Kereta api pernah menjadi bagian penting dalam perkembangan transportasi dan aktivitas ekonomi masyarakat Madura pada masanya. Moda transportasi ini bahkan sempat menjadi penghubung antardaerah yang membantu mobilitas warga serta distribusi berbagai kebutuhan di Pulau Garam.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola transportasi masyarakat, keberadaan kereta api di Madura perlahan mulai ditinggalkan. Meski kini jejaknya banyak yang sudah hilang, cerita tentang jalur rel dan stasiun tua di Madura masih menjadi bagian dari sejarah transportasi yang menarik untuk dikenang.
Sejarah Jalur Kereta Api di Madura
Kereta api di Madura pertama kali dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari pengembangan transportasi modern di wilayah kepulauan. Jalur rel ini dibangun secara bertahap mulai akhir abad ke-19 untuk menghubungkan wilayah barat hingga timur Madura.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir laman Indonesian Railway Preservation Society, jalur kereta api Madura pertama kali dibuka antara tahun 1898 hingga 1901. Jalurnya membentang dari Kamal di Bangkalan sampai Kalianget di Sumenep.
Pembangunan rel dilakukan bertahap sesuai wilayah operasionalnya. Jalur Kamal-Bangkalan dibuka pada 1898, kemudian dilanjutkan Bangkalan-Tunjung pada 1899. Setelah itu pembangunan terus diperluas hingga akhirnya menghubungkan berbagai daerah penting di Madura.
Pada masa itu, jalur kereta api sebagian besar dibangun sejajar dengan jalan raya di sisi selatan Pulau Madura. Kehadiran rel kereta menjadi akses transportasi modern yang cukup penting karena mampu mempercepat mobilitas barang maupun masyarakat.
Dalam buku "Madura Dalam Empat Zaman: Pedagang, Perkembangan Ekonomi, dan Islam" karya Huub de Jong disebutkan bahwa pengelolaan jalur kereta dilakukan oleh perusahaan swasta bernama Madoera Stoomtram Maatschappij.
Kehadiran kereta api kala itu menjadi simbol perkembangan transportasi modern di Madura. Selain menunjang aktivitas ekonomi, jalur ini juga mulai mengubah pola perjalanan masyarakat yang sebelumnya lebih bergantung pada jalur laut dan transportasi tradisional.
Awal Fungsi Kereta Api sebagai Angkutan Garam
Pada masa awal operasionalnya, kereta api Madura difokuskan untuk mendukung distribusi garam. Hal ini tidak lepas dari posisi Madura sebagai salah satu wilayah penghasil garam terbesar pada masa kolonial Belanda.
Menghimpun informasi dari jurnal "Madoera Stoomtram Maatschappij: Fungsi Perkeretaapian sebagai Pengangkutan Garam hingga Transportasi Umum di Madura Tahun 1897-1987", jalur kereta api awalnya digunakan untuk mengangkut komoditas garam antara Kalianget dan Kamal.
Garam dari wilayah tambak kemudian dibawa menggunakan kereta menuju pelabuhan untuk didistribusikan ke berbagai daerah lain. Sistem ini dinilai lebih efektif dibanding pengangkutan manual karena mampu membawa muatan dalam jumlah besar.
Pemerintah kolonial saat itu memang menjadikan garam sebagai komoditas penting. Karena itu, pembangunan jalur rel dianggap mendukung kepentingan ekonomi dan mempercepat distribusi hasil produksi garam Madura.
Tidak hanya mengangkut garam mentah, jalur kereta juga membantu proses distribusi garam hasil olahan dari pabrik garam di wilayah Madura. Aktivitas ini membuat kawasan stasiun dan pelabuhan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Seiring meningkatnya aktivitas distribusi, keberadaan kereta api perlahan mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan lain di luar pengangkutan garam. Dari sinilah fungsi transportasi umum mulai berkembang di Madura.
Jadi Transportasi Favorit Masyarakat Madura
Setelah tidak hanya difokuskan untuk angkutan garam, kereta api Madura mulai dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana transportasi umum. Moda transportasi ini dikenal murah dan mampu menjangkau banyak wilayah.
Kereta api menjadi pilihan utama masyarakat karena pada masa itu jumlah kendaraan darat masih sangat terbatas. Bus, mobil pribadi, hingga sepeda motor belum sebanyak sekarang sehingga kereta menjadi transportasi paling praktis.
Perjalanan kereta api Madura juga terhubung dengan kapal penyeberangan di Pelabuhan Kamal menuju Surabaya dan dari Kalianget menuju Panarukan, Situbondo.
Penumpang dari berbagai daerah di Madura biasanya turun di Stasiun Kamal untuk melanjutkan perjalanan menggunakan kapal menuju Pulau Jawa. Begitu pula sebaliknya, masyarakat dari Surabaya dapat melanjutkan perjalanan ke berbagai kota di Madura menggunakan kereta.
Selain mengangkut penumpang, kereta api juga dimanfaatkan untuk membawa barang dagangan, hasil bumi, hingga ternak. Kehadiran jalur rel ini ikut membantu aktivitas perdagangan masyarakat Madura pada masa itu.
Kereta api Madura akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Stasiun-stasiun yang tersebar di berbagai daerah menjadi titik penting aktivitas ekonomi dan mobilitas warga.
Masa Kemunduran hingga Penutupan Jalur KA Madura
Memasuki era 1960-an hingga 1970-an, keberadaan kereta api Madura mulai mengalami kemunduran. Masyarakat perlahan beralih menggunakan moda transportasi lain yang dianggap lebih cepat dan fleksibel.
Bus dan truk mulai berkembang pesat seiring pembangunan jalan raya di Madura. Kendaraan bermotor juga semakin mudah diakses sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada kereta api.
Selain faktor transportasi baru, kondisi armada kereta api di Madura juga mulai mengalami kerusakan. Jadwal perjalanan tidak menentu dan sejumlah stasiun perlahan ditinggalkan.
Sebagian jalur rel sebenarnya sudah mengalami kerusakan sejak masa pendudukan Jepang. Mengingat pada masa kolonial Jepang, banyak rel kereta dibongkar dan dimanfaatkan untuk kebutuhan perang. Jalur Kalianget hingga Pamekasan menjadi salah satu lintasan yang terdampak pembongkaran tersebut.
Akhirnya pada tahun 1987, operasional kereta api di Madura resmi dihentikan. Sejak saat itu, sebagian jalur rel dibongkar dan banyak bekas stasiun berubah fungsi atau terbengkalai.
Wacana Reaktivasi Kereta Api Madura
Meski telah lama berhenti beroperasi, wacana menghidupkan kembali jalur kereta api di Madura kembali muncul dalam beberapa tahun terakhir. Reaktivasi ini dinilai dapat mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan.
Dalam Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gerbangkertosusila, kawasan Selingkar Wilis dan Jalur Selatan, serta kawasan Selingkar Ijen, jalur kereta api Madura masuk dalam rencana pengembangan transportasi.
Rencana tersebut mencakup pengaktifan kembali jalur dari Kamal hingga Sumenep. Pemerintah bersama PT KAI dan pemerintah daerah juga sempat membahas inventarisasi aset bekas jalur rel dan stasiun.
Namun reaktivasi jalur kereta api Madura tidak hanya berkaitan dengan pembangunan rel baru. Banyak tantangan lain yang harus dipersiapkan, mulai dari pembebasan lahan hingga kesiapan infrastruktur penunjang.
Selain itu, kesiapan masyarakat juga dinilai penting dalam mendukung keberadaan transportasi kereta api di masa depan. Disiplin berlalu lintas serta kesadaran menjaga fasilitas umum menjadi bagian yang ikut disorot. Karenanya hingga kini, wacana reaktivasi kereta api Madura masih terus menjadi perhatian dan bahasan berbagai pihak.
(ihc/dpe)
