Kisah pilu datang dari Dusun Sumengko, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Seorang lansia bernama Suparman (76) hidup sebatang kara di sebuah gubuk sederhana yang berada di area pemakaman desa, jauh dari permukiman warga.
Setiap hari, Mbah Suparman harus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Dengan kondisi fisik yang kian menua, ia berjalan tertatih-tatih menyusuri area makam untuk mengambil air bersih menggunakan jeriken plastik kecil yang digunakan untuk kebutuhan memasak dan minum.
Gubuk bambu sederhana yang menjadi tempat tinggalnya berdiri di tengah area pemakaman. Bangunan itu tampak rapuh dengan kondisi yang jauh dari kata layak huni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di dalamnya, suasana terasa gelap dan pengap dengan lantai tanah serta berbagai barang yang ditata seadanya.
Untuk memasak, Mbah Suparman mengandalkan tungku sederhana berbahan batu bata yang menggunakan kayu bakar. Ia mengumpulkan ranting-ranting kering di sekitar lokasi untuk menyalakan api dan merebus air menggunakan panci yang telah menghitam karena sering digunakan.
Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk di lincak bambu di depan gubuk. Dalam kesendirian, ia memandangi area pemakaman yang setiap hari menjadi teman hidupnya.
Bagian dalam rumahnya tampak remang-remang. Tumpukan pakaian lusuh dan botol plastik bekas terlihat berserakan di dekat area tungku memasak. Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan yang harus dijalani Mbah Suparman setiap hari.
Saat ditemui di dalam gubuknya, Mbah Suparman mengaku telah lama hidup seorang diri di tempat tersebut. Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, ia menceritakan kesehariannya yang penuh keterbatasan.
"Kulo mriki nggih piyambakan. Sabendino nggih ngeten niki, masak nggo kayu, pados banyu nggih diangkat piyambak sekuat-kuate suku kulo. (Saya di sini sendirian. Setiap hari ya begini ini, masak pakai kayu, cari air diangkat sendiri sekuatnya saya)," ujarnya, Minggu (14/6/2026).
Sementara untuk makan sehari-hari, ia menunggu belas kasihan orang lain.
"Nek mboten enten sing ngeteri dhahar, nggih kulo nrimo sak wontene. Kulo pun sepuh, mboten pantes yen repotake tiang sanes (Kalau tidak ada yang mengirim makanan, ya saya menerima seadanya. Saya sudah tua, tidak pantas merepotkan orang lain)," tutur Mbah Suparman dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, Mbah Suparman tetap berusaha menjalani hari-harinya dengan tabah. Kesunyian area pemakaman dan gubuk sederhana yang ditempatinya menjadi saksi perjuangan seorang lansia yang bertahan hidup seorang diri di usia senja.
(auh/hil)
