Banyak umat Islam mengetahui bahwa puasa Asyura pada 10 Muharram merupakan salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, tidak sedikit yang masih bertanya-tanya, mengapa Nabi Muhammad begitu menganjurkan puasa pada hari tersebut?
Apakah hanya karena tradisi yang sudah ada sebelumnya, atau ada peristiwa besar yang melatarbelakanginya? Jawabannya berkaitan dengan sejarah penting yang terjadi pada masa Nabi Musa AS, sekaligus menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT atas pertolongan-Nya kepada para nabi dan orang-orang beriman.
Untuk memahami alasan di balik anjuran puasa Asyura, penting melihat kronologi sejarah dan hadis-hadis sahih yang menjadi landasannya. Berikut kronologi dan penjelasan selengkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Hari Asyura?
Kata "Asyura" berasal dari bahasa Arab 'asyarah yang berarti sepuluh. Hari Asyura merujuk pada tanggal 10 Muharram, salah satu hari yang memiliki keutamaan dalam kalender Islam.
Dalam sejarah Islam, tanggal ini dikaitkan dengan berbagai peristiwa penting. Namun, alasan utama Rasulullah SAW menganjurkan puasa Asyura berkaitan dengan peristiwa keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun.
Alasan Nabi Muhammad Menganjurkan Puasa Hari Asyura
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, ia mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya mengenai alasan mereka menjalankan puasa tersebut.
Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa kaum Yahudi berpuasa sebagai bentuk rasa syukur karena Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kezaliman Fir'aun.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW bersabda bahwa umat Islam memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Nabi Musa AS dibandingkan mereka. Karena itu, ia kemudian berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari tersebut. Hadis riwayat Imam Bukhari menyebutkan:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya: Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata, 'Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir'aun.' Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.' Lalu beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari hadis tersebut, terlihat bahwa alasan utama Nabi Muhammad SAW menganjurkan puasa Asyura adalah sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kemenangan kebenaran atas kebatilan dan pertolongan Allah kepada para nabi-Nya.
Puasa Asyura Sudah Dikenal Sebelum Islam
Menariknya, puasa Asyura ternyata sudah dikenal sebelum kewajiban puasa Ramadan diturunkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah RA disebutkan bahwa masyarakat Quraisy pada masa Jahiliah juga menjalankan puasa Asyura.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تُصُومُ يَوْ عَاشُورَاءَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ [متفق عليه]
Artinya: Dari Aisyah RA diriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy pada masa Jahiliah biasa berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan kaum muslimin untuk melaksanakannya. Ketika puasa Ramadan diwajibkan, puasa Asyura tidak lagi menjadi kewajiban. Barang siapa ingin berpuasa maka dipersilakan, dan barang siapa tidak ingin maka dipersilakan meninggalkannya. (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa Asyura memiliki sejarah yang panjang. Setelah puasa Ramadan diwajibkan, status puasa Asyura berubah menjadi sunah, tetapi Rasulullah SAW tetap menganjurkannya karena keutamaannya yang besar.
Keutamaan dan Hikmah Puasa Asyura
Selain memiliki latar belakang sejarah yang kuat, puasa Asyura juga menyimpan banyak keutamaan. Karena itulah Rasulullah SAW tetap menganjurkan umat Islam untuk mengamalkannya meskipun setelah puasa Ramadan diwajibkan, status puasa Asyura berubah dari wajib menjadi sunah.
Puasa Asyura bukan hanya menjadi bentuk syukur atas pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan orang-orang beriman, tetapi menjadi simbol kemenangan iman atas kezaliman. Kisah tenggelamnya Fir'aun mengajarkan bahwa sebesar apa pun kekuasaan manusia, tidak akan mampu mengalahkan kehendak Allah SWT.
Di sisi lain, puasa Asyura juga memiliki keutamaan besar bagi umat Islam. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa amalan ini dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
وَصِيَامُ يَوْمٍ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya: Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu. (HR Muslim)
Hadis inilah yang menjadikan puasa Asyura sebagai salah satu puasa sunah yang paling dianjurkan setelah puasa Ramadan. Anjuran tersebut bukan sekadar mengikuti tradisi yang telah ada, melainkan sebagai bentuk syukur atas pertolongan Allah SWT kepada Nabi Musa AS dan kemenangan kebenaran atas kezaliman.
Puasa Asyura juga memiliki keutamaan besar, yakni menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah berlalu. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan amalan di bulan Muharram dengan menjalankan puasa Tasu'a dan Asyura.
(irb/hil)
