Tanggul Lumpur

Suparno - detikJatim
Rabu, 27 Mei 2026 07:46 WIB
Ratusan korban Lapindo salat Idul Adha di tepi tanggul lumpur di Porong Sidoarjo
Ratusan korban Lapindo salat Idul Adha di tepi tanggul lumpur di Porong Sidoarjo (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Ratusan warga korban semburan lumpur Lapindo menggelar salat Idul Adha. Salat digelar di area seberang tanggul penahan lumpur Lapindo, tepatnya di sekitar Desa Jatirejo dan halaman Masjid Nurul Azhar, Porong, Sidoarjo.

Tradisi tahunan ini menjadi momen penuh haru sekaligus ajang silaturahmi bagi warga yang telah 20 tahun tercerai-berai akibat bencana tersebut.

Warga yang kini tinggal di berbagai daerah sengaja datang untuk mengikuti salat Id bersama di lokasi yang dahulu menjadi kampung halaman mereka sebelum tenggelam oleh lumpur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Yayasan Nurul Azhar Muhammad Masruq mengatakan, salat Idul Adha di dekat tanggul memiliki makna mendalam bagi para penyintas Lumpur Lapindo.

ADVERTISEMENT

"Ini menjadi ajang reuni tahunan bagi warga terdampak lumpur yang dulu tinggal di sini. Mereka datang khusus untuk salat dan bertemu kenalan lama. Ada yang dari Malang, luar Sidoarjo hingga warga lama Porong," kata Masruq kepada detikJatim, Rabu (27/5/2026).

Menurutnya, lokasi salat yang berada persis di depan tanggul menjadi sarana refleksi dan mengenang desa-desa yang kini hilang akibat semburan lumpur sejak 29 Mei 2006.

Masruq menegaskan, meski kawasan sekitar Masjid Nurul Azhar kini sudah sepi dan tak lagi masuk dalam peta wilayah lama, aktivitas dakwah dan pelayanan sosial tetap berjalan.

"Meski lokasi Masjid Nurul Azhar persis di depan Lumpur Lapindo sudah tidak ada warga, bahkan dihapus dari peta wilayah dan masuk kelurahan sebelah, kami tetap bertahan dan menjalankan amanah warga yang sudah pindah," ujarnya.

Ia menyebut keteguhan tersebut menjadi bagian dari teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS yang tetap berdakwah dalam kondisi apa pun.

"Keteguhan berdakwah harus terus berjalan meski berat dan sepi pengingat," tambahnya.

Pada Idul Adha tahun ini, pihak yayasan tetap melaksanakan penyembelihan hewan kurban berupa 5 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Seluruh sapi merupakan titipan jamaah lama yang dahulu tinggal di sekitar wilayah terdampak.

Sementara tiga kambing berasal dari program hadyu sesuai ketentuan KPHU Kementerian Agama dan fatwa ulama Mesir.

"Daging kurban sebagian besar kami serahkan kembali kepada mudahi untuk dibagikan kepada tetangga dan warga di tempat tinggal mereka sekarang. Sebagian lagi untuk jamaah aktif masjid, panitia dan warga Porong," jelasnya.

Masruq mengatakan sekitar 80 persen penerima daging kurban merupakan warga Porong yang menjadi korban lumpur Lapindo yang masih menetap di sekitar wilayah terdampak.

Selain menjadi pusat ibadah, Masjid Nurul Azhar juga tetap aktif menjalankan layanan sosial bagi warga korban Lumpur Lapindo.
Yayasan tersebut hingga kini masih mengelola panti asuhan dan lembaga kesejahteraan sosial yang membantu anak-anak korban bencana agar tetap bisa bersekolah.

"Kami membantu biaya pendidikan anak-anak warga terdampak yang kesulitan ekonomi minimal sampai SMA, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi. Alhamdulillah sudah ada yang lulus dan bekerja sampai luar Jawa," ungkapnya.

Tak hanya itu, yayasan kini juga telah memiliki dua pondok pesantren, salah satunya berada di kawasan industri Ngoro dengan sekitar 70 santri dan 1.500 siswa.

Masruq sendiri merupakan warga terdampak Lumpur Lapindo yang rumahnya dulu berada di sekitar area tersebut. Ia telah menjabat Ketua Yayasan Nurul Azhar sejak awal semburan lumpur hingga sekarang.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads