Lebaran masih tiga pekan mendatang, namun jasa tukar uang sudah mulai menjamur di Kota Surabaya. Para penyedia jasa ini berjajar mulai dari Jalan Bubutan hingga Jalan Pahlawan. Bahkan, mereka sudah mulai menawarkan jasa dari hari pertama Ramadan.
Pantauan detikJatim, jasa penukaran uang memang belum seberapa ramai peminat. Mengingat Lebaran masih tiga pekan lagi dan THR para pekerja juga rata-rata belum cair. Meski begitu, para pelaku jasa penukaran uang ini sesekali sudah menerima pembeli, meski sebagian besar masih sebatas bertanya-tanya.
Salah satu penyedia jasa penukaran uang, Saiful mengaku sudah membuka lapak sejak hari pertama Ramadan. Ia menyediakan berbagai pecahan uang. Mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 20.000
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling banyak dicari biasanya Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp 20.000," ujar Saiful saat ditemui detikJatim, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, saat ini suasana masih cenderung sepi. Mayoritas yang datang hanya untuk menanyakan tarif penukaran.
"Belum ramai, orang masih tanya-tanya saja. Kadang ada satu dua orang yang mulai tukar. Saya ambil 13 persen per Rp 100 ribu. Tergantung orangnya juga. Kadang ada yang masih nawar," katanya.
Saiful menjelaskan, besaran jasa penukaran saat ini berkisar 13 hingga 15 persen per Rp 100 ribu. Namun di lapaknya, ia mematok 13 persen. Artinya, untuk menukar uang baru senilai Rp 1 juta, pembeli menambah sekitar Rp 130 ribu sebagai biaya jasa.
Lonjakan permintaan biasanya mulai terasa pada H-10 Lebaran atau yang dalam istilah Jawa dikenal sebagai malam selikuran. Pada periode tersebut, tarif jasa penukaran biasanya ikut naik.
"Tahun lalu sempat lebih mahal, bisa sampai 20 sampai 30 persen. Tapi sekarang masih awal, jadi belum terlalu mahal," tegasnya.
Di balik lapak-lapak penukaran uang tersebut, terdapat jaringan pengepul yang menyuplai uang pecahan baru. Rata-rata pengepul yang memasok pedagang di kawasan Bubutan hingga Pahlawan berasal dari Sidoarjo. Mereka biasanya mengantarkan langsung uang pecahan ke lapak-lapak yang sudah menjadi langganan setiap tahunnya.
Para pengepul ini umumnya bergerak secara musiman, khususnya menjelang Ramadan hingga Lebaran. Mereka mendapatkan uang pecahan baru dari berbagai sumber resmi, seperti penukaran dalam jumlah besar di perbankan, termasuk melalui layanan penukaran yang dibuka oleh Bank Indonesia, kemudian mendistribusikannya kembali ke pedagang eceran dengan margin tertentu. Harga yang dipatok pengepul inilah yang kemudian memengaruhi besaran tarif jasa di tingkat lapak.
Hal senada disampaikan Aditya, penyedia jasa penukaran uang lainnya yang berjualan bersama istrinya. Menurutnya, harga jasa penukaran sangat bergantung pada harga dari pengepul.
"Kalau dari pengepulnya mahal, ya kita ikut naikkan harga mbak. Tergantung dari sananya (pengepulnya)," ujarnya.
Aditya mengatakan, hingga kini pembeli belum terlalu banyak. Namun tetap ada pemasukan meski belum signifikan.
"Kalau masih begini ya buat makan, beli rokok, masih alhamdulillah. Rp 50 ribu, Rp 100 ribu masih ada. Namanya usaha kadang ada (pembeli) kadang nggak ada," katanya.
Ia memperkirakan jumlah penukar akan meningkat setelah THR mulai cair, biasanya sekitar pertengahan Ramadan.
Meski belum seramai tahun-tahun sebelumnya di periode yang sama, para penyedia jasa tetap optimistis permintaan akan meningkat mendekati Hari Raya, terutama untuk pecahan kecil Rp 1.000 hingga Rp 20.000 yang lazim dibagikan kepada anak-anak dan sanak saudara saat Lebaran tiba.
(auh/hil)