Turnamen sepakbola antarkampung (tarkam) Piala Ketua PSSI Banyuwangi di Lapangan Maron, Kecamatan Genteng, berujung ricuh. Kericuhan ini terjadi saat laga semifinal tim Desi Banteng FC Muncar vs Persegam Gambiran pada Kamis (28/5/2026) sore.
Aksi tawuran itu terekam video dan beredar luas di media sosial. Dalam video, terlihat para suporter saling lempar batu dan kayu. Seorang suporter yang sudah tak berdaya juga tampak jadi bulan-bulan puluhan suporter.
"Saya lihat dari jauh itu puluhan suporter menghajar seorang suporter di ujung barat dan gak ada yang berani melerai sampai tersungkur. Sepertinya parah," jelas Hermanto, warga Genteng yang menonton pertandingan tersebut, Jumat (29/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada disampaikan Murni, warga Pandan, Banyuwangi. Menurutnya, situasi sudah mencekam sebelum pertandingan dimulai. Minimnya penjagaan membuat suporter kedua tim bercampur di area lapangan.
"Saya sembunyi karena batu bertentangan dan semua barang dilempar lempar. Ada yang dipukulin tidak tahu dari suporter siapa itu," ungkap Murni mengisahkan.
Meski diwarnai aksi tawuran, pertandingan antara Desi Banteng FC melawan Persegam Gambiran pada Kamis (28/5/2026) sore tetap dilanjutkan. Laga untuk memperebutkan posisi tiga besar itu akhirnya dimenangkan Persegam Gambiran melalui adu penalti.
Dati informasi yang dihimpun dari panitia tarkam, setidaknya ada enam oang yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan medis akibat huru-hara tersebut.
"Yang dirawat di RSUD Genteng kemarin enam (orang). Dan informasinya hari ini sudah pulang semua dari RSUD Genteng," ujar panitia tarkam yang enggan disebutkan namanya.
Sesudah kericuhan itu, sempat beredar kabar seorang suporter meninggal dunia. Korban diduga berinisial EP (32), warga Muncar, yang disebut menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah penonton yang belum diketahui berasal dari kubu mana.
Namun, kabar tersebut buru-buru dibantah oleh pihak kepolisian. Petugas menyebut kabar tersebut hanya kabar burung saja. Sebab polisi menyebut seluruh korban luka-luka sudah dipulangkan semua dari rumah sakit.
"Informasi yang kami dapat tidak ada suporter yang meninggal dunia, suporter yang terluka dirawat di RSUD Genteng dan info terakhir sudah pulang ke rumah," terang Kasi Humas Polresta Banyuwangi Iptu I Made Chandra.
Michael Edy Hariyanto selaku ketua PSSI Banyuwangi akhirnya buka suara. Ia menyebut suasana panas antarsuporter memang sudah panas pada 30 menit sebelum pertandingan dimulai. Ia menduga ada provokator yang sengaja ingin membuat suasana gaduh dan merusak nama baik PSSI Banyuwangi.
"Tawuran itu kan terjadi 30 menit sebelum pertandingan, memang video yang beredar itu mengerikan sekali. Tapi saya menduga ini ada provokator yang sengaja bikin gaduh dan ingin merusak sportivitas dalam pertandingan," tegas Michael.
Michael juga memastikan tak ada yang meninggal dalam insiden tersebut, seluruh korban sudah dibawa ke RSUD dan menjalani perawatan. Rata-rata korban terluka karena lemparan batu, dan menurut Michael seluruh korban telah pulang ke rumah masing-masing.
"Tidak ada itu, tidak ada yang meninggal. Tidak benar itu, ya kalau yang luka ada karena itu memang ada lemparan batu kena kepala juga," terangnya.
Michael lantas menuding ada pihak tertentu yang mengaitkan turnamen dengan kepentingan politik mengingat statusnya sebagai ketua DPC Partai Demokrat. Padahal, keinginannya menggelar piala PSSI itu hanya ingin menciptakan iklim sepakbola di Banyuwangi yang sehat dan sportif.
"Saya ingin menciptakan sepakbola yang sehat dan baik di Banyuwangi ini, tapi ada pihak tertentu yang mengaitkan ini dengan politik karena saya dari Demokrat. Tapi jangan begitu lah, ayo kita bersama sama ciptakan sepak bola yang baik untuk Banyuwangi," tegas Michael.
Menurut Michael, kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi pada piala PSSI hingga babak semi final ini ia sebut ditargetkan untuk membuatnya mundur dari kursi ketua PSSI Banyuwangi.
"Jangan juga politik dicampurkan dengan olahraga ini, saya paham, kalau pertandingannya ndak jalan dan kerusuhan terus nanti saya mundur dari PSSI," ungkapnya.
Terpisah, pendiri sekaligus pentolan Desi Banteng FC, Desi Prakasiwi, menyesalkan sikap panitia pelaksana (panpel) yang dinilai abai. Ia menyayangkan keputusan panitia yang tetap melanjutkan sisa laga turnamen di lokasi yang sama pada Jumat sore, tanpa ada iktikad baik menjenguk para korban.
"Ini murni kesalahan panitia. Sampai detik ini belum ada panitia yang datang ke rumah sakit menjenguk korban yang jumlahnya banyak. Yang saya sesali, pertandingan hari ini masih dilanjutkan di lapangan yang sama," tegas Desi.
Menurut Desi, pihaknya sudah mengingatkan panitia sejak sesi technical meeting agar memindahkan lokasi pertandingan ke stadion resmi demi mengantisipasi tingginya potensi gesekan antar-suporter. Namun, saran mitigasi tersebut diabaikan oleh pihak penyelenggara.
"Saya sudah menyarankan pindah ke stadion karena saya menilai panitia belum siap mengamankan pertandingan di laga semifinal. Terbukti kemarin, bahkan sebelum pertandingan dimulai, bentrok antar-suporter sudah terjadi," lanjutnya.
Lebih lanjut, Desi menegaskan adanya dugaan pelanggaran unsur keselamatan oleh pihak panitia yang berpotensi masuk ke ranah pidana. Ia merujuk pada regulasi hukum yang mengatur tentang penyelenggaraan olahraga di Indonesia.
"Berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022, penyelenggara event sepak bola yang lalai memenuhi persyaratan keselamatan hingga mengakibatkan korban luka atau jiwa dalam kerusuhan, dapat dipidana penjara hingga 2 tahun dan/atau denda maksimal Rp1 miliar," pungkas Desi.
Meski diwarnai protes keras dan menyisakan korban luka, babak semifinal turnamen Piala Ketua PSSI Banyuwangi ini terpantau tetap berlanjut untuk mempertemukan kesebelasan Argent Genteng melawan Putra Minak Jinggo (PMJ) Krikilan demi memperebutkan tiket ke babak final.
(hil/abq)