Fenomena teror pocong yang belakangan viral dan meresahkan warga di sejumlah daerah di Jatim menyita perhatian publik. Jagat media sosial sempat dipenuhi reaksi masif tentang munculnya kesaksian hingga rekaman video amatir mengenai penampakan sosok misterius berbaju kafan itu di ruang publik.
Menanggapi fenomena mistis yang memicu kecemasan ini, Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Farid Pribadi angkat bicara. Ia menilai keresahan yang terjadi saat ini tidak muncul begitu saja di ruang hampa, melainkan bersumber dari konstruksi budaya lama.
"Mitos ini bukan sekedar cerita rakyat, melainkan sebuah pengetahuan sosial yang diwariskan antargenerasi sekaligus modal interpretasi warga ketika melihat sesuatu yang membungkus kain putih bergerak-gerak, wajah gosong, mengerikan, dan berlubang," kata Farid saat dihubungi detikJatim, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Farid menjelaskan, ketakutan kolektif yang terjadi saat ini merupakan imbas dari bertemunya stimulus visual dengan konstruksi budaya lama yang melekat erat di alam bawah sadar.
"Cerita, video, dan kabar yang diulang-ulang pada akhirnya oleh sebagian masyarakat semakin yakin dan muncul kepanikan kolektif bahwa teror pocong itu ancaman nyata," paparnya.
Lebih jauh, Farid membedah fenomena ini dari dua sisi motif yang berbeda, yaitu antara pragmatisme pembuat konten dan tindakan tradisional yang diambil oleh warga setempat. Dari kacamata industri kreatif digital, para pembuat konten horor yang memicu keresahan ini umumnya bertindak secara rasional demi keuntungan metrik digital.
"Misalnya. mengejar like, share, dan engagement, dan bukan karena benar-benar percaya pada hantu," ucap Farid.
Sebaliknya, reaksi histeris dan kepanikan yang ditunjukkan oleh warga-terutama kelompok masyarakat dari generasi tua-bersumber dari kepatuhan terhadap tindakan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
"Bisa jadi generasi tua mengikuti kepercayaan yang diwariskan secara turun-temurun sesuai mitos pocong yang telah diyakini sejak lama," jelasnya.
Berdasarkan catatan detikJatim, isu teror pocong ini memang sempat berkelindan dan membuat warga di berbagai daerah di Jawa Timur resah selama beberapa pekan terakhir. Rentetan peristiwa bermula dari kehebohan di Desa Tumenggungan Lamongan yang ternyata berasal dari remaja iseng yang ingin bikin konten prank.
Selanjutnya, isu teror pocong itu disusul kabar penampakan foto pocong di Baureno Bojonegoro yang sempat memicu kepanikan sebelum akhirnya dipastikan hoaks oleh pihak kepolisian setempat.
Teror serupa juga dilaporkan meluas ke pemukiman warga di wilayah Kediri, Jember, beberapa titik di Malang Raya, hingga di Bangkalan Madura yang membuat aparat keamanan setempat harus mengintensifkan patroli malam.
(ihc/dpe)
