Tanggul Lumpur Lapindo di Titik 71 Kritis, Warga Khawatir Jebol

Tanggul Lumpur Lapindo di Titik 71 Kritis, Warga Khawatir Jebol

Suparno - detikJatim
Jumat, 12 Jun 2026 15:45 WIB
Tanggul lumpur Lapindo di titik 71
Tanggul lumpur Lapindo di titik 71 (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Warga yang berada di sekitar area tanggul penahan lumpur Lapindo di titik 71 semakin resah. Pasalnya, permukaan lumpur ke puncak tanggul hanya tinggal puluhan sentimeter saja.

Warga yang resah ini diketahui tinggal di perbatasan Kelurahan Siring, Kecamatan Porong dan Kelurahan Ketapang Keres, Kecamatan Tanggulangin. Kawasan tersebut persis berada di tanggul titik 71.

Permukaan air dan lumpur saat ini disebut sudah mendekati bibir tanggul. Jarak antara permukaan lumpur dengan puncak tanggul diperkirakan hanya tersisa sekitar 60 hingga 70 sentimeter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanggul yang berada di sisi timur Tol Porong tersebut diduga mengalami penurunan tanah. Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) sendiri kini tengah melakukan peninggian tanggul.

Salah seorang warga sekaligus pemandu wisata Lumpur Lapindo, Sastro, mengatakan kondisi tersebut sudah terlihat sejak dua hari terakhir dan membuat warga sekitar waswas.

ADVERTISEMENT

"Kalau melihat kondisi sekarang memang mengkhawatirkan. Permukaan lumpur sudah sangat dekat dengan bibir tanggul. Ini sudah berlangsung sekitar dua hari terakhir," kata Sastro kepada detikJatim, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, kondisi tanggul di titik 71 perlu mendapatkan perhatian serius karena berada tidak jauh dari sejumlah infrastruktur vital.

"Kalau sampai terjadi sesuatu, yang terancam bukan hanya area penampungan lumpur, tetapi juga rel kereta api dan Jalan Raya Porong lama yang berada di sekitar kawasan ini," ujarnya.

Sastro menambahkan, meski PPLS telah mulai mengalirkan air dan lumpur ke Sungai Porong dalam beberapa hari terakhir, kondisi di titik 71 justru dinilai semakin kritis karena volume lumpur di area penampungan masih tinggi.

"Memang sudah mulai dialirkan ke Sungai Porong, tetapi kondisi tanggul di sini masih membuat warga khawatir karena permukaan lumpurnya tetap tinggi," imbuhnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Sebab tanggul lumpur di kawasan Desa Jatirejo, Kecamatan Porong pernah jebol. Insiden ini terjadi pada masa awal bencana Lumpur Lapindo.

Sastro menuturkan, pada akhir tahun 2006, tanggul penahan lumpur di kawasan belakang Koramil Porong mengalami kerusakan yang kemudian berujung pada jebolnya tanggul pada 9 November 2006.

Saat itu, lumpur panas mengalir deras ke wilayah permukiman warga dan kawasan yang berbatasan langsung dengan rel kereta api.

"Kalau melihat bentuk tanggul yang sekarang ditambah seperti di titik 71 ini, saya jadi teringat kondisi tanggul di Jatirejo sebelum jebol dulu. Warga tentu khawatir kejadian serupa terulang," jelasnya.

Peristiwa jebolnya tanggul di Desa Jatirejo kala itu menjadi salah satu titik krisis terberat dalam sejarah semburan Lumpur Lapindo. Rangkaian ambrol dan amblesnya tanggul menyebabkan kawasan tersebut akhirnya ditenggelamkan secara permanen.

Karena itu, warga berharap PPLS terus melakukan pemantauan dan langkah antisipasi agar kondisi tanggul di titik 71 tetap aman dan tidak menimbulkan ancaman bagi masyarakat maupun infrastruktur di sekitar kawasan Porong dan Tanggulangin.




(abq/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads