Warga Desa Gempolsari, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diliputi rasa khawatir menyusul belum dialirkannya air dan lumpur dari area penampungan ke Sungai Porong. Kondisi tersebut mengingatkan warga pada peristiwa amblesnya tanggul penahan lumpur pada tahun 2018 yang nyaris mengancam permukiman.
Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan mengatakan, ketinggian air di kolam penampungan saat ini hampir mencapai bibir tanggul. Kedalaman air diperkirakan sekitar satu meter dari puncak tanggul sehingga membuat warga waspada.
"Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter," kata Sudarmawan kepada detikJatim, Rabu (10/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, apabila tanggul jebol, dampaknya akan langsung dirasakan warga yang tinggal di sekitar lokasi. Sedikitnya, enam RT dengan jumlah penduduk sekitar 1.000 hingga 1.500 jiwa berada di kawasan yang berpotensi terdampak.
Sudarmawan mengingatkan, pada tahun 2018 tanggul penahan lumpur di titik 67 sisi utara Desa Gempolsari pernah ambles dengan panjang sekitar 100 meter dan kedalaman mencapai 5 meter. Peristiwa itu menjadi pengalaman yang membekas bagi warga.
"Waktu itu kondisinya sangat mengkhawatirkan. Kalau sampai jebol, dampaknya bisa seperti gelombang besar yang menerjang permukiman warga," ujarnya.
Selain ancaman tanggul, warga juga menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. Hingga kini, belum ada bantuan air bersih yang diterima masyarakat sehingga kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi dengan membeli air.
"Setiap hari warga membeli sekitar enam sampai delapan jeriken air dengan biaya kurang lebih Rp 20 ribu. Sementara air rembesan yang ada di sekitar lokasi tidak bisa digunakan karena berbau tidak sedap," jelasnya.
Di sisi lain, warga juga mengeluhkan adanya kadar garam yang tinggi mengakibatkan kerusakan rumah di sekitar kawasan tanggul. Kondisi tersebut dinilai membahayakan keselamatan masyarakat dan membutuhkan penanganan segera.
Karena itu, warga berharap Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) bersama instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap kondisi tanggul, terutama saat volume air terus meningkat.
"Kami minta pengawasan diperketat dan bagian tanggul yang rawan segera diperkuat agar kejadian tahun 2018 tidak terulang lagi," tegas Sudarmawan.
Selain perbaikan tanggul, warga juga berharap pemerintah dapat menyediakan bantuan air bersih yang layak konsumsi serta memperbaiki fasilitas umum yang rusak, termasuk jaringan kabel listrik di sekitar lokasi.
"Warga hanya ingin merasa aman. Jangan sampai menunggu terjadi bencana baru kemudian dilakukan penanganan," pungkasnya.
(dpe/hil)