Pendaki Semeru Ilegal Terjatuh di Lereng hingga Patah Kaki

Pendaki Semeru Ilegal Terjatuh di Lereng hingga Patah Kaki

Muhammad Aminudin - detikJatim
Rabu, 03 Jun 2026 18:45 WIB
Evakuasi pendaki ilegal yang patah kaki karena terjatuh di lereng Gunung Semeru
Evakuasi pendaki ilegal yang patah kaki karena terjatuh di lereng Gunung Semeru (Foto: Dok. Istimewa)
Malang -

Seorang pendaki Gunung Semeru dilaporkan terjatuh di lereng. Operasi penyelamatan kemudian dilakukan oleh tim gabungan untuk mengevakuasi korban yang mengalami patah kaki.

Korban diketahui menyusup melalui jalur tidak resmi bersama dua rekannya saat status pendakian Gunung Semeru sebenarnya masih ditutup total akibat aktivitas vulkanik.

"Hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup sehubungan dengan aktivitas vulkanologi Gunung Semeru dan pertimbangan keselamatan pengunjung," kata Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha, Rabu (3/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rudijanta menambahkan, kejadian bermula pada Sabtu (30/5/2026), ketika tiga pendaki yang masing-masing berasal dari Semarang, Pasuruan, dan Malang nekat mendaki Gunung Semeru.

ADVERTISEMENT

Bukannya melewati pos resmi, mereka memilih masuk secara sembunyi-sembunyi melalui jalur Candi Jawar Purbakala di wilayah Ampelgading, Kabupaten Malang. Padahal jalur tersebut merupakan akses buntu.

"Itu pendakiannya ilegal dan tidak tercatat dalam sistem kami," imbuh Rudijanta.

Petaka kemudian terjadi pada Senin (1/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Saat itu korban terjatuh. Beruntung di lokasi masih ditemukan sinyal handphone lalu mengabarka terjatuh di lereng gunung dan membutuhkan pertolongan darurat.

Sebelum komunikasi terputus total, korban sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhirnya. Informasi tersebut langsung direspons oleh pihak keluarga yang segera berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading.

Malam harinya, ayah korban bersama warga setempat langsung bergerak melakukan pencarian awal menembus medan terjal selama delapan jam perjalanan kaki.

Korban akhirnya berhasil ditemukan pada Selasa (2/6/2026), pagi. Namun, beratnya medan yang curam dan minim akses membuat proses evakuasi berjalan dramatis dan membutuhkan waktu lama.

Tim tambahan dari berbagai desa sekitar serta tim gabungan dari BB TNBTS, Basarnas, dan relawan terus dikerahkan sejak Rabu (3/6/2026), dini hari. Untuk membawa korban turun menuju posko evakuasi sementara di rumah warga.

TNBTS lalu mengimbau kepada masyarakat agar tidak lagi mencoba menyusup ke kawasan Semeru selama masa penutupan berlaku. Selain melanggar hukum, tindakan spekulatif seperti ini sangat membahayakan nyawa dan menyulitkan tim SAR jika terjadi kondisi darurat di atas gunung.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipelajari dan dihormati. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di alam bebas," pungkas Rudijanta.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads