MUI Jatim Sebut Tuduhan Ning Sisca Soal Pesantren Cabul Menyesatkan

MUI Jatim Sebut Tuduhan Ning Sisca Soal Pesantren Cabul Menyesatkan

Muhammad Aminudin - detikJatim
Kamis, 04 Jun 2026 17:43 WIB
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang.
Ning Sisca Farisa Dhona saat ceramah soal pencabulan berkedok pesantren di Malang. (Foto: Istimewa/TikTok Ning Sisca Farisa Dhona)
Surabaya -

Jagat digital diramaikan dengan rekaman video ustazah asal Malang, Ning Sisca Farisa Dhona, yang secara gamblang menyebut adanya gurita kasus kekerasan seksual berselimut lembaga pendidikan agama di wilayah Malang. MUI Jatim menyebut tuduhan itu tidak mendasar dan menyesatkan.

"Sehingga ketika ada kejadian-kejadian yang saat ini viral, yang tadi itu dikatakan bahwa ada kejadian pelecehan seksual, kekerasan, dan sebagainya ya tentu itu tidak boleh digeneralisir, tidak boleh digebyah uyah. Itu adalah perilaku oknum, kelembagaan pesantrennya ya tujuannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terutama untuk menata moral, menata akhlak. Itu tujuan pesantren didirikan semacam itu," kata Sekretaris MUI Jatim KH Hasan Ubaidillah kepada detikJatim, Kamis (4/6/2026).

Ubaidillah mengatakan, kejadian di pesantren utamanya terkait kekerasan seksual dan sebagainya mayoritas dilakukan oleh oknum. Menurutnya, ceramah Ning Sisca bentuk penyesatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Adapun di sana ada kejadian-kejadian itu adalah oknum yang tidak bisa kemudian dikatakan banyak pesantren, banyak itu berapa? siapa pelakunya? Pesantrennya seperti apa? Jangan kemudian seperti kita itu menggebyah uyah. Coba kita lihat di Jatim mulai dari Banyuwangi, Pacitan, Sumenep, Magetan terus semua itu kan banyak pesantren-pesantren besar yang memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara," jelasnya.

"Pesantren itu menjadi tolak ukur penanaman aqidah dan akhlak dari generasi bangsa kita. Belasan juta santri, maka tentunya kejadian-kejadian yang semacam ini tidak boleh kemudian menjadi stigma bahwa pesantren itu digebyah uyah, digeneralisir semuanya seperti itu. Ini merupakan penyesatan-penyesatan dan mungkin ya kita tidak tahu motif di balik itu apa, hingga kemudian diviralkan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Ubaidillah mengimbau ke masyarakat dan umat islam di Indonesia untuk benar-benar selektif dan memfilter berbagai informasi yang menstigma serta mendiskreditkan institusi pesantren.

"Perlu diingat bahwa lembaga pendidikan pesantren itu merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan Indonesia belum berdiri, pesantren sudah ada. Maka perjalanan dan sejarah panjang pesantren jangan kemudian disimplifikasi, kemudian direduksi hanya karena ada beberapa kejadian yang itu kebetulan plangnya atau papan namanya bertuliskan pesantren. Jangan, jangan disimplifikasi seperti itu, jangan direduksi peran pesantren yang luar biasa bagi bangsa dan negara ini," jelasnya.

"Jangan direduksi dengan kejadian-kejadian yang timbul belakangan ini dan belum sepenuhnya terbukti bahwa itu memang pesantren yang benar-benar terdaftar di Kementerian Agama secara legal formal, dan juga diakui serta dijadikan rujukan masyarakat," tandasnya.




(hil/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads