BMKG Ungkap Kondisi Terkini Sesar Kendeng di Bojonegoro

BMKG Ungkap Kondisi Terkini Sesar Kendeng di Bojonegoro

Faiq Azmi - detikJatim
Jumat, 19 Jun 2026 17:15 WIB
Ilustrasi Gempa
Ilustrasi gempa (Foto: Getty Images/iStockphoto/SteveCollender)
Surabaya -

Sesar Kendeng di Bojonegoro ramai diperbincangkan di Threads akun @hsuliz2021. Disebutkan, Sesar Kendeng berpotensi menimbulkan gempa di daratan hingga Magnitudo 7.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr mengungkap kondisi terkini Sesar Kendeng di Bojonegoro. Menurutnya tidak ada anomali tekanan di Sesar Kendeng Bojonegoro.

"Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT)," kata Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ricko menyebut, BMKG melakukan pengamatan gempa bumi dengan metode geofisika (seismologi) dengan menggunakan pendekatan geofisika untuk memonitor aktivitas gempa bumi, mendeteksi dengan seismometer dan menganalisis lokasi, kekuatan, kedalaman dan sumber kegempaannya.

"Sejauh ini di Wilayah Jawa Timur dan sekitarnya terus kami monitor perkembangan dan aktivitas harian. Setiap hari Jumat kami selalu mendiseminasikan hasil monitoring kami selama seminggu terakhir di media sosial kami. Sejauh ini aktivitasnya normal," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Ricko menyebut, Sesar Kendeng memang ada di sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Bojonegoro. Sesar ini melintang sejauh 300 kilometer di Pulau Jawa.

"Zona Sesar Kendeng melintang sepanjang kurang lebih 300 Kilometer di bagian Utara Pulau Jawa, membentang dari selatan Semarang Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur," terangnya.

Sesar ini, kata Ricko terbagi menjadi 6 segmen utama yang melewati berbagai wilayah perkotaan dan kabupaten di Pulau Jawa. Yakni Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (melintasi Lamongan), Segmen Surabaya (melintasi jantung Kota Surabaya), Segmen Waru (melintasi Sidoarjo).

"Secara administratif, jalurnya meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya," bebernya.

Ricko menyebut terakhir kali Sesar Kendeng beraktivitas dan berdampak cukup parah terjadi pada tahun 1915 silam. Menurutnya, Sesar Kendeng merupakan sesar yang pergerakannya lambat.

"Sesar Kendeng adalah sesar dengan pergerakan lambat, sekitar 5 milimeter per tahun dan memiliki periode ulang gempa yang cukup panjang. Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," jelasnya.

Ricko kemudian membeberkan gempa bumi akibat Sesar Kendeng yang berdampak buruk di antaranya terjadi pada tahun 1836 dan 1837 di mana gempa merusak di wilayah Mojokerto dan Ploso Jombang. Kala itu, estimasi kekuatannya mencapai Magnitudo 6 hingga 7 apabila dikonversi ke skala modern.

Selanjutnya, gempa akibat Sesar Kendeng terjadi pada tahun 1862 dan 1915, di mana gempa merusak melanda wilayah Madiun. Lalu pada tahun 1867, gempa kuat merusak wilayah Surabaya.

Lebih lanjut, Ricko membeberkan kondisi Sesar Kendeng dalam beberapa tahun terakhir.

"Dalam beberapa tahun terakhir, kami mendeteksi adanya aktivitas seismik berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5 di sepanjang jalur sesar ini," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, viral di media sosial Threads unggahan akun yang menyebut gempa berkekuatan magnitudo 6,7 di Palu dapat memicu gempa di sejumlah daerah, termasuk Bojonegoro, Jawa Timur. Hal itu pun memicu beragam komentar hingga kekhawatiran warganet.

Unggahan itu dibagikan akun Threads dengan nama pengguna hsuliz2021. Dalam unggahannya, ia meminta warga di beberapa daerah, seperti Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi," tulis akun tersebut saat dilihat detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Ia juga menyebut tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu "Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8," lanjutnya.

Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. Selain itu, arah pergerakan sesar di wilayah tersebut tidak berada dalam satu garis lurus dengan Jawa.

"(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," jelas Amien saat dihubungi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Menurut Amien, lokasi gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro dan pergerakannya menuju arah barat laut, sehingga menjauh dari Jawa.

"Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi," jelasnya.

Ia menambahkan, jika berbicara mengenai sesar di Jawa, termasuk Sesar Kendeng, faktor yang berpengaruh kemungkinan berasal dari zona megathrust di selatan Jawa.

"Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean," imbuhnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads