Saat Tunanetra Diajak Susur Sungai hingga Mendaki Gunung di Trawas

Saat Tunanetra Diajak Susur Sungai hingga Mendaki Gunung di Trawas

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 07 Jul 2026 15:45 WIB
Tunanetra diajak susur sungai hingga mendaki.
Tunanetra diajak susur sungai hingga mendaki/Foto: Istimewa
Surabaya -

Langkah penyandang tunanetra menaklukkan perjalanan di alam tentu tak mudah. Setiap pijakan di jalur berbatu hingga tepian sungai dibayangi rasa takut terpeleset, terjatuh, bahkan kehilangan arah.

Namun, tujuh tunanetra didampingi relawan dan Yayasan Urunan Kebaikan dari Surabaya tetap melangkah. Mereka mengikuti Adventurous Journey (AJ), sebuah petualangan yang dirancang untuk melatih keberanian, membangun kepercayaan diri, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang menghadapi tantangan.

Kegiatan tersebut berlangsung pada 4-7 Juli 2026 di kawasan Trawas, Mojokerto dan diikuti 25 anak binaan Yayasan Urunan Kebaikan berusia 14-21 tahun. Selain tujuh peserta tunanetra, peserta lainnya merupakan anak yatim dan duafa. Selama empat hari, mereka diajak menyusuri sungai, mendaki gunung, hingga mengenal budaya lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Yayasan Urunan Kebaikan Gusti Mohammad Hamdan mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar berpetualang. Program tersebut dirancang untuk membentuk karakter empati dan kepemimpinan peserta. AJ juga menjadi salah satu syarat bagi peserta untuk memperoleh penghargaan internasional The Duke of Edinburgh International Award.

ADVERTISEMENT

"Ada tujuh anak tunanetra yang ikut dalam AJ ini. Mereka melakukan susur sungai, naik gunung, dan juga jelajah budaya lokal," kata Gusti saat dihubungi detikJatim, Selasa (7/7/2026).

Setiap peserta tunanetra mendapat pendampingan khusus selama kegiatan. Satu relawan mendampingi satu peserta, sedangkan saat pendakian gunung jumlah pendamping ditambah menjadi dua orang demi memastikan keamanan.

Sebelum berangkat, mereka telah berlatih selama sekitar satu bulan. Mulai dari berjalan di medan miring, meningkatkan kebugaran fisik, hingga membiasakan diri menghadapi kondisi alam.

Menurut Gusti, tantangan terbesar yang dihadapi peserta tunanetra bukan sekadar jalur pendakian yang terjal, melainkan rasa takut yang muncul di setiap langkah.

"Setiap langkah mereka adalah ketakutan-ketakutan akan jatuh, terpeleset, terjungkal, dan lain-lain. Syukur ada relawan pendamping yang membantu mereka menghadapi tantangan alam. Kehadiran relawan mendatangkan rasa aman bagi tunanetra agar mereka tidak merasa takut atau merasa sendiri," ujarnya.

Selama menjelajah alam, peserta juga belajar mengenali lingkungan menggunakan indera lainnya.

"Relawan mengenalkan tekstur, aroma, dan suara alam pada tunanetra," tuturnya.

Saat jalur masih landai, relawan cukup mengarahkan langkah peserta. Namun ketika medan mulai menanjak dan berbahaya, pendamping harus menggandeng, mendeskripsikan kondisi jalur, bahkan menyangga tubuh peserta bila diperlukan.

"Kelihaian relawan sangat dibutuhkan di sini," imbuh Gusti.

Ia berharap, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri penyandang tunanetra untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi sebagian peserta, petualangan itu menjadi pengalaman pertama menjelajah alam. Namun tidak bagi Febriand Valentino. Mahasiswa Universitas Brawijaya itu sudah lebih dari lima kali mengikuti kegiatan serupa.

Bahkan, Febriand membuat konten bertajuk Blindventure yang membagikan pengalaman petualangannya sebagai penyandang tunanetra.

"Melalui AJ ini saya berharap menjadi contoh dan menginspirasi orang lain untuk break the limit. Jika saya yang tunanetra saja bisa, berarti yang lain juga bisa pastinya," kata Febriand.




(hil/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads