Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumolawang 1 di Kecamatan Puri, Mojokerto ditangguhkan gara-gara belum mempunyai IPAL yang memadai. Akibatnya, 2.423 penerima manfaat tidak mendapatkan makan bergizi gratis (MBG) selama 20 hari terakhir.
Kepala SPPG Sumolawang 1, Anta Dewinta menjelaskan, pihaknya menyuplai MBG untuk 2.423 orang penerima manfaat di 19 sekolah dan 14 posyandu. Dapur MBG di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam SMP SMA Kletek, Bojonegoro terakhir kali operasi sebelum libur Idul Adha.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, SPPG Sumolawang 1 terakhir kali mengirim MBG ke para penerima manfaat pada 25 Mei 2026. Sebab sejak 29 Mei, operasional mereka ditangguhkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Karena Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dapur MBG ini bermasalah.
"IPAL-nya masih belum standar. Dari Korwil BGN Mojokerto melakukan pendataan, IPAL yang sistem sedot tidak boleh operasi (di-suspend)," jelasnya kepada wartawan di SPPG Sumolawang 1, Dusun Pohgurih, Desa Sumolawang, Rabu (17/6/2026).
SPPG Sumolawang 1, lanjut Anta, beroperasi sejak Juni 2025. Selama hampir satu tahun, sistem IPAL mereka berupa bak penampungan yang harus rutin disedot setiap 2 minggu-satu bulan sekali ketika sudah penuh. IPAL sistem sedot ini dianggap tidak layak karena rawan meluber ke lingkungan.
"Juknisnya, air limbah keluar ke saluran pembuangan harus sudah bersih. Sedangkan sistem sedot, kalau terlambat disedot, air limbahnya meluber di area SPPG," terangnya.
Selain ribuan penerima manfaat, penangguhan operasional SPPG Sumolawang juga berdampak terhadap 47 relawan. Praktis mereka tidak bisa bekerja. Seminggu terakhir, tambah Anta, pihaknya fokus membangun IPAL sesuai ketentuan.
"(Target selesai) Ini belum tahu, masih instalasi pipa dan membuat sumur resapan lagi," tandasnya.
(auh/abq)
