Semburan lumpur lapindo yang telah berlangsung selama 20 tahun kini memunculkan ancaman penurunan tanah. Kondisi ini telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan cukup sulit dikendalikan.
Kepala Bidang Perencanaan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Zulyana Tandju mengakui adanya penurunan tanah. Namun tidak ada data secara spesifik data sejak 2006. Zulyana juga menyebut penurunan tanah di kawasan Lapindo sangat sulit untuk dikendalikan karena kondisi geologi wilayah Sidoarjo.
"Penurunan tanah yang terjadi di Kawasan lumpur Sidoarjo sangat sulit dikendalikan dikarenakan oleh kondisi Geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo," kata Zulyana kepada detikJatim, Senin (1/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zulyana membeberkan penurunan tanah di kawasan Lapindo dipengaruhi oleh kondisi geologi. Apalagi di Sidoarjo ada sesar aktif.
"Penurunan tanggul dipengaruhi oleh kondisi geologi yang kompleks pada kawasan lumpur Sidoarjo di antaranya yaitu adanya pengaruh sesar aktif, serta diketahui bahwa wilayah Sidoarjo merupakan daerah endapan sedimen," jelasnya.'
Faktor lainnya yang memengaruhi penurunan tanah di kawasan lumpur lapindo adalah fondasi tanggul yang tidak memiliki daya dukung tanah yang cukup.
"Selain itu juga pada pondasi tanggul lumpur Sidoarjo memiliki daya dukung tanah yang rendah," tambahnya.
Zulyana menambahkan penurunan tanah memang terjadi di Lapindo. Salah satu yang terbesar sempat terjadi pada medio 2021-2022.
"Berdasarkan data primer dan sekunder, terhadap tanggul lumpur Sidoarjo, sepanjang 11 Kilometer terjadi penurunan yang variatif," katanya.
"Di mana penurunan terbesar terjadi di tanggul sisi utara dengan penurunan yaitu sebesar 0.4 Meter tercatat pada tahun 2021-2022," tandasnya.
(ihc/dpe)