Gedung Setan yang terletak di Jalan Banyu Urip Wetan, Surabaya merupakan bangunan kolonial berusia lebih dari dua abad yang pernah menjadi rumah bagi puluhan keluarga lintas generasi. Namun, setelah peristiwa ambruknya atap dan dinding Gedung Setan pada Rabu (18/12/2024) lalu, bangunan itu kini terbengkalai dan kosong.
Padahal, dulu Gedung Setan tak pernah sepi. Sejak awal berdiri pada 1809, gedung itu berfungsi sebagai Kantor Gubernur Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Jawa Timur. Setelah VOC bangkrut, kepemilikan gedung itu beralih kepada Dokter Teng Sioe Hie, dokter Tionghoa lulusan Belanda yang tinggal di Indonesia.
Bangunan Belanda yang Jadi Tempat Pengungsian
Fungsi gedung pun akhirnya berubah menjadi tempat pengungsian orang-orang keturunan Tionghoa pada 1948. Tak hanya dari Jawa Timur, beberapa pengungsi juga berasal dari Jawa Tengah. Masa itu, masyarakat Tionghoa berada dalam posisi yang kurang aman karena banyak kekerasan terjadi pada etnis mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perolehan nama 'Setan' berawal dari sini. Sebab, wilayah di sekitar gedung eks milik Belanda tersebut dijadikan tempat pemakaman Tionghoa yang cukup luas. Tak jarang, gedung dimanfaatkan sebagai tempat sembahyang bagi keluarga orang-orang yang dimakamkan di sana. Minimnya penerangan juga membuat gedung tersebut tampak mengerikan dan banyak orang beranggapan bahwa itu adalah 'gedungnya setan'.
Tampak dalam gedung setan Surabaya Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim) |
Meski begitu, 40 kamar yang ada di dalam gedung ini tetap penuh terisi dan ditinggali bahkan hingga ke turunan-turunan berikutnya. Awalnya memang mayoritas penghuni Gedung Setan pasti memiliki garis keturunan Tionghoa. Namun lambat laun, terjadi pernikahan antar etnis, sehingga kini penghuni Gedung Setan berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Salah satu penghuni lama, Bimbi (64) menceritakan kepada detikJatim, Minggu (7/12/2025), "Dulu itu, sekitar tahun 1948-1965, kami membayar uang sewa untuk tinggal di sini. Namun setelah pemilik meninggalkan gedung, kami tidak diwajibkan untuk membayar sewa lagi. Hanya dipesani untuk merawat gedung dengan baik." Hingga saat ini, sebelum kejadian atap ambruk, penghuni hanya perlu membayar uang listrik masing-masing.
Kehidupan Puluhan Tahun di dalam Gedung
Gedung setinggi dua lantai dengan ukuran 400 meter persegi ini dipenuhi kamar-kamar kecil yang dijadikan tempat tinggal. Fasilitas MCK maupun toilet pun dapat dibilang terbatas untuk penghuni yang berjumlah puluhan orang tersebut. Tangga utama masih berdiri kokoh, meski beberapa bagian ada yang mulai lapuk.
Tampak dalam gedung setan Surabaya Foto: Anastasia Trifena/ detikjatim) |
Meski begitu, gedung ini menjadi saksi bagaimana perjuangan para penghuni mencari penghasilan demi sesuap nasi. Pada era 1970 an, Gedung Setan pernah menjadi pusat ekonomi kecil-kecilan. Banyak keluarga bekerja sama membuat jajanan seperti onde-onde, roti goreng, roti kukus, hingga terang bulan. Lokasi produksinya berada di lantai pertama. "Dulu rame yang beli, tetapi lama-lama tutup karena kalah dengan kue modern," kata Bimbi.
Menunggu Kepulangan Para Penghuninya
Kerusakan bangunan yang terus menua akhirnya memuncak pada Rabu (18/12/2024) malam. Sekitar pukul 18.00 WIB, atap bagian tengah ambruk. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini dan para penghuni mulai bergegas mengungsi ke kos-kosan, kontrakan, atau rumah kerabat.
Perbaikan baru dilakukan tiga bulan kemudian oleh seorang pengusaha yang menolak diketahui namanya. Berdasar pantauan detikJatim pada Minggu (7/12/2025), progress pembenaran atap sudah selesai dikerjakan. Namun beberapa dinding masih berlubang dan reruntuhan pada kamar-kamar penghuni masih berserakan.
Status Gedung Setan sebagai cagar budaya sejak 2011 ternyata tidak menjamin kelanjutan 'kehidupan' bangunan ini. Bimbi maupun penghuni lainnya berharap dapat kembali pulang ke tempat yang sudah mereka huni sejak kecil ini. Gedung Setan bagi mereka adalah rumah pertama yang sampai kapanpun akan tersimpan sebagai memori indah yang tak tergantikan.
(ihc/hil)


