Budaya nongkrong dan tren work from cafe disebut mengubah pola konsumsi masyarakat Jawa Timur. Riset Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul mengungkap 56% warga Jatim kini lebih sering mengonsumsi makanan dan minuman olahan di kafe, kedai hingga warung.
Temuan tersebut berasal dari riset terhadap 437 responden di Jawa Timur yang dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pola Hidup Sehat dan Perilaku Konsumsi Masyarakat Jawa Timur.
Sekretaris Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul Nuryadi mengatakan, minuman yang paling banyak dikonsumsi responden adalah teh dan kopi. Menurutnya, menjamurnya kafe dan ruang nongkrong membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fenomena ini sebenarnya baik dari sisi ekonomi karena mendorong tumbuhnya usaha. Namun, di sisi lain kita juga melihat tempat-tempat tersebut menjadi lokasi konsumsi gula yang cukup tinggi. Tantangannya bagaimana ekonomi tetap tumbuh, tetapi masyarakat juga tetap sehat," ujar Nuryadi, Rabu (1/7/2026).
Riset tersebut juga menemukan 41,2% responden mengonsumsi makanan dan minuman manis karena menyukai rasanya, 23,1% mengonsumsinya untuk menambah energi, dan 14,9% karena faktor budaya maupun kebiasaan.
Meski demikian, Nuryadi menyebut mayoritas masyarakat sebenarnya telah memahami pentingnya pola hidup sehat. Persoalannya, masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dengan praktik sehari-hari.
"Gap terbesar ada pada niat dan eksekusi. Mereka tahu pentingnya hidup sehat, tetapi terkendala konsistensi, keterbatasan waktu, biaya, serta lingkungan sosial yang belum mendukung," tuturnya.
Dalam riset tersebut, responden juga menyampaikan harapan kepada pemerintah. Sebanyak 33% menginginkan edukasi dan kampanye hidup sehat diperkuat, 20,8% meminta penambahan fasilitas olahraga publik, serta kemudahan akses terhadap pangan sehat.
Lebih lanjut, Koordinator Litbang Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur Wiwik Winarsih menilai, hasil penelitian tersebut memotret tantangan nyata dalam mengubah perilaku hidup sehat masyarakat. Menurutnya, temuan itu dapat menjadi bahan edukasi sekaligus dasar penyusunan kebijakan.
"Saya yakin hasil penelitian ini bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat sehingga mereka tahu di titik mana harus mulai memperbaiki pola hidupnya," kata Wiwik.
Ia mengingatkan penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi hingga penyakit ginjal kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda.
"Kita menghadapi beban ganda, mulai stunting, obesitas hingga kekurangan zat gizi mikro. Karena itu penanganannya harus dilakukan secara bersama-sama," tegasnya.
Wiwik menambahkan, pemerintah sebenarnya telah memiliki pedoman gizi seimbang. Namun, tantangan terbesar saat ini adalah mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat yang sudah terbentuk sejak lama, termasuk tingginya konsumsi makanan dan minuman berpemanis.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan hasil riset tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kajian akademis, tetapi menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan yang sesuai dengan kondisi di lapangan.
"Kita ingin riset ini bukan menjadi produk yang hanya disusun secara teknokratik, tetapi juga memperhatikan realitas di lapangan. Karena itu kita libatkan pelaku usaha, komunitas, akademisi, hingga masyarakat agar kebijakan yang lahir benar-benar implementatif," tutur Emil.
Menurut Emil, tantangan saat ini termasuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan kesehatan masyarakat.
"Kita harus mencari titik temu antara pertumbuhan ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat. Tidak ada solusi yang bisa sekadar disalin dari negara lain karena kita juga harus memperhatikan kearifan lokal," pungkasnya.
(auh/hil)
