Kisah Alumnus Unair Banyuwangi yang Sukses Buka Klinik Hewan hingga Brunei

Kisah Alumnus Unair Banyuwangi yang Sukses Buka Klinik Hewan hingga Brunei

Eka Rimawati - detikJatim
Senin, 06 Jul 2026 20:05 WIB
drh, Anggun Mochammad Yusuf saat operasi Cecar pada seekor sapi
drh, Anggun Mochammad Yusuf saat operasi Cecar pada seekor sapi (Foto: Eka Rimawati/detikJatim)
Banyuwangi -

Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi telah meluluskan ratusan sarjana dari 5 program studi Kedokteran Hewan, Kesehatan Masyarakat, Akuakultur dan Kedokteran. Salah satunya, Anggun Mochammad Yusuf, alumnus Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) menjadi satu-satunya dokter hewan di Banyuwangi yang mampu melakukan caesar hingga membangun jejaring klinik hewan kelas internasional.

Anggun, lulus pada tahun 2019 saat FIKKIA masih berstatus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) tidak menyurutkan tekad untuk menimba Ilmu di Unair Banyuwangi. Dengan peralatan terbatas dan sesekali harus praktikum ke kampus pusat di Surabaya, Anggun terbukti mampu menjadi dokter hewan yang dapat memberikan pertolongan optimal pada masyarakat bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi dokter muda dan perawat di Banyuwangi.

"Ini memang cita-cita saya, menjadi dokter hewan sekaligus membuka bisnis pribadi sehingga tidak terikat waktu. Dan bersyukur bisa membuka lapangan pekerjaan bagi dokter hewan muda untuk membantu di klinik hewan saya serta sejumlah perawat," kata Anggun, Senin (29/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semasa kuliah di FIKKIA Unair, Anggun sempat mendapatkan pengetahuan terkait ilmu bisnis dan manajemen dalam satu semester, hal itu menjadi bekal baginya untuk memanfaatkan profesi dokter hewan dalam bisnis kesehatan yang berbasis pada layanan kesehatan hewan. Setelah menimba ilmu di Brunei Darussalam selama satu tahun, Anggun kembali ke tanah air dan membuka klinik hewan bernama Amy Animal Care di Muncar. Ia pun berinovasi dengan menerima layanan rawat inap bagi anak sapi atau pedet.

"Saat membuka klinik saya harus berinovasi, kalau obat dan alat bisa dibeli, tapi yang tidak bisa adalah skill. Saya satu-satunya klinik yang bisa melayani Cecar sapi dan membuka layanan rawat inap bagi pedet," tegas Anggun.

ADVERTISEMENT

Anggun tidak menyangka, layanan itu banyak peminat. Dalam sebulan ada lebih dari 1 sapi yang harus ia cecar, sementara untuk rawat inap setiap bulan tidak kurang dari 6 ekor pedet harus dirawat inap. Rata-rata pedet yang menjalani pengobatan dengan sistem rawat inap memiliki masalah karena prematur, hernia atau mengalami gangguan pada umbilikus atau pusarnya.

"Saya sendiri tidak menyangka bisa ramai peminat, ternyata petani selama ini kerap dihadapkan pada dilema saat anak sapinya sakit usai dilahirkan. Bersyukur saya bisa menyelamatkan mereka, setiap bulan bisa sampai 6 ekor anak sapi yang rawat inap," terang Anggun lebih lanjut.

"Soal tarif sangat terjangkau by simtom kalau operasi umbilikus Rp 1,5 juta rupiah belum rawat inap, obat obatan infus dan lain lain," tambahnya.

Tak cukup sampai di situ, untuk membuktikan betapa bermanfaat ilmu yang diperoleh, ia pun ekspansi bisnis dengan membuka klinik hewan di Brunei Darussalam. Ekspansi bisnis itu juga tergolong sukses. Ia pun harus pulang pergi Indonesia-Brunei Darussalam setiap 3 bulan sekali.

Anggun mengaku awalnya sempat pesimis saat membuka klinik hewan di Kecamatan Muncar, yang dikenal sebagai kecamatan pesisir dan jauh dari kata perkotaan. Namun, ternyata animo masyarakat sangat positif, mereka yang cinta hewan seperti kucing dan anjing tak pernah surut keluar masuk kliniknya untuk berbagai layanan mulai dari suntik rabies, stiril, suntik anti virus, memandikan hingga perawatan operasi lain yang diperlukan.

Anggun berharap, kedokteran hewan Unair kian bertumbuh dan lulusannya pun kian inovatif membawa nama besar kampus dan Banyuwangi. Apalagi, perkembangan FIKKIA Unair yang telah meluluskan sarjana sarjana berkualitas.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengungkapkan, pemerintah Kabupaten Banyuwangi awalnya ingin menghadirkan Unair di Banyuwangi untuk memfasilitasi pelajar di Banyuwangi. Tapi, Ipuk bangga karena tidak sedikit pelajar dari luar daerah yang menuntut ilmu di Unair Banyuwangi.

Ipuk berharap, pelajar di FIKKIA Unair dapat menimba ilmu dengan baik sembari menikmati alam Banyuwangi. Serta lulusannya bisa mengabdikan ilmunya untuk Banyuwangi.

"Saya bangga dan bersyukur banyak pelajar luar kota sekolah disini, semoga ilmunya kian bermanfaat sembari belajar sembari menikmati alam banyuwangi dan mudah mudahan kedepan bisa mengabdi untuk Banyuwangi," ujar Ipuk.

Di sisi lain, untuk mengoptimalkan pendidikan dan fasilitas bagi seluruh mahasiswa yang menempuh pendidikan, UNARI akan membangun gedung baru dengan dukungan pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

Dekan FIKKIA Unair Rahadian Indarto Susilo, menyatakan komitmen pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Banyuwangi. Ia menyebutkan, sejak hadir di Banyuwangi pada tahun 2014, kualitas pendidikan di FIKKIA terus mengalami peningkatan.

"Sekarang kami sudah memiliki program studi kedokteran di Banyuwangi. Untuk terus meningkatkan kualitas tersebut, kami berencana membangun fasilitas gedung baru," katanya usai menerima dokumen PKKPR (Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang) dari Bupati Banyuwangi.




(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads