Semangat gotong royong kembali terlihat di tengah masyarakat Pamekasan. Salah satu contohnya tampak di perbatasan Desa Toronan dan Desa Kowel, di mana warga secara swadaya bergotong royong memperbaiki jalan rusak yang selama ini menjadi keluhan masyarakat.
Hampir sepekan terakhir, warga kompak melakukan pengecoran jalan secara mandiri. Hingga kini, progres perbaikan telah mencapai kurang lebih 250 meter dengan lebar jalan antara 3 hingga 4 meter.
"Sudah lama jalan ini rusak. Awalnya perbaikan dilakukan di depan Masjid Nurul A'la, kemudian bersama masyarakat kami lanjutkan hingga ke wilayah perbatasan kedua desa," ujar Kus, salah satu warga Toronan.(23/6/26).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbaikan jalan tersebut dilakukan tanpa paksaan. Dukungan datang dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat setempat hingga para donatur, termasuk pengusaha rokok serta anggota TNI dan Polri yang turut memberikan bantuan.
Fenomena warga yang secara swadaya memperbaiki jalan, jembatan, gorong-gorong, hingga saluran drainase di berbagai daerah, termasuk di Pamekasan, dinilai bukan sekadar respons atas keterbatasan pembangunan infrastruktur. Lebih dari itu, kondisi tersebut mencerminkan kebangkitan kembali budaya gotong royong yang telah lama menjadi jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia.
Amin Jabir, Staf Ahli Bidang Politik, Hukum, dan Pemerintahan yang juga mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pamekasan, menilai gotong royong merupakan karakter dasar masyarakat Indonesia tanpa memandang latar belakang daerah.
"Gotong royong sesungguhnya adalah jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Dari Papua, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa hingga Sumatera, semuanya memiliki sifat dan sikap dasar tersebut. Dengan pola dan kepribadian itulah Indonesia bisa berdiri, berkembang, sukses, dan berjaya," ujarnya.(23/6/26).
Menurut Jabir, hilangnya semangat gotong royong akan membuat bangsa Indonesia kehilangan salah satu fondasi terkuat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ia menegaskan bahwa inisiatif masyarakat yang secara swadaya membangun jalan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang keliru. Justru, fenomena tersebut merupakan bentuk kebangkitan kembali nilai-nilai gotong royong yang telah hidup sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga awal berdirinya Republik Indonesia.
"Tidak salah masyarakat berswadaya membangun jalan. Ini merupakan kebangkitan kembali gotong royong yang telah hidup sejak zaman perjuangan dan awal kemerdekaan. Kita bangkit sebagai bangsa karena gotong royong," katanya.
Jabir menjelaskan, para pendiri bangsa dahulu membangun Indonesia dengan semangat kebersamaan di tengah keterbatasan sumber daya manusia dalam mengelola kekayaan alam yang melimpah. Gotong royong menjadi modal sosial utama yang menopang pembangunan nasional.
Kini, di tengah berbagai tantangan ekonomi dan keterbatasan anggaran yang kerap dikaitkan dengan kondisi defisit, masyarakat kembali menunjukkan kemampuan untuk berkorban demi kepentingan bersama. Mereka menyumbangkan waktu, tenaga, bahkan harta untuk membangun infrastruktur yang sejatinya menjadi tanggung jawab pemerintah.
"Terbukti bahwa dengan gotong royong, masyarakat bisa berkorban waktunya, tenaganya, bahkan hartanya untuk membangun jalan, jembatan, gorong-gorong maupun drainase. Mereka mampu melakukannya tanpa harus menggugat pemerintah," ujarnya.
Meski demikian, Jabir menilai masyarakat tetap perlu mengkaji secara kritis berbagai alasan yang melatarbelakangi keterbatasan pembangunan. Menurutnya, perlu dievaluasi apakah persoalan tersebut benar-benar disebabkan oleh defisit anggaran atau terdapat faktor lain dalam pola perencanaan dan penganggaran pembangunan.
Ia juga menyoroti peran politik dalam penyelenggaraan pemerintahan. Menurutnya, politik seharusnya berfungsi sebagai penguat birokrasi, bukan sebaliknya.
"Politik seharusnya menjadi penguat birokrasi. Birokrasi menyusun dan menjalankan konsep pembangunan, sementara politik memastikan program tersebut berjalan sesuai rencana, tepat waktu, dan tepat mutu. Fungsi kontrol politik harus mengarah pada keberhasilan pembangunan, bukan menghambatnya," tegasnya.
Lebih lanjut, Jabir memandang menjamurnya gerakan swadaya masyarakat sebagai respons alamiah terhadap dinamika sosial yang terjadi. Dalam pandangannya, masyarakat akan selalu menemukan cara untuk menjaga keberlangsungan kehidupan bersama ketika menghadapi hambatan.
"Ini adalah respons sosial yang alamiah. Ketika ada hambatan yang dirasakan masyarakat, maka semangat bekerja sama, bersatu, dan berkorban akan muncul dengan sendirinya agar kehidupan bermasyarakat tetap berjalan," katanya.
Di sisi lain, ia menilai fenomena tersebut juga dapat dibaca dari sudut pandang yang berbeda. Kebangkitan solidaritas sosial melalui gotong royong bisa berjalan beriringan dengan munculnya kritik terhadap kualitas demokrasi dan tata kelola pemerintahan.
Karena itu, maraknya swadaya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah menjadi fenomena yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, hal tersebut menunjukkan kuatnya modal sosial masyarakat Indonesia yang tetap hidup dan berkembang.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa kualitas perencanaan pembangunan dan tata kelola pemerintahan tetap perlu mendapat perhatian serius.
Pada akhirnya, gotong royong kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu kekuatan utama bangsa.
Di tengah berbagai keterbatasan, semangat kebersamaan masyarakat menjadi energi sosial yang mampu menjaga pembangunan tetap berjalan dan kehidupan masyarakat terus bergerak maju.
(auh/abq)
