23 Sekolah Tenggelam, 5 SDN Negeri Kini Mangkrak Tanpa Murid

20 Tahun Lumpur Lapindo

23 Sekolah Tenggelam, 5 SDN Negeri Kini Mangkrak Tanpa Murid

Suparno - detikJatim
Kamis, 28 Mei 2026 21:15 WIB
Sekolah mangkrak yang terdampak semburan lumpur lapindo
Sekolah mangkrak yang terdampak semburan lumpur lapindo (Foto: Suparno/ detikjatim)
Sidoarjo -

Semburan Lumpur Lapindo, di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, yang berlangsung sejak 29 Mei 2006, tidak hanya menenggelamkan ribuan rumah warga dan lahan produktif tetapi juga memukul dunia pendidikan. Tercatat sedikitnya 23 bangunan sekolah tenggelam akibat luapan lumpur panas dan 5 SD Negeri yang mangkrak.

Puluhan fasilitas pendidikan tersebut terdiri dari 10 sekolah negeri, 8 sekolah swasta, dan 5 sekolah agama atau pondok pesantren yang berada di kawasan peta terdampak lumpur Lapindo.

Lima sekolah dasar negeri (SDN) yang terdampak yakni SD Negeri Pajarakan Kecamatan Jabon, SD Negeri Mindi 1 dan Mindi 2, SD Negeri Jatirejo 1, dan SD Negeri Pamotan 1 Kecamatan Porong Sidoarjo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain sekolah yang tenggelam, sejumlah sekolah di Ring I kawasan tanggul lumpur juga perlahan mati karena kehilangan peserta didik. Beberapa sekolah bahkan kini mangkrak dan tidak lagi beroperasi.

ADVERTISEMENT

Salah satunya adalah SD Negeri Mindi 1 di Kelurahan Mindi, Kecamatan Porong. Sekolah yang lokasinya hanya sekitar 1,5 kilometer dari titik semburan utama itu kini kosong tanpa aktivitas belajar mengajar.

Sulaiman (59), warga Kelurahan Mindi, mengatakan dampak lumpur Lapindo membuat seluruh warga sekitar direlokasi sehingga sekolah kehilangan murid baru setiap tahunnya.

"Bangunannya sebenarnya masih bagus dan layak. Gedungnya dua lantai dan kondisinya masih kuat. Tapi karena warga sudah pindah semua, akhirnya tidak ada siswa," kata Sulaiman, Kamis (28/5/2026).

Menurutnya, SDN Mindi 1 resmi ditutup sekitar tahun 2020. Namun sejak 2018 sekolah tersebut sudah mulai tidak mendapatkan peserta didik baru.

"Seingat saya sekitar 2018 itu sudah tidak ada murid baru. Lama-lama akhirnya ditutup," ujarnya.

Ia menyebut banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya di kawasan dekat tanggul lumpur karena faktor keselamatan dan lingkungan sekitar yang sudah sepi.

Tak hanya SDN Mindi 1, beberapa sekolah lain di Kecamatan Porong dan Jabon juga mengalami nasib serupa. Di antaranya SDN Pamotan I, SD Mindi 2, SD Jatirejo 1 hingga SD Negeri Pajarakan di Kecamatan Jabon.

Sebagian sekolah sempat dipertahankan agar tetap beroperasi, namun akhirnya mangkrak karena minim siswa dan kondisi lingkungan yang terdampak semburan lumpur.

Sementara sekolah swasta seperti MA Kholid Bin Walid dan SMK Jawahirul Ulum juga sempat menghentikan aktivitas belajar mengajar. Kedua sekolah itu bahkan pernah mengungsi dan menyewa bangunan seadanya pasca tragedi lumpur Lapindo.

Pada masa awal bencana, banyak siswa dari sekolah yang terendam terpaksa dipindahkan dan menumpang belajar di sekolah lain yang lebih aman.

Hingga kini, dampak semburan lumpur Lapindo masih menyisakan persoalan sosial panjang, termasuk hilangnya fasilitas pendidikan yang dulu menjadi pusat aktivitas warga di kawasan terdampak.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads