Sejarah Petik Laut di Jawa Timur, Tradisi Budaya Bahari yang Sarat Makna

Sejarah Petik Laut di Jawa Timur, Tradisi Budaya Bahari yang Sarat Makna

Irma Budiarti - detikJatim
Rabu, 01 Jul 2026 12:50 WIB
Petik Laut Muncar di Banyuwangi
Petik Laut Muncar di Banyuwangi. Foto: Kartika Sari Tarigan/BeritaKlik
Surabaya -

Tradisi Petik Laut menjadi salah satu warisan budaya bahari yang masih lestari di berbagai wilayah pesisir Jawa Timur. Upacara adat ini digelar setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil laut yang melimpah, sekaligus doa agar para nelayan senantiasa diberi keselamatan saat melaut.

Di balik pelarungan sesaji dan arak-arakan perahu hias yang kini juga menjadi daya tarik wisata, Petik Laut memiliki sejarah panjang serta makna budaya yang diwariskan turun-temurun. Salah satu tradisi Petik Laut yang paling dikenal berlangsung di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, yang bertahan lebih 1 abad.

Apa Itu Tradisi Petik Laut?

Petik Laut merupakan tradisi masyarakat nelayan yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diperoleh dari laut. Selain itu, ritual ini juga menjadi doa bersama agar para nelayan selalu mendapatkan keselamatan ketika melaut, serta memperoleh hasil tangkapan yang melimpah pada musim berikutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam jurnal "Eksistensi Budaya Bahari Tradisi Petik Laut di Muncar Banyuwangi" karya Eko Setiawan (2016), dijelaskan Petik Laut merupakan salah satu bentuk budaya bahari masyarakat pesisir.

ADVERTISEMENT

Tradisi tersebut lahir dari cara pandang masyarakat yang menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, sehingga muncul ritual sebagai bentuk penghormatan sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia hasil laut.

Tak hanya di Banyuwangi, tradisi serupa juga ditemukan di sejumlah daerah pesisir Jawa Timur. Meski memiliki nama maupun prosesi yang sedikit berbeda, esensinya tetap sama, yakni mempererat hubungan masyarakat dengan Tuhan, alam, dan sesama nelayan.

Sejarah Petik Laut di Jawa Timur

Petik Laut merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat pesisir. Salah satu catatan sejarah paling lengkap berasal dari Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Menurut penelitian "Sejarah Perubahan Sosial Ritual Petik Laut Menjadi Ajang Pesta Rakyat Nelayan di Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi Tahun 1996-2020" oleh David Ardiyanto, ritual Petik Laut di Muncar telah diselenggarakan setidaknya sejak tahun 1901.

Pada masa awal, ritual Petik Laut masih dipimpin oleh seorang sesepuh atau dukun adat. Petik Laut dilaksanakan secara sederhana sebagai bagian dari tradisi masyarakat nelayan.

Seiring perkembangan waktu, tradisi tersebut terus bertahan meski mengalami berbagai perubahan. Unsur-unsur keagamaan Islam mulai masuk dalam prosesi tanpa menghilangkan identitas budaya lokal yang telah mengakar di masyarakat.

Legenda Sayyid Yusuf dan Awal Mula Petik Laut

Salah satu kisah yang paling dikenal mengenai asal-usul Petik Laut berkaitan dengan tokoh yang dihormati masyarakat Muncar, yakni Sayyid Yusuf atau Syekh Sayyid Yusuf.

Berdasarkan penelitian Eko Setiawan (2016) serta penelitian Nurmalasari (2023), diceritakan pada masa lalu wilayah Muncar pernah mengalami paceklik ikan yang menyebabkan kehidupan nelayan sangat sulit. Selain hasil tangkapan yang menurun drastis, banyak nelayan dikabarkan meninggal akibat ganasnya ombak laut.

Melihat kondisi tersebut, Sayyid Yusuf mengajak masyarakat menggelar ritual persembahan dengan membawa kepala kambing kendit, pancing emas, serta pisang mentah. Setelah ritual dilakukan, hasil tangkapan ikan kembali melimpah dan musibah yang melanda masyarakat berangsur hilang.

Peristiwa itulah yang kemudian diyakini menjadi awal mula tradisi Petik Laut. Sejak saat itu, masyarakat Muncar melaksanakan ritual tersebut setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur, sekaligus harapan agar hasil laut tetap melimpah dan para nelayan terhindar dari marabahaya.

Tradisi yang Terus Berkembang Mengikuti Zaman

Petik Laut bukanlah tradisi yang berhenti pada satu masa. Tradisi ini mengalami perkembangan panjang dan menjadi hasil akulturasi berbagai budaya yang pernah hidup di Banyuwangi. Pada awalnya, Petik Laut dipengaruhi kepercayaan animisme dan dinamisme yang berkembang di masyarakat pesisir.

Seiring perjalanan sejarah, tradisi tersebut kemudian menyerap unsur budaya Jawa, pengaruh Hindu-Buddha pada masa Kerajaan Blambangan, hingga ajaran Islam yang dibawa para ulama. Pengaruh budaya Hindu-Blambangan masih terlihat dari hadirnya Tari Gandrung dalam prosesi Petik Laut.

Sementara itu, pengaruh Islam tampak dari adanya kegiatan tahlil, pembacaan surat Yasin, khataman Al-Qur'an, serta doa bersama sebelum pelarungan sesaji dilakukan. Perpaduan tersebut membuat Petik Laut tetap lestari tanpa kehilangan identitas budaya masyarakat pesisir.

Mengapa Petik Laut Dilaksanakan pada Muharram?

Pelaksanaan Petik Laut hampir selalu berkaitan dengan bulan Muharram atau bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Masyarakat nelayan biasanya menyelenggarakan Petik Laut pada tanggal 15 Muharram atau saat bulan purnama.

Waktu tersebut dipilih karena kondisi air laut sedang pasang, sehingga sebagian besar nelayan tidak melaut. Kesempatan itu dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul, berdoa bersama, sekaligus melaksanakan seluruh rangkaian ritual adat.

Selain mempertimbangkan kondisi alam, bulan Suro juga memiliki makna khusus dalam tradisi masyarakat Jawa. Bulan ini dipandang sebagai waktu yang tepat untuk melakukan doa, selamatan, dan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi sekaligus harapan memperoleh keselamatan pada tahun yang akan datang.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads