Sosok Kiai Ageng Ngaliman atau Mbah Ngliman, dikenang masyarakat Nganjuk sebagai tokoh penyebar agama Islam sekaligus pembabat alas Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, di lereng Gunung Wilis.
Tidak hanya itu, berdasarkan catatan sejarah, Mbah Ngliman ternyata juga pernah memimpin perlawanan rakyat terhadap penjajah Belanda pada awal abad ke-19.
Pemerhati Sejarah Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi, mengatakan, nama Mbah Ngliman sangat dihormati masyarakat setempat. Bahkan, nama Desa Ngliman diyakini berasal dari nama tokoh tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Aries, di Desa Ngliman terdapat dua makam yang sama-sama diyakini sebagai pusara Mbah Ngliman. Makam Gedong Wetan merupakan tempat peristirahatan tokoh penyebar agama Islam pada masa Mataram Islam.
Sedangkan Makam Gedong Kulon diyakini sebagai makam Kiai Ageng Ngaliman yang memimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda pada periode 1830 hingga 1832.
"Yang di Gedong Kulon inilah berdasarkan catatan sejarah merupakan tokoh penggerak pemberontakan melawan Belanda. Jejak perjuangannya bahkan tercatat dalam sejumlah dokumen Belanda," ujar Aries kepada detikJatim, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Aries, Kiai Ageng Ngaliman merupakan seorang guru ngaji yang berhasil menghimpun kekuatan rakyat untuk menentang kebijakan kolonial Belanda. Terutama penerapan tanam paksa dan tingginya pungutan pajak yang mulai diberlakukan pada 1830.
Kala itu, masyarakat Desa Ngliman dan wilayah sekitarnya dipaksa mengikuti sistem tanam paksa sekaligus menanggung berbagai jenis pajak yang sangat memberatkan. Kondisi ini memicu kemarahan rakyat hingga akhirnya Mbah Ngliman memimpin perlawanan.
"Beliau (Mbah Ngliman) dikenal masyarakat Nganjuk sebagai Mbah Ngliman atau Kiai Ageng Ngaliman. Saat rakyat tertekan akibat tanam paksa dan pajak yang tinggi, beliau menggalang perlawanan," ujar Aries.
Mbah Ngliman melakukan gerakan perlawanan secara gerilya. Ia dan pengikutnya berpindah-pindah lokasi untuk menghindari kejaran pasukan Belanda. Namun berdasarkan dokumen kolonial, Kiai Ageng Ngaliman ditangkap pada 1832.
Mbah Ngliman diyakini meninggal dunia tak lama setelah penangkapannya. Jenazahnya kemudian dibawa kembali ke Desa Ngliman untuk dimakamkan.
"Keberadaan dua makam yang diyakini berkaitan dengan sosok Kiai Ageng Ngaliman masih menjadi bagian dari sejarah dan warisan budaya masyarakat Desa Ngliman," pungkas Aries.
(auh/hil)
