Sejarah Berdirinya NU: Mengapa Nahdlatul Ulama Lahir dan Siapa Pendirinya?

Sejarah Berdirinya NU: Mengapa Nahdlatul Ulama Lahir dan Siapa Pendirinya?

Irma Budiarti - detikJatim
Kamis, 18 Jun 2026 17:30 WIB
Logo Nahdlatul Ulama
Logo Nahdlatul Ulama. Foto: Dok laman resmi NU Indonesia
Surabaya -

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berdiri pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 Hijriah. Organisasi ini lahir bukan hanya sebagai wadah keagamaan, tetapi sebagai respons atas berbagai persoalan umat.

Di balik pendiriannya, terdapat kisah menarik yang masih dikenang hingga kini, yakni pengiriman tongkat dan tasbih dari KH Cholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy'ari melalui santrinya, KH As'ad Syamsul Arifin.

Kisah ini menjadi salah satu bagian penting yang diyakini sebagai petunjuk spiritual lahirnya NU. Namun, sejarah NU sebenarnya jauh lebih panjang dan melibatkan perjuangan para ulama dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, hingga diplomasi internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Nahdlatul Ulama?

Dilansir laman NU Online, Nahdlatul Ulama yang berarti "Kebangkitan Ulama" merupakan organisasi keagamaan Islam yang didirikan para ulama pesantren di Indonesia, dengan tujuan menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta memperjuangkan kepentingan umat di berbagai bidang.

Sejak awal berdiri, NU dikenal sebagai organisasi yang mengedepankan sikap moderat, menghargai tradisi, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar Islam.

ADVERTISEMENT

Latar Belakang Berdirinya Nahdlatul Ulama

Sejarah berdirinya NU tidak bisa dilepaskan dari kondisi Indonesia dan dunia Islam pada awal abad ke-20. Saat itu, Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Di sisi lain, dunia Islam juga tengah mengalami perubahan besar setelah munculnya gerakan reformasi dan purifikasi di Timur Tengah, terutama setelah berdirinya pemerintahan Dinasti Saud di Hijaz atau wilayah yang kini menjadi Arab Saudi.

Para ulama pesantren khawatir terhadap kebijakan yang menolak praktik bermazhab dan menganggap sejumlah tradisi Islam, termasuk ziarah makam Rasulullah SAW, sebagai bid'ah. Kekhawatiran ini semakin besar ketika pemerintah Saudi berencana membawa kebijakan tersebut ke Muktamar Dunia Islam di Makkah.

Bagi ulama Nusantara, keberagaman mazhab dan tradisi yang berkembang selama berabad-abad merupakan bagian penting dari peradaban Islam. Karena itu, diperlukan wadah yang dapat memperjuangkan kepentingan umat Islam Indonesia, sekaligus menjaga tradisi keagamaan yang telah mengakar.

Organisasi yang Menjadi Cikal Bakal NU

Sebelum NU resmi berdiri, para ulama sebenarnya telah mendirikan sejumlah organisasi. Pada 1914, KH Abdul Wahab Chasbullah mendirikan kelompok diskusi bernama Tashwirul Afkar atau "Kebangkitan Pemikiran". Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai persoalan agama, pendidikan, dan kebangsaan.

Dua tahun kemudian, lahir organisasi Nahdlatul Wathon (1916), yang berfokus pada kebangkitan nasional dan pendidikan. Setelah itu, berdiri Nahdlatut Tujjar (1918), sebuah organisasi yang bertujuan memperkuat ekonomi umat melalui jaringan para saudagar muslim.

Keberadaan organisasi-organisasi tersebut menjadi fondasi penting bagi lahirnya NU. Dengan kata lain, NU bukanlah organisasi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari gerakan intelektual, ekonomi, dan sosial yang telah dibangun sebelumnya.

Komite Hijaz, Embrio Berdirinya NU

Momentum penting menuju kelahiran NU terjadi pada 1925. Saat itu, umat Islam Indonesia yang tergabung dalam Centraal Comite Al-Islam (CCI), yang kemudian berubah menjadi Centraal Comite Chilafat (CCC), berencana mengirim delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah.

KH Abdul Wahab Chasbullah mengusulkan agar delegasi tersebut menyampaikan aspirasi kepada Raja Ibnu Saud, agar kebebasan bermazhab tetap dipertahankan di tanah Hijaz.

Namun, usulan itu tidak mendapat dukungan penuh dari tokoh-tokoh lain. Karena itu, KH Wahab mengambil langkah sendiri dengan membentuk Komite Hijaz pada Januari 1926. Komite inilah yang kemudian menjadi embrio lahirnya Nahdlatul Ulama.

Kisah Tongkat dan Tasbih Mbah Cholil Bangkalan

Selain melalui perjuangan organisasi, sejarah NU diwarnai kisah spiritual yang hingga kini terus diceritakan. Menurut catatan Choirul Anam dalam "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama (2010)", KH Hasyim Asy'ari tidak langsung menyetujui gagasan pendirian jam'iyah yang diajukan KH Abdul Wahab Chasbullah.

Ia memilih melakukan salat istikharah untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT. Petunjuk tersebut diyakini datang melalui gurunya, KH Cholil Bangkalan.

Pada akhir 1924, KH Cholil mengutus santrinya, KH As'ad Syamsul Arifin, untuk mengantarkan sebuah tongkat kepada KH Hasyim Asy'ari di Tebuireng. Tongkat itu disertai bacaan surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa AS.

Setahun kemudian, KH As'ad kembali diutus untuk mengantarkan seuntai tasbih beserta pesan berupa dua Asmaul Husna, yakni "Ya Jabbar" dan "Ya Qahhar".

Sesampainya di Tebuireng, KH As'ad mempersilakan KH Hasyim Asy'ari mengambil sendiri tasbih tersebut dari lehernya. Ia sengaja tidak menyentuh tasbih selama perjalanan sebagai bentuk menjaga amanah dari gurunya.

Setelah menerima tasbih itu, KH Hasyim bertanya, "Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?". KH As'ad kemudian menjawab: "Ya Jabbar, Ya Qahhar". Ucapan itu diulang sebanyak tiga kali sesuai amanat KH Cholil.

Menurut riwayat yang ditulis Choirul Anam (2010:72), setelah mendengar pesan tersebut, KH Hasyim Asy'ari berkata: "Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam'iyyah."

Kapan Nahdlatul Ulama Resmi Berdiri?

Setelah memperoleh restu dan melakukan berbagai persiapan, para ulama berkumpul di Kertopaten, Surabaya, pada 31 Januari 1926. Dalam pertemuan itu, mereka membahas pengiriman delegasi Komite Hijaz ke Makkah.

Namun, muncul pertanyaan penting, lembaga apa yang akan menjadi representasi resmi para ulama pesantren? Dari sinilah lahir gagasan mendirikan organisasi baru yang diberi nama Nahdlatul Ulama.

Usulan nama tersebut dari KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Nahdlatul Ulama kemudian resmi berdiri pada 16 Rajab 1344 Hijriah, bertepatan dengan 31 Januari 1926.

Siapa Pendiri Nahdlatul Ulama?

Nahdlatul Ulama tidak didirikan satu orang. Organisasi ini lahir dari gagasan, perjuangan, dan kerja sama sejumlah ulama pesantren yang memiliki peran berbeda-bed. Berikut tokoh-tokoh utama yang berperan dalam pendirian Nahdlatul Ulama.

  • KH Hasyim Asy'ari: Pendiri sekaligus Rais Akbar pertama NU yang dikenal sebagai ulama besar dan pengasuh Pesantren Tebuireng.
  • KH Abdul Wahab Chasbullah: Penggagas utama berdirinya NU dan pendiri berbagai organisasi yang menjadi cikal bakal NU.
  • KH Cholil Bangkalan: Guru dari KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah yang diyakini memberikan restu spiritual atas pendirian NU.
  • KH As'ad Syamsul Arifin: Santri KH Cholil yang menjadi penghubung penyampaian amanah berupa tongkat dan tasbih kepada KH Hasyim Asy'ari.

Selama hampir satu abad, Nahdlatul Ulama berkembang menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota yang tersebar di berbagai daerah.

Nahdlatul Ulama berperan dalam perjuangan kemerdekaan, pengembangan pendidikan pesantren, pemberdayaan ekonomi umat, pelayanan sosial, hingga menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

Prinsip Islam moderat, toleran, dan menghargai tradisi menjadikan Nahdlatul Ulama sebagai salah satu pilar penting dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia.

Sejarah Nahdlatul Ulama menunjukkan organisasi ini lahir melalui proses yang panjang. Tidak hanya didorong kebutuhan sosial dan keagamaan, NU juga tumbuh dari perjuangan intelektual para ulama, serta ikhtiar spiritual yang mendalam.

Hingga kini, nilai-nilai yang diwariskan para pendirinya masih menjadi fondasi NU dalam menjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus berkontribusi bagi kehidupan bangsa Indonesia. Jika ingin memahami wajah Islam Nusantara saat ini, mempelajari sejarah lahirnya NU menjadi salah satu pintu masuk yang penting.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads