Cuaca di Surabaya dan sejumlah daerah di Jawa Timur belakangan terasa cukup kontras. Siang hari terik menyengat, sementara malam hingga dini hari udara terasa lebih dingin.
Kondisi ini disebut umum terjadi saat memasuki awal musim kemarau. Di Surabaya misalnya, BMKG menyebut suhu saat siang berpotensi mencapai 36 derajat celcius dan malam hari pada kisaran 22-24 derajat celcius. Perubahan suhu yang cukup drastis tersebut bisa berdampak pada kondisi tubuh jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ahli Gizi dari Ottimmo International, Dr Heni Adhianata menyebut, ada sejumlah tips yang bisa diterapkan masyarakat agar tubuh tetap fit di tengah cuaca yang berubah-ubah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama yang perlu diperhatikan adalah pola makan dan minum. Ia menyarankan masyarakat membatasi konsumsi minuman tinggi gula serta gorengan yang dapat memengaruhi kondisi tubuh.
"Di siang hari bisa dibatasi minuman yang tinggi gula karena minuman tinggi gula itu kadang membuat badan kita lama-kelamaan lemas," kata Heni saat dihubungi detikJatim, Senin (8/6/2026).
Ia juga menyarankan masyarakat mengurangi konsumsi makanan tinggi minyak seperti gorengan dan beralih ke pilihan yang lebih sehat.
"Hindari camilan yang goreng-gorengan karena nanti juga bisa menyebabkan radang. Lebih baik camilannya diganti yang minim minyak atau bahkan lebih baik mengonsumsi buah-buahan," ujarnya.
Untuk menjaga daya tahan tubuh, Heni menyarankan memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Ia merekomendasikan buah dan sayuran dengan kandungan air tinggi.
"Buah dan sayur bisa dipilih yang kandungan airnya tinggi seperti semangka, jeruk, timun, tomat. Selain untuk memenuhi asupan vitamin juga bisa membantu menambah asupan cairan bagi tubuh," jelasnya.
Di tengah cuaca panas, kebutuhan cairan tubuh juga tidak boleh diabaikan. Heni menegaskan konsumsi air putih minimal 2 liter per hari tetap harus dipenuhi. Jumlah itu bisa ditambah jika lebih banyak beraktivitas di luar ruangan.
"Untuk minimalnya tetap 2 liter. Kalau aktivitas fisiknya lebih banyak di luar atau aktivitas berat bisa ditambah karena tubuh berkeringat lebih banyak," tuturnya.
Selain air putih, minuman isotonik seperti air kelapa juga dapat menjadi alternatif untuk membantu menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat aktivitas di bawah terik matahari.
"Di siang hari bisa mengonsumsi minuman isotonik seperti air kelapa. Itu juga bisa membantu hidrasi tubuh lebih cepat," imbuhnya.
Tak kalah penting, masyarakat juga diminta menjaga imunitas tubuh dengan memperbanyak asupan vitamin C dari buah dan sayur. Menurut Heni, perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam membuat tubuh lebih rentan sakit.
"Perubahan suhu yang ekstrem itu membuat kita lebih rentan terkena penyakit seperti flu, batuk," katanya.
Heni pun menyarankan aktivitas fisik ringan untuk menjaga kebugaran tubuh.
"Aktivitas fisik ringan misalnya di pagi hari jalan kaki 15 sampai 30 menit itu bisa membantu supaya selama seharian aktivitas berjalan lancar," ujarnya.
Ia turut membagikan tips penggunaan pakaian yang bisa membantu melindungi tubuh. Penggunaan baju yang nyaman, tidak terlalu tebal, berbahan yang mudah menyerap keringat, serta tidak berwarna gelap disarankan saat siang hari.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB, penggunaan topi atau kacamata juga dapat membantu mengurangi paparan panas.
Sedangkan saat malam hari, masyarakat disarankan menggunakan pakaian yang lebih hangat atau selimut saat tidur. Bagi yang memiliki alergi dingin, minuman hangat seperti jahe, madu, atau teh hangat dapat membantu tubuh lebih nyaman saat beristirahat.
"Kalau memang ada alergi dingin, sebelum tidur bisa minum air hangat, madu hangat, jahe hangat atau teh hangat supaya ketika tidur juga nyaman," pungkasnya.
(auh/hil)