Rasa penasaran terhadap Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur membuat 11 kepala desa di Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, rela menyisihkan uang selama setahun untuk bisa melihat langsung wajah ibu kota baru Indonesia. Perjalanan yang awalnya hanya berupa obrolan santai antarkepala desa itu akhirnya terwujud melalui wisata bersama yang dibiayai dari kas paguyuban.
Selama dua hari berada di IKN, para kepala desa mengunjungi berbagai titik ikonik, mulai dari Titik Nol Nusantara hingga kawasan Istana Presiden. Mereka mengaku terkesan dengan tata kota, arsitektur bangunan, hingga panorama senja yang disebut menjadi salah satu pemandangan terbaik selama kunjungan tersebut.
Berikut fakta-fakta di balik perjalanan 11 kepala desa Jombang ke IKN:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Berawal dari Rasa Penasaran pada IKN
Keinginan berkunjung ke IKN muncul saat para kepala desa berdiskusi mengenai tujuan wisata tahunan paguyuban yang rutin digelar setiap tahun. Dari berbagai pilihan yang muncul, mereka akhirnya sepakat memilih IKN karena ingin melihat secara langsung perkembangan ibu kota baru yang selama ini hanya mereka saksikan melalui media.
Kepala Desa Banjarsari Basyaruddin Saleh merupakan satu dari 11 kepala desa yang ikut pelesiran ke IKN. Menurutnya, rencana wisata ke IKN mencuat sejak Mei 2026.
"Jadi, waktu itu awalnya spontan mau wisata ke mana, lalu kami satu pemikiran ingin ke IKN karena ingin membuktikan keindahan IKN," terang Basyaruddin kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).
2. Diikuti 11 Kades
Sebelum berangkat, para kepala desa terlebih dahulu mengurus izin cuti kepada pemerintah daerah agar perjalanan tidak mengganggu tugas pelayanan kepada masyarakat. Setelah izin diterbitkan, rombongan kemudian berangkat menuju IKN pada Selasa (9/6) dan menghabiskan waktu selama dua malam di kawasan tersebut.
"Tujuannya ya memang ingin tau karena penasaran dengan IKN. Kami kan sama-sama pejabat negaranya, masa kami endak tau istana negara yang baru. Itu saja, tidak ada motif lain," jelasnya.
3. Dana Perjalanan Berasal dari Kas Paguyuban
Perjalanan wisata ke IKN tidak menggunakan anggaran desa maupun dana pemerintah, melainkan berasal dari kas paguyuban yang dikumpulkan secara rutin oleh seluruh anggota. Setiap pertemuan mingguan pada hari Rabu, para kepala desa menyetor iuran sebesar Rp 200 ribu yang kemudian dikumpulkan selama satu tahun.
"Seluruhnya pakai uang kas paguyuban, sisanya ditambah uang pribadi," bebernya.
4. Total Biaya Capai Rp 100 juta
Dana yang terkumpul dari iuran rutin selama setahun menjadi modal utama keberangkatan rombongan kepala desa ke IKN. Meski demikian, sebagian peserta juga menambah biaya dari kantong pribadi untuk memenuhi kebutuhan perjalanan selama berada di Kalimantan Timur.
"Seluruhnya pakai uang kas paguyuban, sisanya ditambah uang pribadi. Seluruhnya kemarin kurang lebih habis Rp 100 juta," terangnya kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).
5. Awalnya Ingin Wisata ke Thailand
Sebelum menjatuhkan pilihan ke IKN, para kepala desa sebenarnya sempat mempertimbangkan destinasi wisata luar negeri sebagai tujuan tahunan mereka. Namun rasa penasaran terhadap ibu kota baru Indonesia akhirnya mengalahkan rencana tersebut dan membuat mereka memilih Nusantara sebagai tujuan perjalanan.
"Awalnya malah maunya ke Thailand. Cuma tiba-tiba spontan penasaran dengan IKN. Masa jadi kades mau selesai belum tahu ibu kota yang baru," jelas Basyaruddin.
6. Kagum Lihat Pembangunan dan Tata Kota IKN
Setibanya di Kalimantan Timur, para kepala desa langsung dibuat terkesan dengan infrastruktur yang mereka lihat, mulai dari bangunan bandara hingga jalan menuju kawasan inti pemerintahan. Menurut mereka, konsep pembangunan yang modern dan rapi memberikan kesan berbeda dibandingkan kota-kota lain yang pernah mereka kunjungi.
"Kalau dari pandangan mata saya sangat kagum melihat arsiteknya. Yang asalnya hutan terus menjadi kota seperti ini," ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (17/6/2026).
7. Titik Nol Saat Senja Jadi Lokasi Favorit
Selama dua hari berada di IKN, rombongan mengunjungi berbagai lokasi penting seperti Titik Nol Nusantara, Plaza Seremoni, Plaza Bhinneka Tunggal Ika, Masjid Negara, hingga halaman Istana Presiden. Dari seluruh lokasi tersebut, Titik Nol Nusantara pada waktu senja menjadi tempat yang paling membekas karena perpaduan panorama alam dan pencahayaan kawasan yang dinilai sangat indah.
"Saya datang langsung melihat ke Istana Presiden. Semua tempat kami datangi, paling bagus menurut saya di titik nol," ungkapnya.
"Semua tempat kami datangi, paling bagus menurut saya di titik nol pas waktu senja. Mulai dari lampu hingga panorama alamnya," kata Basyaruddin.
Simak Video "Video: Peran 4 Tersangka Kasus Pertanian Ganja di Jombang"
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)
