Cerita Ojol Surabaya yang Tetap Beli Pertamax Meski Harga Naik

Cerita Ojol Surabaya yang Tetap Beli Pertamax Meski Harga Naik

Aprilia Devi - detikJatim
Jumat, 12 Jun 2026 08:15 WIB
Sejumlah ojol di Surabaya tetap isi Pertamax meski beban pengeluaran jadi bertambah
Sejumlah ojol di Surabaya tetap isi Pertamax meski beban pengeluaran jadi bertambah. (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Kenaikan harga Pertamax membuat sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Surabaya berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, biaya operasional harian mereka bertambah, namun mereka dilema beralih ke bahan bakar subsidi karena khawatir berdampak pada performa dan kondisi mesin kendaraan.

Tak heran, untuk para ojol, kendaraan adalah aset utama untuk mencari nafkah. Oleh karena itu, meski harga Pertamax naik, sebagian dari mereka memilih tetap bertahan menggunakan bahan bakar nonsubsidi demi menjaga kenyamanan dan keamanan saat berkendara.

Salah satunya dirasakan Bayu (25), pengemudi ojol asal Surabaya. Ia mengaku kenaikan harga Pertamax cukup terasa karena pengeluaran untuk bahan bakar menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya kerasa memberatkan. Biasanya isi Rp 15 ribu masih dapat lebih dari satu liter, sekarang sudah nggak sampai satu liter," kata Bayu kepada detikJatim, Jumat (11/6/2026).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, Bayu mengaku belum berencana beralih ke jenis BBM subsidi. Menurutnya, ia sudah terbiasa menggunakan Pertamax dan merasa performa motor lebih nyaman saat digunakan bekerja seharian.

"Saya sudah biasa pakai Pertamax. Kalau buat kerja setiap hari, mesin tarikannya juga lebih nyaman, khawatir jadi perlu perawatan lebih kalau ganti BBM," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Abdul (40), warga Surabaya yang beberapa tahun ini bekerja sebagai ojol. Ia mengaku kenaikan harga Pertamax menambah beban pengeluaran harian.

"Kalau dibilang ya berat, naiknya kan hampir sekitar Rp4 ribu ya. Pengeluaran pasti bertambah. Tapi saya tetap pilih Pertamax karena buat menjaga mesin juga," katanya.

Abdul menuturkan motor yang digunakan hampir seharian untuk mengantar penumpang dan pesanan makanan itu membutuhkan bahan bakar yang menurutnya lebih cocok dengan spesifikasi kendaraan.

Selain itu, faktor keselamatan dan kenyamanan berkendara juga menjadi pertimbangan utama.

"Ini kan soal kenyamanan dan keamanan saat di jalan, untuk penumpang juga. Kalau mesinnya terawat kan kerja juga lebih tenang, apalagi misal harus jarak jauh," tuturnya.

Sejak kemarin, Abdul masih menimbang-nimbang apakah akan terus bertahan dengan Pertamax atau harus berganti apabila kondisinya dirasa semakin berat.

"Ini hari kedua ya, saya masih lihat lah, mempertimbangkan. Tapi sejauh ini masih pakai Pertamax," pungkasnya.

Diketahui, Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM non subsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green. Mulai Rabu 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp 16.250/liter dari sebelumnya Rp 12.300/liter. Sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) naik menjadi Rp 17.000/liter dari sebelumnya Rp 12.900/liter.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads