- Apa Itu Sesar Darat?
- Daftar Sesar Darat Aktif di Jawa Timur 1. Sesar Kendeng, Sesar Besar yang Melintasi Jawa Timur 2. Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala 3. Sesar Pasuruan hingga Banyuwangi
- Apakah Sesar Darat Bisa Menyebabkan Gempa Besar?
- Selain Sesar Darat, Ada Ancaman Gempa Megathrust di Selatan Jawa
- Gempa Besar yang Pernah Terjadi di Jawa Timur
- Mitigasi dan Kesiapsiagaan Gempa Bumi 1. Kenali Risiko Gempa di Daerah Tempat Tinggal 2. Pastikan Bangunan Memenuhi Standar Tahan Gempa 3. Siapkan Tas Siaga Bencana 4. Ketahui Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul 5. Lakukan Simulasi Penyelamatan Saat Gempa 6. Pantau Informasi Resmi dari BMKG dan BNPB
Jawa Timur dikenal sebagai salah satu wilayah yang cukup aktif secara tektonik di Indonesia. Selain dipengaruhi aktivitas subduksi di selatan Pulau Jawa, provinsi ini juga memiliki sejumlah sesar atau patahan aktif yang berada di daratan dan berpotensi memicu gempa bumi.
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 yang diterbitkan PuSGeN, jumlah segmen sesar aktif di Pulau Jawa meningkat dari 36 segmen pada peta 2017 menjadi 82 segmen pada peta 2024.
Penambahan ini bukan berarti gempa akan lebih sering terjadi, melainkan menunjukkan semakin banyak sesar yang berhasil diidentifikasi dan dipetakan melalui penelitian yang lebih detail.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data tersebut menjadi acuan penting bagi pemerintah dan masyarakat dalam memahami risiko gempa bumi, sekaligus merancang pembangunan yang lebih aman terhadap bencana.
Apa Itu Sesar Darat?
Sesar darat adalah retakan atau patahan pada kerak bumi yang berada di wilayah daratan dan masih aktif bergerak. Pergerakan ini dapat berlangsung sangat lambat selama bertahun-tahun, tetapi sewaktu-waktu bisa melepaskan energi dalam bentuk gempa bumi.
Menurut sumber yang sama, Indonesia kini memiliki 401 segmen sesar aktif yang telah teridentifikasi. Di Pulau Jawa, jumlah sesar yang dipetakan meningkat cukup signifikan dibandingkan peta sebelumnya, karena adanya temuan baru dan pembaruan data penelitian.
Daftar Sesar Darat Aktif di Jawa Timur
Jawa Timur memiliki sejumlah sesar aktif yang tersebar dari wilayah barat, utara, hingga timur provinsi. Pemutakhiran data dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024 menunjukkan sesar-sesar tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan sebagian di antaranya melintasi kawasan padat penduduk.
Beberapa sesar berada di sekitar Surabaya dan Madura, sementara yang lain tersebar di Pasuruan, Probolinggo, hingga Banyuwangi. Berikut daftar sesar darat aktif di Jawa Timur beserta karakteristik dan perkiraan magnitudo maksimum yang dapat dihasilkan berdasarkan kajian ilmiah terbaru.
1. Sesar Kendeng, Sesar Besar yang Melintasi Jawa Timur
Salah satu sistem sesar yang paling banyak mendapat perhatian adalah Sesar Kendeng atau dikenal pula sebagai bagian dari sistem Java Back-arc Thrust (JBT). Sesar ini membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Sesar Kendeng memiliki sejumlah segmen yang melintasi wilayah padat penduduk. Beberapa segmen penting di Jawa Timur, antara lain Sesar Surabaya, Sesar Waru, Sesar Cepu, Sesar Pandan, Sesar Drenges, hingga Sesar Situbondo.
Sesar Surabaya diperkirakan memiliki potensi magnitudo maksimum hingga Mw (magnitudo momen) 6,7. Sementara Sesar Waru yang berada di sekitar Surabaya dan Sidoarjo diperkirakan mampu menghasilkan gempa bumi hingga Mw 6,8.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa angka tersebut merupakan potensi magnitudo maksimum yang dapat dihasilkan sesar, bukan prediksi bahwa gempa bumi akan terjadi dalam waktu dekat.
2. Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala
Selain Sesar Kendeng, Jawa Timur juga memiliki sistem sesar lain yang cukup panjang, yakni Zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS). Zona sesar ini membentang dari wilayah utara Jawa Timur hingga Pulau Madura dan Kepulauan Kangean.
Di dalamnya terdapat sejumlah segmen, seperti Sesar Bojonegoro, Sesar Tuban, Sesar Sumenep, Sesar Baliga, Sesar Brakas, dan Sesar Mandangin.
Salah satu yang cukup dekat dengan Surabaya adalah Sesar Somorkoning di Pulau Madura. Berdasarkan kajian PuSGeN, sesar ini diperkirakan pernah aktif pada abad ke-17 dan memiliki potensi gempa hingga sekitar Mw 6,5.
Keberadaan sesar-sesar tersebut menunjukkan bahwa wilayah utara Jawa Timur yang selama ini dianggap relatif tenang, ternyata juga menyimpan aktivitas tektonik yang perlu dipahami lebih lanjut.
3. Sesar Pasuruan hingga Banyuwangi
Di wilayah timur Jawa Timur, sejumlah sesar aktif lainnya juga telah dipetakan. Salah satunya adalah Sesar Pasuruan yang memiliki jejak aktivitas cukup jelas.
Penelitian menunjukkan sesar ini telah mengalami sedikitnya enam kali pergerakan permukaan dalam kurun sekitar 4.000 tahun terakhir. Potensi magnitudo maksimum yang dapat dihasilkan diperkirakan mencapai Mw 6,4.
Selain itu, terdapat Sesar Probolinggo dengan potensi magnitudo sekitar Mw 6,1, dan Sesar Wongsorejo di Banyuwangi yang diperkirakan dapat menghasilkan gempa hingga Mw 5,9.
Temuan-temuan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas sesar di Jawa Timur tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi tersebar dari kawasan barat, utara, hingga timur provinsi.
Apakah Sesar Darat Bisa Menyebabkan Gempa Besar?
Sesar darat dapat menyebabkan gempa bumi yang merusak, terutama jika pusat gempa berada dekat dengan permukaan dan wilayah permukiman.
Meski umumnya memiliki magnitudo yang lebih kecil dibandingkan gempa megathrust, gempa akibat sesar darat dapat menimbulkan guncangan yang kuat karena jaraknya yang dekat dengan daratan.
Sejumlah sesar aktif di Jawa Timur diperkirakan memiliki magnitudo maksimum antara Mw 5,9 hingga Mw 7,0. Namun, perlu dipahami bahwa angka tersebut merupakan estimasi magnitudo maksimum yang dapat dihasilkan berdasarkan hasil kajian ilmiah.
Hingga saat ini, belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara pasti kapan gempa akan terjadi. Karena itu, informasi mengenai sesar aktif lebih ditujukan untuk meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat, bukan untuk menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Baca juga: Jejak Gempa Madura dari Masa ke Masa |
Selain Sesar Darat, Ada Ancaman Gempa Megathrust di Selatan Jawa
Di luar sesar darat, Jawa Timur juga dipengaruhi aktivitas zona subduksi atau megathrust di selatan Pulau Jawa. Segmen megathrust selatan Jawa Timur diperkirakan memiliki potensi magnitudo maksimum hingga Mw 8,8-8,9.
Bahkan, jika beberapa segmen pecah secara bersamaan, kekuatannya diperkirakan dapat mencapai Mw 9,1. Namun, para ahli menegaskan hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan gempa besar akan terjadi. Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi.
Gempa Besar yang Pernah Terjadi di Jawa Timur
Sejumlah kejadian gempa besar mengguncang Jawa Timur dalam beberapa dekade terakhir. Peristiwa-peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa wilayah ini dipengaruhi berbagai sumber gempa, mulai dari sesar aktif di daratan, sesar bawah laut, hingga zona subduksi di selatan Jawa.
Salah satu yang paling dikenal adalah gempa dan tsunami Banyuwangi pada 1994. Gempa berkekuatan Mw 7,8 yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa Timur itu memicu tsunami dan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di wilayah pesisir.
Pada 10 April 2021, gempa bermagnitudo Mw 6,1 mengguncang wilayah selatan Malang. Gempa yang berpusat di laut pada kedalaman 58 kilometer tersebut menyebabkan sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan merusak lebih dari 3.000 bangunan.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempa ini merupakan jenis gempa menengah yang dipicu aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng (intra-slab) yang menunjam di bawah Pulau Jawa.
Kemudian pada 22 Maret 2024, gempa Bawean berkekuatan Mw 6,5 mengguncang Laut Jawa. Gempa dangkal tersebut dirasakan di berbagai daerah di Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Peristiwa ini menunjukkan bahwa wilayah utara Jawa Timur dan Laut Jawa juga memiliki aktivitas seismik yang perlu terus dipantau.
Gempa besar kembali terjadi pada 30 September 2025 di wilayah tenggara Kabupaten Sumenep. BMKG memutakhirkan kekuatan gempa dari magnitudo 6,5 menjadi magnitudo 6,0 dengan pusat gempa berada di laut pada kedalaman 12 kilometer.
Gempa tersebut dipicu aktivitas sesar aktif bawah laut di sekitar Madura dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault). Hingga keesokan harinya, BMKG mencatat 83 gempa susulan pascagempa utama.
Terbaru, 6 Februari 2026, gempa magnitudo 6,4 mengguncang laut di tenggara Pacitan. Gempa dengan kedalaman 10 kilometer itu tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya dirasakan hingga sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Surabaya.
Menurut analisis BMKG, wilayah selatan Jawa memang merupakan kawasan yang aktif secara tektonik karena dipengaruhi zona subduksi dan sejumlah struktur sesar di sekitarnya.
Berbagai kejadian tersebut menunjukkan bahwa Jawa Timur memiliki karakteristik geologi yang kompleks dengan sumber gempa yang beragam. Karena itu, pemahaman terhadap sesar aktif dan upaya mitigasi menjadi hal penting untuk mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Mitigasi dan Kesiapsiagaan Gempa Bumi
Keberadaan sesar aktif di Jawa Timur bukan berarti masyarakat harus hidup dalam ketakutan. Sebaliknya, informasi mengenai sumber gempa dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Dengan memahami langkah mitigasi yang tepat, masyarakat dapat mengurangi risiko dan lebih siap menghadapi bencana gempa bumi. Berikut beberapa langkah mitigasi dan kesiapsiagaan gempa bumi yang penting diketahui, dirangkum dari BMKG dan BNPB.
1. Kenali Risiko Gempa di Daerah Tempat Tinggal
Masyarakat perlu mengetahui apakah wilayah tempat tinggalnya berada dekat dengan sesar aktif atau memiliki riwayat gempa. Informasi ini dapat diperoleh melalui peta sumber gempa dan informasi resmi dari BMKG maupun BNPB.
2. Pastikan Bangunan Memenuhi Standar Tahan Gempa
Rumah dan bangunan yang dibangun sesuai standar konstruksi tahan gempa memiliki risiko kerusakan yang lebih kecil saat terjadi gempa. Pemerintah menggunakan data dari peta sumber dan bahaya gempa sebagai acuan dalam perencanaan infrastruktur.
3. Siapkan Tas Siaga Bencana
Tas siaga bencana sebaiknya berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, makanan ringan, air minum, power bank, serta perlengkapan darurat lainnya yang dapat digunakan saat evakuasi.
4. Ketahui Jalur Evakuasi dan Titik Kumpul
Anggota keluarga perlu mengetahui jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul yang aman jika sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Hal ini penting untuk mengurangi kepanikan saat keadaan darurat.
5. Lakukan Simulasi Penyelamatan Saat Gempa
Saat terjadi gempa, masyarakat dianjurkan melakukan prinsip drop, cover, and hold on, yaitu merunduk, berlindung di bawah meja atau benda yang kokoh, lalu berpegangan hingga guncangan berhenti.
6. Pantau Informasi Resmi dari BMKG dan BNPB
Setelah gempa terjadi, masyarakat sebaiknya mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB untuk mengetahui kondisi terkini, potensi gempa susulan, maupun peringatan dini tsunami.
(irb/hil)
