Teks Khutbah Jumat Bulan Muharram 2026 Singkat dan Menyentuh

Teks Khutbah Jumat Bulan Muharram 2026 Singkat dan Menyentuh

Irma Budiarti - detikJatim
Kamis, 02 Jul 2026 19:00 WIB
Ilustrasi ibadah Jumat di masjid.
Ilustrasi ibadah Jumat di masjid. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Selain mengangkat keutamaan Muharram sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, materi khutbah juga dapat dikemas dengan tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehingga lebih mudah dipahami dan diamalkan oleh jamaah.

Berikut tiga contoh teks khutbah Jumat Muharram 2026 dengan tema yang berbeda, mulai dari semangat hijrah menuju kepedulian sosial, spirit Muharram dalam menghadapi era modern, hingga pentingnya menguatkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kumpulan Teks Khutbah Jumat Muharram

Berikut contoh teks khutbah Jumat Muharram 2026 yang mengangkat pesan tentang hijrah, kepedulian sosial, pemanfaatan teknologi secara bijak, serta penguatan nilai kemanusiaan sesuai ajaran Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Khutbah Jumat: Muharram, Bulan Hijrah Menuju Kepedulian Sosial

Khutbah I

الْـحَمْدُ لِلّٰهِ، الْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ الشُّهُوْرَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَخَصَّ مِنْهَا أَشْهُرًا مُبَارَكَاتٍ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ تَعَالَىٰ: اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ

ADVERTISEMENT

Jamaah Jumat rahimakumullah, Segala puji dan syukur, marilah senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan semesta alam, yang telah melimpahkan kepada kita nikmat yang tak terhingga.

Shalawat dan salam marilah senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw, suri teladan sepanjang zaman. Begitu juga kepada keluarga beliau, para sahabat, tabi'in, dan para ulama yang terus meniti jalan risalah dan menebarkan cahaya dakwah hingga hari ini.

Jamaah Jumat rahimakumullah, Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada hadirin sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya takwa.

Takwa yang diwujudkan dalam sikap istiqamah dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jangan sampai kita wafat dalam keadaan berpaling dari Allah, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim." (QS. Ali 'Imran: 102)

Jamaah Jumat rahimakumullah, Pada hari yang mulia ini, kita berkumpul dalam majelis Jum'at di bulan yang juga dimuliakan Allah, yaitu bulan Muharram, bulan pertama dalam tahun Hijriyah, bulan yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai Syahrullah al-Muharram, Bulan Allah Muharram.

Dalam kitab Dhiya'ul Budur fi Fadha'ils Syuhur karya ulama nusantara, Surakarta, asy-Syaikh Muhammad Yasin al-Kaumani al-Jawi, menantu dari KH. Manshur Popongan Klaten, menyebutkan bahwa Muharram termasuk dalam al-asyhur al-hurum, yaitu bulan-bulan haram yang dimuliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 36:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi di antaranya empat bulan haram...."

Bulan-bulan ini bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah tanda-tanda kehormatan, di mana kita diperintahkan untuk menghormatinya dengan memperbanyak amal dan meninggalkan segala dosa serta kezaliman.

Jamaah Jumat rahimakumullah, Muharram juga mengandung peristiwa agung: hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah yang bukan sekadar perpindahan tempat, tapi perubahan paradigma, dari keterasingan menuju kejayaan Islam, dari penindasan menuju kebebasan, dari keterpurukan menuju kebangkitan.

Oleh karena itu, setiap datangnya bulan Muharram, kita tidak cukup hanya mengganti kalender atau menyelenggarakan doa awal tahun, tetapi juga harus membarui niat, tekad, dan langkah dalam kehidupan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram."

Adapun puncak dari amalan Muharram adalah puasa pada tanggal 10, dikenal sebagai hari Asyura', yang dapat menghapus dosa setahun lalu, sebagaimana disebut dalam hadits sahih:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: "Puasa hari Asyura', aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu."

Dalam kitab Dhiya'ul Budur juga disebutkan amalan lain yang sangat dianjurkan pada hari Asyura', di antaranya adalah [1] memberi nafkah lebih pada keluarga, [2] menyantuni anak yatim dan fakir miskin, [3] memperbanyak istighfar dan amal kebajikan, [4] mandi sunnah, berhias, dan bersedekah, [5] membaca surat Al-Ikhlash 1.000 kali, sebagai bentuk dzikir dan harapan akan keselamatan.

Semua itu menunjukkan betapa bulan ini adalah ladang amal dan ladang keberkahan, jika kita mau memanfaatkannya dengan baik. Jamaah Jumat rahimakumullah, Namun, bulan ini tidak hanya tentang ibadah spiritual individual seperti puasa dan zikir.

Dalam kitab tersebut disebutkan, hari Asyura atau tanggal 10 Muharram kemarin bukan hanya hari dianjurkan untuk berpuasa, tetapi juga hari untuk memperluas nafkah kepada keluarga dan memberi kepada kaum miskin. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

Artinya: "Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya di hari 'Āsyūrā', maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun." (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Mas'ud)

Jika kepada keluarga saja kita dianjurkan untuk memberi lebih, maka bagaimana pula kepada tetangga kita yang kelaparan, fakir miskin yang tidak sanggup membeli beras, atau anak yatim yang bahkan tidak tahu hari itu hari besar?

Jamaah Jumat rahimakumullah, Bulan Muharram mengajarkan kita nilai empati dan solidaritas. Di tengah situasi kesenjangan sosial dan ekonomi yang makin terasa, harga bahan pokok naik, pekerjaan sulit didapat, sebagian masyarakat hidup dalam kemiskinan, maka bulan mulia ini adalah momentum untuk menghidupkan kembali jiwa sosial Islam.

Islam bukan hanya ibadah vertikal, tetapi juga mengasihi sesama, menolong yang lemah, menyantuni yang kekurangan. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya: "Bukanlah orang yang beriman, seseorang yang kenyang sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya." (HR. al-Hakim)

Muharram bukan sekadar bulan berpuasa, tapi juga bulan solidaritas sosial. Maka marilah kita berupaya untuk berbagi makanan, menyalurkan zakat atau sedekah untuk anak-anak yatim dan kaum miskin, mengadakan program sosial di kampung, masjid, atau komunitas kita, dan yang paling utama adalah membiasakan peduli di sepanjang tahun, bukan hanya di bulan-bulan tertentu.

Karena keberkahan hijrah tidak akan lengkap tanpa hijrah sosial, dari mementingkan diri menuju kepedulian, dari sikap individualis menuju gotong royong, dari kecukupan pribadi menuju keadilan sosial.

Maka, marilah kita jadikan Muharram ini sebagai momentum hijrah dan perbaikan diri, hijrah dari maksiat ke taat, dari lalai ke sadar, dari benci ke cinta, dari mementingkan diri sendiri menuju kepedulian sosial dengan peduli dan membantu kepada sesama.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

الْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَفَاءَ عَلَيْنَا نِعْمَتَهُ، وَبَصَّرَنَا بِهُدَاهُ، وَجَعَلَ لَنَا فِي السَّنَةِ الْهِجْرِيَّةِ مَوَاعِظَ وَعِبَرًا، لِنُصْلِحَ بِهَا أَنْفُسَنَا وَنَرْتَقِيَ بِهَا إِلَىٰ مَرَاتِبِ التَّقْوَىٰ وَالصَّلَاحِ، نَحْمَدُهُ تَعَالَىٰ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ وَافْعَلُوْا اْلخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْا عَنِ السَّيِّأتِ إنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يصَلُّوْنَ عَلى النَّبِيّ يآأيُّهَا الَّذِيْنَ أمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا فَأجِيْبُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ إلى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلىٰ مَنْ بِهِ اللهُ هَدَاكُمْ . اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبارِكْ عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلى ألِه وَصَحْبهِ أجمَعِين وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْن وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأرْحَمَ الرَّاِحمِيْنَ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتْ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتْ اَلْأحْيَاِء ِمنْهُمْ وَاْلأمْوَاتْ، إنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتْ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدْ، اَللّهُمَّ أصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، اَللّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، اَللّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينْ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْن. وَاجْعَلْ بَلْدَتَنَا إنْدُوْنِسِيَا هٰذِهِ بَلْدَةً طَيِّبَةً َتجْرِيْ فِيْهَا أحْكَامُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ يَاحَيُّ ياٰقَيُّوْمُ ياإلۤهَنَا وإلۤهَ كُلِّ شَيْءٍ هٰذَا حَالُناَ يَااللهُ لاَيخْفىٰ عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، فِي بِلَادِنَا هٰذِهِ وَفِي بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. وَاجْعَلْ بَلَدَنَا هٰذَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَّرْتَ لَهُ الْخَيْرَ وَالرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِإخْوَاِنَنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَ بِاْلإْيمَانِ وَلَاتَجْعَلْ فى قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أمَنُوْا رَبنَّاَ إنَّكَ رَءُوْفُ الرَّحِيْمِ عِبَادَ الله، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللّٰهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

2. Spirit Muharran untuk Menghadapi Era Modern

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ. أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانَ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ أَوَّلاً بِتَقْوَى اللهِ تَعَالىَ وَطَاعَتِهِ بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يَرْجُوْنَ رَحْمَتَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Ketakwaan menjadi kunci utama kita dalam menjalani kehidupan agar senantiasa berada di jalan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Oleh karena itu mari kita perkuat ketakwaan kita sebagai bekal terbaik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ

Artinya: "Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197).

Dengan bekal takwa yang kuat, Allah pasti akan menjaga kita, senantiasa memberi solusi atas setiap permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan, dan senantiasa memberi nikmat dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ ۝٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ

Artinya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga." (QS At-Thalaq: 1-2).

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Pada kesempatan kali ini, mari kita memaknai kehadiran bulan Muharram dengan mengambil hikmahnya sebagai modal untuk menghadapi kehidupan yang semakin modern dan penuh turbulensi serta disrupsi.

Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah Jumat. Bagi kita umat Islam, Muharram bukan sekadar pergantian waktu, pergantian masa, dan pergantian angka tahun di kalender Hijriah.

Muharram adalah momentum yang penuh catatan sejarah sekaligus pengingat peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Kala itu, Nabi dan sahabatnya menempuh perjalanan ratusan kilometer membelah gurun pasir yang panas demi mempertahankan akidah.

Namun, di balik hijrah fisik tersebut, mereka membawa misi mulia, yakni tekad untuk mengubah kehidupan dari kejahiliahan menuju dunia yang terang benderang. Spirit hijrah ini patut kita adopsi di tengah tantangan era digital yang terus berubah sangat cepat saat ini.

Kita tidak lagi diminta untuk memanggul senjata atau berpindah kota. Hijrah kita hari ini adalah hijrah spiritual, hijrah mental-intelektual, serta hijrah karakter dan moral.

Mari kita renungkan sejenak, di tengah derasnya arus peradaban modern dan kecanggihan era digital, masihkah spirit hijrah itu hidup di dalam diri kita? Apakah perayaan datangnya Muharram sebatas rutinitas seremonial yang kehilangan esensinya? Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hadits:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Artinya: "Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari).

Hadits ini sangat kontekstual dengan kondisi era modern dan digital saat ini, di mana lidah dan tangan kita telah menjelma menjadi tulisan di status dan kolom komentar serta tombol share di media sosial. Spirit Muharram di era digital berarti kita harus berhijrah dari jempol yang beracun menuju narasi yang lebih positif.

Hijrah dari menyebarkan gosip dan hoaks, menuju prinsip tabayyun atau memvalidasi setiap informasi sebelum disebarkan. Berapa banyak permusuhan terjadi di dunia nyata hanya karena kita gagal berhijrah di dunia maya?

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Spirit Muharram juga harus kita bawa untuk memerangi masalah-masalah psikologis yang muncul di era modern. Di antaranya adalah penyakit psikologis bernama FOMO atau Fear of Missing Out.

Gangguan psikologis ini berupa rasa takut tertinggal tren, takut tidak diakui, dan cemas melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di media sosial yang kemudian menjebak kita dalam penyakit hati seperti kufur nikmat, iri, dan dengki.

Oleh karena itu, di sinilah spirit Muharram hadir sebagai obat. Hijrah di era modern berarti hijrah dari mentalitas pamer menuju sikap qana'ah atau merasa cukup. Kita harus berhenti mengejar validasi dari followers, dan mulai fokus mengejar rida Allah swt.

Hijrah di era modern berarti hijrah dari disrupsi fokus menuju istiqamah. Berapa banyak waktu kita yang habis untuk menatap layar HP berjam-jam tanpa manfaat. sementara Al-Qur'an berdebu di sudut kamar?

Spirit Muharram menuntut kita untuk mendisiplinkan waktu, membatasi penggunaan HP, dan mengalokasikannya untuk investasi akhirat. Spirit hijrah di bulan Muharram juga harus kita wujudkan dalam setiap aktivitas kerja.

Bagi para pedagang, hijrah di era modern berarti bergeser dari sekadar mengejar omzet dan rating bintang lima, menuju keberkahan yang autentik. Hijrahnya pedagang hari ini adalah dengan tidak memanipulasi deskripsi produk di e-commerce, tidak membeli ulasan palsu (fake review), dan tidak menggunakan cara curang dalam iklan digital.

Spirit Muharram harus menjadikan para pedagang berniaga dengan jujur, karena layar ponsel boleh menyembunyikan cacat barang, tetapi mata Allah tidak pernah luput melihatnya.

Bagi para karyawan, spirit Muharram adalah mengubah diri dari mentalitas asal bapak senang atau sekadar menggugurkan kewajiban absen, menuju etos kerja Ihsan, yakni bekerja dengan performa terbaik karena sadar bahwa Allah selalu mengawasi.

Spirit Muharram menuntun para pekerja dan karyawan untuk memanfaatkan fasilitas kantor dan jam kerja dengan amanah, bukan malah menyia-nyiakan waktu untuk urusan pribadi di dunia maya.

Begitu juga, profesi-profesi lainnya harus menjadikan Muharram sebagai penataan kembali arah dan niat. Bagi para guru dan tenaga pendidik, tantangan dalam mendidik generasi Alpha dan Z di era digital sangat besar.

Guru harus mampu mengajar dan mendidik murid sesuai dengan zamannya, melek teknologi, sekaligus mengedepankan pendidikan moral dan karakter murid. Pendidik tidak hanya mentransfer ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga mentransfer nilai-nilai akhlak (transfer of values) melalui keteladanan.

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Kita tidak boleh anti-teknologi karena Islam adalah agama yang adaptif terhadap perubahan zaman. Kita harus menguasai teknologi, bukan dikuasai olehnya. Teknologi adalah wasilah (perantara), bukan ghayyah (tujuan).

Mari menjadi pejuang hijrah modern yang menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menyebarkan Islam yang ramah, santun, dan membawa kedamaian bagi semesta alam. Inilah Islam Rahmatan lil Alamin yang merupakan misi utama Nabi Muhammad dan tertuang dalam Al-Qur'an:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

Artinya: "Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya: 107)

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Muharram adalah tombol reset spiritual kita. Jika selama setahun terakhir kita merasa tersesat dalam labirin algoritma duniawi yang melalaikan, maka inilah momentum terbaik untuk "pulang".

Mari kita jadikan tahun baru Hijriah ini sebagai titik balik untuk berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemalasan menuju ketaatan, dan dari akhlak yang buruk menuju akhlakul karimah, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Semoga Allah senantiasa mengarahkan dan melindungi kita dari berbagai model perubahan zaman dan senantiasa menjadikan kita orang-orang yang mampu hijrah ke arah yang lebih baik. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

3. Khutbah Jumat: Menguatkan Sisi Kemanusiaan di Bulan Muharram

Khutbah I

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِن سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah Menjadi sebuah kewajiban bagi khatib untuk berwasiat takwa saat menyampaikan khutbahnya. Oleh karena itu mari kita senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa dan berupaya sekuat jiwa dan raga untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dengan ketakwaan yang kuat dalam diri kita, maka insyaAllah kita mampu beragama dan mengaplikasikan nilai-nilai dalam agama sebagai wujud ibadah karena memang misi utama kita hidup di dunia adalah untuk beribadah. Aplikasi nilai-nilai agama tersebut bis akita lakukan dengan saling menghormati sesama manusia karena derajat kemanusiaan lebih tinggi dibanding keberagamaan.

Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan:

النَّاسُ صِنْفَانِ: إِمَّا أَخٌ لَكَ فِي الدِّينِ، أَوْ نَظِيرٌ لَكَ فِي الْخَلْقِ

Artinya: "Manusia itu ada dua kelompok, jika dia bukan saudaramu dalam seagama, maka dia adalah saudaramu dalam kemanusiaan."

Kalimat bijak ini menggambarkan bahwa agama tidak bertentangan dengan persaudaraan dan kemanusiaan. Bahkan, agama adalah esensi dari kemanusiaan itu sendiri. Yang bertentangan dengan kemanusiaan justru adalah keberagamaan sebagian orang yang memilah keberagamaan menurut kepentingannya sendiri.

Mereka menjadikan agama sebagai legitimasi. Kita perlu menyadari bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, kita akan selalu hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda agama, suku, ras, maupun budaya.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk hidup dengan akhlak mulia. Salah satu prinsip luhur Islam adalah menghargai kemanusiaan, bahkan terhadap orang yang berbeda keyakinan dengan kita.

Kita juga harus memahami bahwa Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil 'alamin), bukan hanya untuk Islam, tetapi untuk seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Dalam Al-Qur'an surat Al-Anbiya ayat 107, Allah SWT berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ۝١٠٧

Artinya: "Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Islam tidak hanya menekankan hubungan vertikal dengan Allah, tapi juga hubungan horizontal dengan saling menyayangi manusia. Oleh karena itu jangan sampai kita menguatkan ibadah kita kepada Allah namun di satu sisi kita melemahkan hubungan harmonis dengan sesama manusia. Rasulullah SAW juga telah mengingatkan dalam sabdanya:

مَنْ لَا يَرْحَمِ النَّاسَ لَا يَرْحَمْهُ اللهُ

Artinya: "Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Tirmidzi)

Hal ini menunjukkan bahwa memanusiakan manusia, siapapun dia, adalah syarat agar kita mendapatkan kasih sayang Allah. Maka, jangan pernah kita merendahkan orang lain hanya karena mereka berbeda agama.

Jangan pula kita menutup pintu kebaikan hanya karena perbedaan keyakinan. Dalam Al-Qur'an sudah ditegaskan bahwa tidak ada pemaksaan dalam agama:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ

Artinya, "Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. al-Baqarah: 256)

Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak, cinta kasih, dan kemanusiaan. Dalam dunia yang penuh konflik dan perbedaan ini, kita harus menjadi duta kedamaian.

Jika seseorang bukan saudara kita dalam agama, maka dia tetap saudara kita dalam kemanusiaan. Mari kita tebarkan kasih, saling menghormati, menolong tanpa membedakan, dan menjaga persaudaraan sesama insan. Rasulullah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلاَ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلاَ لاَ فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلاَلِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلاَ لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلاَ أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلاَّ بِالتَّقْوَى. رواه أحمد والبيهقي

Artinya: "Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap orang yang berkulit hitam, tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan takwanya.." (HR. Ahmad dan al-Baihaqi).

Oleh karena itu bulan Muharram saat ini menjadi momentum tepat bagi kita untuk menguatkan rasa kemanusiaan yang mulai tergerus dengan modernisasi zaman. Saat ini manusia sudah mulai mengarah kepada kehidupan yang egois, materialistis, dan dehumanis.

Muharram mengajak kita kembali pada fitrah: memanusiakan manusia yakni menghargai sesama tanpa memandang ras, suku, status, atau agama. Sudah seharusnya kita menolong mereka yang lemah, menebar kasih sayang dan kepedulian, bukan kebencian dan permusuhan.

Muharram adalah waktu yang tepat untuk merefleksi sejauh mana kita memuliakan sesama manusia dalam sikap, tindakan, maupun sistem sosial yang kita bangun. Rasulullah telah mengajarkan kita untuk memperkuat kemanusiaan dengan menguatkan kepedulian dengan saling berbagi seperti melalui santunan.

Pada bulan ini pun Islam melarang melakukan peperangan. Kedua perintah ini menjadi pegangan bagi kita umat Islam untuk menguatkan kepedulian dan kemanusiaan dengan menghindari menyakiti orang lain di bulan Muharram dan bulan-bulan selanjutnya.

Jamaah sidang Jumat yang dirahmati Allah Akhirnya, mari kita maksimalkan bulan Muharram sebagai bulan yang mulia ini dengan ibadah-ibadah yang mulia. Kemuliaan kita sebagai umat beragama bisa dilihat dari sikap kita memuliakan orang lain.

Semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah dalam menjalani kehidupan ini dan menjadi umat yang mampu memberi manfaat baik kepada orang lain. Amin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads