4.191 Warga Surabaya Derita TBC, Dinkes Masifkan Tracing dan Screening

4.191 Warga Surabaya Derita TBC, Dinkes Masifkan Tracing dan Screening

Esti Widiyana - detikJatim
Kamis, 11 Jun 2026 14:00 WIB
Kepala Dinkes Surabaya Billy Daniel Messakh.
Kepala Dinkes Surabaya Billy Daniel Messakh. Foto: Esti Widiyana/detikJatim
Surabaya -

Sebanyak 4 ribu lebih warga Kota Pahlawan mengidap tuberculosis (TBC). Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya memasifkan tracing dan screening untuk menanggulangi penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis itu.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya Januari-Mei 2026, dari target penemuan 61.624 suspek atau terduga TBC, sebanyak 44.088 orang telah diperiksa atau mencapai 71,54 persen. Sementara capaian skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau 45,78 persen dari target 50 persen jumlah penduduk yang harus diskrining.

"Dari estimasi 11.412 kasus TBC pada 2026, sebanyak 4.191 kasus berhasil ditemukan, terdiri atas 4.078 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 113 kasus TBC resistan obat (RO). Saat ini, sebanyak 4.166 pasien TBC tengah menjalani pengobatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di Surabaya," kata Kepala Dinkes Surabaya Billy Daniel Messakh, Kamis (11/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ada kasus TBC SO, sebanyak 3.443 pasien atau 84,43 persen telah memulai pengobatan. Sedangkan dari 113 kasus TBC RO yang ditemukan, sebanyak 90 pasien atau 79,65 persen telah menjalani terapi.

Tingkat keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) TBC SO di Surabaya tercatat mencapai 89,36 persen, sementara angka kematian pasien TBC selama menjalani pengobatan berada di angka 1,80 persen.

ADVERTISEMENT

Dinkes Surabaya juga mencatat sebanyak 2.461 investigasi kontak telah dilakukan, dan 2.729 orang mendapatkan terapi pencegahan kontak serumah sebagai bagian dari upaya memutus rantai penularan.

Ia mengatakan, saat ini terdapat lima area di Surabaya yang menjadi fokus tracing dan screening setiap pekan. Tracing dilakukan terhadap orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Sedangkan, screening menyasar masyarakat yang tidak bergejala maupun tidak memiliki riwayat kontak dengan penderita.

"Sampai bulan Mei kemarin kita sudah lakukan pemeriksaan itu terhadap sekitar 50 persen lebih dari 68.000 estimasi (target penemuan) yang diberikan Kemenkes ke Kota Surabaya," ujarnya.

Tracing dan screening dilakukan di sejumlah fasyankes, seperti Puskesmas Sawah Pulo, Kelurahan Ujung, Kecamatan Semampir. Dinkes Surabaya juga menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), dokter spesialis paru, serta residen paru.

Selain itu, ada sekitar enam orang dan kepala instalasi rawat inap (irna). Tidak hanya dukungan tenaga medis, dr Billy menyebut kegiatan tersebut juga memanfaatkan teknologi pemeriksaan terbaru yang dinilai dapat mempermudah deteksi TBC.

"Ada alat untuk pemeriksaan baru. Kalau selama ini kan kita harus pakai dahak. Nah, kesulitan untuk dapat dahak ini, ternyata ada alat yang bisa membantu kita, cukup saliva atau air liur saja kita bisa mendeteksinya. Pengembangan metode pemeriksaan tersebut mendapat dukungan tim ahli dari China dan Korea," jelasnya.

Langkah penanganan TBC di Surabaya dilakukan segera setelah pasien terdiagnosis. Obat dan paket terapi telah tersedia di seluruh puskesmas untuk memastikan pasien dapat segera menjalani pengobatan.

Untuk memastikan keberhasilan pengobatan, Dinkes Surabaya juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, dan tim Dinkes dalam memantau kepatuhan pasien mengonsumsi obat.

"Sehingga obat yang diberikan benar-benar diminum karena terapinya cukup banyak. Itu yang membuat kadang-kadang pasien lelah. Nah, kita motivasi terus sehingga mereka tetap semangat," tuturnya.

"Kita harapkan paling tidak target dari Kementerian Kesehatan itu kita bisa dapat, sehingga angka eliminasi TB (tahun 2030) yang diharapkan itu tercapai," pungkasnya.

Target tersebut sejalan dengan Perpres Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang menargetkan angka kejadian TBC turun menjadi 65 kasus per 100.000 penduduk dan angka kematian menjadi 6 kasus per 100.000 penduduk pada 2030.




(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads