BMKG Minta Warga Tak Percaya Prediksi Gempa

BMKG Minta Warga Tak Percaya Prediksi Gempa

Faiq Azmi - detikJatim
Jumat, 19 Jun 2026 18:30 WIB
Ilustrasi Gempa Bumi.
Ilustrasi gempa (Foto: Jens Aber/Unsplash)
Surabaya -

Sesar Kendeng di Bojonegoro ramai diperbincangkan di Threads akun @hsuliz2021. Sesar Kendeng disebut berpotensi menimbulkan gempa di daratan mencapai Magnitudo 7.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, S.Tr menegaskan pihaknya tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa. BMKG hanya melakukan sosialisasi terkait adanya potensi gempa.

"BMKG tidak pernah mengeluarkan prediksi gempa bumi. Yang kami lakukan adalah mensosialisasikan potensi berdasarkan kajian para ahli Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN 2024) dan monitoring aktivitas kegempaan dengan jaringan seismograph kami yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," kata Ricko saat dikonfirmasi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ricko menyebut tidak ada pihak yang bisa memprediksi terjadinya gempa secara akurat. Ia mengimbau masyarakat tidak gampang percaya terhadap informasi yang beredar liar di sosial media.

"Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terkait info prediksi gempa. Karena hingga saat ini gempa masih belum bisa diprediksi oleh para ahli maupun negara manapun secara tepat kalau gempa buminya belum terjadi," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut Ricko mengatakan perlunya edukasi terhadap warga untuk berlindung diri apabila terjadi gempa bumi.

"Yang penting adalah meningkatkan kesiapsiagaan individu dengan melatih diri, apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat dan setelah kejadian gempa bumi dan tsunami bila dikeluarkan peringatan dini tsunami oleh BMKG," jelasnya.

"Kemudian memberi info kurang dari tiga menit setelah kejadian gempa untuk meminimalisir dampak ikutan dari gempa bumi baik itu tsunami, longsor, dan lainnya," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, viral di media sosial Threads unggahan akun yang menyebut gempa berkekuatan magnitudo 6,7 di Palu dapat memicu gempa di sejumlah daerah, termasuk Bojonegoro, Jawa Timur. Hal itu pun memicu beragam komentar hingga kekhawatiran warganet.

Unggahan itu dibagikan akun Threads dengan nama pengguna hsuliz2021. Dalam unggahannya, ia meminta warga di beberapa daerah, seperti Bojonegoro, Pandeglang, Padang Pariaman, dan Simeulue Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Dari kejadian gempa Kota Palu 6,7 mag hari ini, mohon teman di Bojonegoro Jatim, Pandeglang Banten, Padang Pariaman, Simeulue Aceh, waspada bisa muncul gempa skala 6-7. Ada gempa sesar darat yang lebih sulit diprediksi," tulis akun tersebut saat dilihat detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Ia juga menyebut tekanan lempeng bumi telah mencapai angka tertentu "Data tekanan lempeng bumi udah 1.200 bar, yang tertinggi masih Selat Sunda bisa 1.350 bar, arti bisa ada gempa skala 6-7-8," lanjutnya.

Pakar Geologi ITS sekaligus peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo, menjelaskan bahwa posisi Palu sangat jauh dari Pulau Jawa. Selain itu, arah pergerakan sesar di wilayah tersebut tidak berada dalam satu garis lurus dengan Jawa.

"(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung," jelas Amien saat dihubungi detikJatim, Jumat (19/6/2026).

Menurut Amien, lokasi gempa Palu berada di kawasan Sesar Palu-Koro dan pergerakannya menuju arah barat laut, sehingga menjauh dari Jawa.

"Jadi, dia ada di tengah Palu, ada di daerah sesar Palu-Koro, di sebelah utaranya lagi malah gitu. Nah, itu bergeraknya itu menuju ke arah barat laut. Jadi, kalau utara barat itu namanya barat laut, kan menjauh dari Jawa tadi," jelasnya.

Ia menambahkan, jika berbicara mengenai sesar di Jawa, termasuk Sesar Kendeng, faktor yang berpengaruh kemungkinan berasal dari zona megathrust di selatan Jawa.

"Kalau di Jawa itu memang ada sesar-sesar juga tadi, Sesar Kendeng misalnya tadi. Nah, Sesar Kendeng itu kemungkinan yang mempengaruhi adalah megathrust yang ada di Selatan Jawa kemungkinan. Karena dia didorong dari Selatan begitu. Kalau dari utara kan jarang. Dari utara itu yang terakhir kan yang sesar itu Bawean," imbuhnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads