Kirab Budaya Mojo Bangkit di Kota Mojokerto Ceritakan 3 Fase Majapahit

Kirab Budaya Mojo Bangkit di Kota Mojokerto Ceritakan 3 Fase Majapahit

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Sabtu, 27 Jun 2026 21:31 WIB
Kirab Budaya Mojo Bangkit
Kirab Budaya Mojo Bangkit (Foto: Istimewa)
Mojokerto -

Tak sekadar hiburan, kirab budaya Mojo Bangkit mengisahkan 3 fase Kerajaan Majapahit. Event kebudayaan yang melibatkan 1.080 peserta ini juga mengandung filosofi semangat kebangkitan Kota Mojokerto di semua aspek kehidupan.

Kirab budaya Mojo Bangkit dipusatkan di Alun-alun Wiraraja sore tadi. Parade buaya ini rangkaian Hari Jadi ke-108 Kota Mojokerto. Setidaknya 1.080 peserta menempuh rute Jalan Majapahit, Jalan Bhayangkara, Jalan Gajah Mada, sampai Kantor Wali Kota Mojokerto.

Mojo Bangkit dibuka dengan sendratari Pelangi di Atas Majapahit, lalu pembacaan sumpah kebangkitan oleh Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari (Ning Ita). Disusul atraksi marching band yang memukau dari Akademi Angkatan Laut (AAL).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purna Paskibraka dan Gus Yuk Kota Mojokerto ikut tampil dalam kirab bendera Merah Putih. Para siswa SD juga tak ketinggalan. Sekitar 320 anak tampil sebagai Soekarno Kecil dan generasi alfa diiringi permainan angklung.

Barulah kirab budaya Mojo Bangkit menyuguhkan tema Banjaran Majapahit, yakni kisah 3 fase perjalanan Kerajaan Majapahit. Mulai dari era Raden Wijaya oleh Kecamatan Magersari, era Tribuana Tunggadewi oleh Kecamatan Kranggan, sampai era Hayam Wuruk oleh Kecamatan Prajurit Kulon.

ADVERTISEMENT

Sejumlah kesenian modern dan tradisional menutup kirab budaya Mojo Bangkit. Yaitu LKBB oleh SMAN 1 dan 2 Kota Mojokerto, kirab replika Garuda Pancasila, teater modern Gumbergah Mojokertoku oleh 85 siswa SMA dan SMK, serta pertunjukan seni bantengan, kuda lumping, reog, serta barongsai dan leang leong.

"Secara filosofis, Mojo Bangkit mengandung makna kebangkitan Kota Mojokerto di berbagai aspek kehidupan masyarakat, sejalan dengan semangat Spirit of Majapahit yang terus kita gelorakan," terang Ning Ita di lokasi, Sabtu (27/6/2026).

Selain itu, lanjut Ning Ita, kirab budaya ini sebagai pesan moral kalau sejarah menjadi pondasi perjuangan dalam membangun masa depan Kota Mojokerto. Event kebudayaan ini menjadi penguat identitas Bumi Majapahit, serta kerukunan masyarakat.

"Harapan kami ke depan, kirab budaya ini menjadi ikon seni budaya tahunan Kota Mojokerto yang bisa melibatkan seluruh elemen masyarakat secara langsung," tandasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads