Deru mesin jahit terdengar nyaris tanpa henti dari sebuah rumah produksi songkok di Desa Pengangsalan, Kecamatan Kalitengah, Lamongan. Menjelang Ramadan 2026, tumpukan kain beludru hitam tersusun rapi di sudut ruangan, sementara para pekerja tampak fokus menyelesaikan pesanan yang terus berdatangan.
Momentum bulan suci membawa berkah tersendiri bagi para pengrajin songkok di desa tersebut. Permintaan penutup kepala khas muslim itu melonjak tajam hingga tiga kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa.
Jika sebelumnya produksi hanya berkisar 3.000 kodi per bulan, kini jumlah pesanan menembus hingga 9.000 kodi. Lonjakan pesanan itu membuat para pengrajin harus bekerja ekstra agar seluruh permintaan dapat terpenuhi tepat waktu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak pagi hingga dini hari, aktivitas produksi tak pernah benar-benar berhenti. Para pekerja bergantian mengoperasikan mesin jahit, memotong bahan, hingga merapikan bentuk songkok sebelum dikemas.
"Kami harus menambah tenaga lepas dan lembur agar semua pesanan bisa selesai tepat waktu sebelum Ramadhan," kata Ahmad Rohman, salah satu pengrajin songkok di Desa Pengangsalan saat berbincang dengan wartawan, Senin (16/2/2026) sekira pukul 11.30 WIB.
Meski permintaan meningkat drastis, Ahmad memastikan kualitas tetap menjadi prioritas utama. Ia mengaku masih menggunakan bahan beludru premium agar songkok nyaman dipakai, terutama untuk ibadah selama Ramadhan hingga Idul Fitri.
"Kami mengutamakan kenyamanan. Songkok ini dipakai untuk ibadah, jadi kualitas bahan harus tetap bagus," ujarnya.
Songkok produksi Desa Pengangsalan tidak hanya dipasarkan di Lamongan dan sekitarnya. Permintaan juga datang dari berbagai kota besar seperti Surabaya, Bandung, hingga Jakarta, bahkan mulai merambah pasar di luar Pulau Jawa.
Baca juga: 7 Tempat Membeli Oleh-oleh Haji di Surabaya |
Harga songkok yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 40.000 hingga Rp 100.000 per pcs, tergantung bahan serta tingkat kerumitan motif.
Desa Pengangsalan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra industri songkok terbesar di Lamongan. Lebih dari 80 persen warga setempat menggantungkan hidup dari kerajinan ini yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Selain meningkatkan produksi, Ramadan juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Banyak masyarakat dilibatkan sebagai tenaga tambahan, khususnya pada proses finishing, pengemasan, hingga distribusi.
Bagi para pengrajin, Ramadan bukan sekadar momen spiritual, tetapi juga menjadi musim panen rezeki yang dinanti setiap tahun. Deru mesin jahit yang terus berdenting menjadi penanda bahwa tradisi dan usaha kecil ini tetap hidup dan berkembang dari waktu ke waktu.
(irb/hil)
